Jejak Kijang, Sarang Landak, dan Ancaman Tak Terlihat di Jantung Hutan Gunung Picis
Ponorogo – Kabut pagi belum sepenuhnya terangkat ketika langkah-langkah pelan menapaki lantai hutan yang basah. Di kedalaman Cagar Alam Gunung Picis, suara yang paling nyaring justru adalah keheningan, diselingi gemerisik daun dan sesekali panggilan burung dari balik kanopi.
Namun bagi tim patroli, hutan ini tidak pernah benar-benar sunyi.
Pada 20 hingga 21 Mei 2026, tim Smart Patrol dari RKW 05 Ponorogo bersama Masyarakat Mitra Polhut serta mahasiswa magang dari Universitas Negeri Surabaya (Unesa) menyusuri blok Dawuk, mencakup grid 112 hingga 147, dengan luas area sekitar 1.598 hektare. Kegiatan ini bukan sekadar patroli rutin, melainkan upaya sistematis membaca tanda-tanda kehidupan dan potensi gangguan di salah satu bentang alam penting di Jawa Timur.
Menggunakan GPS, kamera lapangan, dan aplikasi SMART Mobile, tim bergerak menyusuri jalur patroli yang telah ada sekaligus membuka jalur eksplorasi baru. Setiap titik yang dilalui menjadi catatan: vegetasi, jejak satwa, kondisi batas kawasan, hingga potensi ancaman yang mungkin tidak langsung terlihat.
Di antara akar dan tanah lembap, jejak Kijang terlihat samar namun tegas, sebuah penanda bahwa mamalia pemalu ini masih menjadikan hutan Gunung Picis sebagai rumahnya. Tidak jauh dari sana, tim menemukan sarang Landak Jawa, tersembunyi di balik batu dan semak rapat. Tanpa perlu melihat langsung satwanya, keberadaan mereka sudah cukup untuk membuktikan bahwa rantai kehidupan di sini masih berlangsung.
Di atas kanopi, seekor Elang Hitam melayang tanpa suara, memanfaatkan arus udara hangat yang naik dari lembah. Ia adalah predator puncak, indikator bahwa ekosistem ini masih memiliki struktur trofik yang relatif utuh.
Hutan Gunung Picis juga memperlihatkan kekayaan floranya. Tegakan Pasang dan Puspa menjulang sebagai penopang utama kanopi, sementara Damar berdiri kokoh sebagai saksi umur panjang hutan. Di lapisan bawah, jenis-jenis seperti Nyampuh, Kemaduh, hingga berbagai spesies Ficus menyediakan pakan dan habitat bagi beragam satwa.
Keanekaragaman ini diperkuat oleh kehadiran kupu-kupu seperti Notocrypta paralysos, Acytolepis puspa, hingga Symbrenthia hypselis serta moluska darat seperti Hemiplecta humphreysiana dan Cyclophorus perdix. Organisme kecil ini sering kali luput dari perhatian, padahal mereka adalah indikator penting kesehatan ekosistem.
Namun di balik kekayaan tersebut, terselip ancaman yang tidak selalu kasatmata.
Di sekitar pal batas nomor 94, tim menemukan keberadaan tumbuhan invasif seperti Kirinyu dan Kaliandra. Spesies ini dikenal memiliki kemampuan tumbuh cepat dan mendominasi ruang, berpotensi menekan regenerasi vegetasi asli. Jika tidak dikendalikan, perlahan mereka dapat mengubah komposisi hutan.
Menariknya, di lokasi yang sama juga ditemukan tanaman kopi dan kapulaga. Tidak ada indikasi penanaman aktif, sehingga diduga bijinya tersebar melalui aktivitas satwa. Ini menjadi pengingat bahwa batas antara proses alami dan pengaruh manusia di kawasan konservasi sering kali tidak hitam-putih.
Interaksi manusia dengan kawasan juga terpantau secara langsung. Di sekitar pal 104, tim menjumpai masyarakat yang tengah mencari madu klanceng. Melalui pendekatan persuasif, petugas melakukan dialog, menyampaikan fungsi kawasan cagar alam sebagai ruang perlindungan yang tidak diperuntukkan bagi aktivitas pemanfaatan langsung.
Pendekatan ini menjadi kunci. Di banyak tempat, keberhasilan konservasi tidak hanya ditentukan oleh patroli, tetapi juga oleh sejauh mana masyarakat memahami dan terlibat dalam menjaga kawasan.
Sementara itu, dua pal batas, nomor 34 dan 94 ditemukan dalam kondisi utuh meski tertutup lumut. Ini menunjukkan bahwa secara fisik batas kawasan masih terjaga, namun tetap membutuhkan pemantauan berkala untuk memastikan kejelasannya di lapangan.
Patroli di Gunung Picis adalah potret kecil dari dinamika besar konservasi. Ia memperlihatkan bahwa hutan bukan hanya kumpulan pohon dan satwa, tetapi sistem hidup yang terus berinteraksi, dengan dirinya sendiri dan dengan manusia.
Di tempat seperti ini, ancaman terbesar sering kali bukan yang terlihat jelas, melainkan yang perlahan tumbuh tanpa disadari mulai dari spesies invasif, perubahan perilaku manusia, hingga gangguan kecil yang terakumulasi dari waktu ke waktu.
Dan karena itu, setiap jejak yang ditemukan, baik jejak kijang maupun jejak manusia menjadi penting untuk dibaca.
Sebab di jantung hutan Gunung Picis, masa depan konservasi tidak hanya ditentukan oleh apa yang ada hari ini, tetapi oleh seberapa cepat kita memahami tanda-tanda yang muncul, sebelum semuanya berubah.
Penulis : Fajar Dwi Nur Aji – PEH Ahli Muda
Editor : Agus Irwanto
Sumber : Bidang KSDA Wilayah I Madiun