Potret Pengelolaan CA. Watangan Puger dalam Penilaian METT 2026
Jember – Lanskap pesisir selatan Jawa Timur menyimpan fragmen penting keanekaragaman hayati yang tak selalu tampak di permukaan. Di antara vegetasi pantai, semak belukar, dan dinamika ekosistem yang terus bergerak, Cagar Alam (CA) Watangan Puger berdiri sebagai ruang perlindungan yang sunyi, namun sarat makna bagi upaya konservasi.
Pada Kamis, 21 Mei 2026, upaya membaca kondisi pengelolaan kawasan ini dilakukan melalui Penilaian Efektivitas Pengelolaan Kawasan Konservasi (Management Effectiveness Tracking Tool/METT). Kegiatan ini dilaksanakan di Desa Puger Kulon, Kecamatan Puger, Kabupaten Jember, dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan lintas sektor.
Forum tersebut menghadirkan unsur Balai Besar KSDA Jawa Timur, Cabang Dinas Kehutanan wilayah Jember, aparat kecamatan, TNI-Polri, pemerintah desa, hingga pengelola lapangan dari Resor KSDA. Pertemuan ini bukan sekadar agenda administratif, melainkan ruang kolaboratif untuk menyamakan persepsi dan menguji realitas pengelolaan kawasan konservasi secara terbuka.
Menggunakan METT versi 4.4, penilaian tahun ini menandai pendekatan yang lebih komprehensif dalam menilai efektivitas pengelolaan. Delapan indikator baru turut dimasukkan, mencerminkan perkembangan paradigma konservasi global, mulai dari aspek keselamatan kerja petugas, perubahan iklim, hingga penilaian mendalam terhadap kondisi habitat dan spesies indikator kunci. Pendekatan ini menegaskan bahwa kawasan konservasi tidak hanya dinilai dari keberadaannya, tetapi juga dari kualitas pengelolaannya dalam menjawab tantangan zaman.
Proses penilaian berlangsung secara partisipatif. Fasilitator memandu diskusi terhadap 62 butir penilaian ancaman dan 38 pertanyaan utama yang mencakup aspek perencanaan, input sumber daya, proses pengelolaan, hingga capaian output dan outcome. Setiap poin dibahas secara kolektif, menggabungkan data, pengalaman lapangan, dan dinamika sosial yang terjadi di sekitar kawasan.
Dari keseluruhan proses tersebut, diperoleh hasil bahwa CA Watangan Puger mencatat skor 55 dari total 114, atau setara 48,25 persen, yang masuk dalam kategori pengelolaan kurang efektif. Hasil ini sekaligus menjadi baseline (T0) untuk evaluasi pengelolaan di tahun-tahun mendatang.
Sejumlah faktor kunci teridentifikasi memengaruhi capaian tersebut. Pada aspek input, keterbatasan jumlah personel, dukungan anggaran, serta ketersediaan data sumber daya menjadi tantangan utama. Kondisi ini berimplikasi langsung pada kemampuan pengelolaan di lapangan. Sementara pada aspek proses, masih terbatasnya kegiatan penelitian dan belum optimalnya pengawasan terhadap pemanfaatan akses sumber daya menunjukkan adanya ruang perbaikan dalam tata kelola kawasan.
Namun, angka-angka tersebut tidak berdiri sendiri. Ia adalah refleksi dari kompleksitas pengelolaan kawasan konservasi di tengah tekanan ekologis dan sosial yang terus berkembang. Dalam konteks ini, METT tidak semata menjadi alat ukur, tetapi juga instrumen pembelajaran kolektif, mendorong pengelola untuk melihat kekuatan, kelemahan, serta peluang yang dapat dioptimalkan.
Diskusi yang berlangsung selama kegiatan juga memperlihatkan adanya komitmen bersama dari para pihak untuk memperkuat pengelolaan CA Watangan Puger ke depan. Kolaborasi lintas sektor dinilai menjadi kunci, terutama dalam menjawab keterbatasan sumber daya serta meningkatkan efektivitas pengawasan dan perlindungan kawasan.
Penandatanganan Berita Acara menjadi agenda penutup yang yang menjadi dokumen resmi sekaligus pijakan awal untuk langkah-langkah perbaikan strategis.
Di balik angka 48,25 persen, tersimpan cerita tentang tantangan, keterbatasan, dan harapan. CA Watangan Puger mungkin belum mencapai tingkat pengelolaan ideal, namun melalui evaluasi yang jujur dan kolaboratif, jalan menuju pengelolaan yang lebih efektif tetap terbuka.
Sebab dalam setiap kawasan konservasi, yang dijaga bukan hanya bentang alam dan keanekaragaman hayati di dalamnya, tetapi juga masa depan keseimbangan ekosistem, yang pada akhirnya akan kembali kepada manusia itu sendiri.
Penulis : Fajar Dwi Nur Aji – PEH Ahli Muda
Editor : Agus Irwanto
Sumber : Bidang KSDA Wilayah III Jember