Berita

Kader Muda Tulungagung Menyusun Ulang Masa Depan Burung Urban

Tulungagung – Di bawah naungan pohon-pohon tua Alun-Alun Tulungagung, kicau burung bersahut-sahutan, nyaris tenggelam oleh deru kendaraan dan percakapan manusia. Namun bagi sekelompok anak muda, suara itu bukan sekadar latar, ia adalah penanda kehidupan yang sedang mereka pelajari, pahami, dan upayakan untuk tetap bertahan.

Pada 20 Mei 2026, Upaya konservasi keanekaragaman hayati kembali menemukan napasnya di tengah ruang-ruang urban. Balai Besar KSDA Jawa Timur melalui Seksi KSDA Wilayah I melaksanakan kegiatan anjangsana ke Mapala Himalaya – UIN Sayyid Ali Rahmatullah (UINSATU) Tulungagung, sebagai bagian dari pendampingan berkelanjutan bagi kader konservasi.

Kegiatan ini bertujuan menjaga eksistensi kader konservasi agar tetap aktif dan produktif dalam berbagai kegiatan pelestarian lingkungan. Dalam dinamika konservasi yang terus berkembang, keberadaan kader muda menjadi salah satu pilar penting dalam menjembatani pengetahuan, aksi, dan keberlanjutan.

Diskusi berlangsung di sekretariat Mapala Himalaya, ruang sederhana yang menjadi saksi tumbuhnya gagasan-gagasan besar. Dalam suasana hangat dan terbuka, para peserta membahas rencana keberlanjutan Tulungagung Bird Walk (TBW), sebuah kegiatan pengamatan burung yang sebelumnya telah sukses dilaksanakan dan mendapat dukungan dari pihak kampus.

Keinginan untuk melanjutkan TBW ke-3 menjadi salah satu fokus utama. Dukungan institusi pendidikan terhadap kegiatan ini menunjukkan bahwa konservasi mulai menemukan tempatnya dalam ekosistem akademik, tidak hanya sebagai wacana, tetapi juga sebagai praktik nyata. Namun, arah kegiatan kali ini disusun lebih strategis.

Petugas dari Resort Konservasi Wilayah (RKW) 02 Blitar memberikan pendekatan bertahap, sebelum menjelajah kawasan hutan, para kader perlu terlebih dahulu menguasai kemampuan identifikasi burung-burung urban. Sebuah fondasi penting yang seringkali terlewatkan, padahal justru menjadi kunci dalam memahami dinamika keanekaragaman hayati di lanskap yang telah berubah.

Sebagai implementasi, Alun-Alun Kabupaten Tulungagung dipilih sebagai lokasi kegiatan TBW yang dilaksanakan pada Minggu, 24 Mei 2026. Di ruang publik ini, para peserta akan belajar mengenali spesies burung yang mampu beradaptasi di tengah tekanan urbanisasi, mulai dari jenis-jenis umum hingga yang keberadaannya mulai jarang teramati.

Langkah ini bukan sekadar teknis, tetapi juga filosofis. Konservasi tidak lagi dipandang sebagai aktivitas eksklusif di kawasan hutan, melainkan sebagai kesadaran yang harus tumbuh di ruang hidup manusia sehari-hari. Burung-burung urban menjadi indikator penting, penanda kesehatan lingkungan sekaligus cerminan bagaimana manusia memperlakukan ruang hidupnya.

Selain pembahasan teknis kegiatan, diskusi juga mengarah pada penguatan kapasitas kader konservasi. Mapala Himalaya menyampaikan aspirasi agar anggota mereka, baik yang baru maupun yang belum, dapat memperoleh Kartu Kader Konservasi. Kartu ini tidak hanya berfungsi sebagai identitas, tetapi juga sebagai simbol komitmen dalam gerakan pelestarian alam.

Bagi Balai Besar KSDA Jawa Timur, hal ini menjadi bagian dari strategi pembinaan jangka panjang, menciptakan kader konservasi yang tidak hanya terlibat secara kegiatan, tetapi juga terikat secara nilai dan tanggung jawab.

Di tengah tekanan terhadap habitat alami dan meningkatnya fragmentasi lanskap, pendekatan berbasis komunitas seperti ini menjadi semakin relevan. Generasi muda tidak lagi ditempatkan sebagai objek sosialisasi, melainkan sebagai subjek utama dalam gerakan konservasi. Mereka adalah pengamat, pencatat, sekaligus penjaga.

Di langit Tulungagung, burung-burung itu terus beradaptasi, menemukan cara untuk hidup di antara gedung, kabel listrik, dan manusia. Sementara di bawahnya, para kader muda mulai menyusun ulang masa depan: bukan hanya untuk burung-burung itu, tetapi juga untuk keseimbangan yang lebih besar antara manusia dan alam.

Sebuah langkah kecil, dari sebuah alun-alun kota, yang bisa jadi akan menentukan arah konservasi di masa depan.

Penulis : Fajar Dwi Nur Aji – PEH Ahli Muda
Editor : Agus Irwanto
Sumber : Bidang KSDA Wilayah I Madiun