Liana Invasif Menguasai Kanopi, Mencekik Kehidupan di Hutan Manggis Gadungan
Kediri – Dari kejauhan, kanopi Cagar Alam (CA) Manggis Gadungan tampak hijau dan utuh. Seolah tak ada yang berubah dari wajah hutan tropis yang selama puluhan tahun berdiri sebagai benteng keanekaragaman hayati.
Namun, di balik rimbunnya dedaunan dan rapatnya tajuk pohon, sebuah proses perlahan tengah berlangsung, sunyi, tak kasat mata bagi sebagian orang, tetapi membawa dampak yang dalam. Liana-liana merambat, menjalar dari batang ke batang, naik menuju kanopi, membelit tanpa ampun.
Mereka tidak merobohkan pohon dalam sekejap. Tidak pula meninggalkan jejak kehancuran yang mudah dikenali. Namun dalam waktu yang cukup, mereka menutup cahaya, menekan ruang hidup, dan perlahan mencekik kehidupan pohon-pohon asli.
Inilah invasi yang tidak bersuara.
Pada 20 hingga 21 Mei 2026, Balai Besar KSDA Jawa Timur melaksanakan supervisi kegiatan inventarisasi dan analisis risiko spesies asing invasif (Invasive Alien Species/IAS) di kawasan Cagar Alam Manggis Gadungan. Kegiatan ini dipimpin langsung oleh Kepala Bidang Teknis bersama tim, sebagai bagian dari upaya memahami dinamika ekosistem yang terus berubah, dan meresponsnya sebelum terlambat.
Hari pertama berlangsung di Kantor Seksi KSDA Wilayah I Kediri. Di ruangan yang dipenuhi peta kawasan dan dokumen teknis, diskusi mengalir dari definisi hingga strategi. Spesies invasif, sebagaimana dirumuskan dalam regulasi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, bukan sekadar jenis asing yang masuk ke suatu wilayah.
Ia bisa berasal dari mana saja, bahkan dari dalam negeri, selama memiliki kemampuan untuk berkembang secara masif dan menimbulkan dampak negatif terhadap ekologi, ekonomi, dan sosial. Namun definisi itu hanyalah pintu masuk.
Di balik istilah tersebut, tersimpan dinamika biologis yang kompleks. Spesies invasif adalah mereka yang memiliki kemampuan adaptasi tinggi, strategi reproduksi cepat, dan efisiensi dalam memanfaatkan sumber daya.
Mereka bergerak melalui tahapan yang nyaris tak terdeteksi, transportasi, introduksi, kolonisasi, naturalisasi, hingga akhirnya mencapai fase dominasi. Ketika fase itu tercapai, ekosistem tidak lagi berjalan seperti semula.
Keesokan harinya, tim bergerak memasuki kawasan hutan. Jalur-jalur setapak yang lembap membawa mereka ke petak-petak pengamatan. Satu per satu area disusuri, dicatat, dan dianalisis. Hingga saat ini, sekitar 225 dari total 264 petak, atau sekitar 85 persen kawasan, telah dijelajahi melalui metode sensus spesies dan populasi.
Di lapangan, data berubah menjadi realitas yang tak terbantahkan. Di antara batang-batang pohon yang menjulang, liana tampak mendominasi. Mereka melilit, menjalar, dan menutup tajuk, menciptakan lapisan baru di dalam struktur hutan. Bukan sebagai bagian dari keseimbangan alami, tetapi sebagai tanda perubahan yang perlu diwaspadai.
Ribandil (Mimosa sp.) menjadi salah satu yang paling mencolok. Batangnya yang berkayu melilit erat pohon inang, naik hingga ke puncak kanopi, dan membentuk anyaman rapat yang menghalangi cahaya matahari.
Dalam kondisi seperti ini, pohon kehilangan akses energi utama untuk fotosintesis. Dahan mulai melemah. Cabang patah. Dalam jangka panjang, pohon bisa mati.
Di titik lain, Akar Kuning (Arcangelisia flava) menunjukkan strategi yang berbeda. Ia tidak hanya membelit, tetapi juga memperbanyak diri dengan intensitas tinggi. Dalam satu batang, ratusan buah menggantung, masing-masing membawa potensi penyebaran baru. Setiap buah adalah peluang bagi invasi berikutnya.
Sementara itu, Marsdenia sp. memperlihatkan efisiensi yang hampir tak terbendung. Buahnya pecah saat kering, melepaskan ratusan biji ringan yang terbawa angin. Mereka melayang, jatuh, dan tumbuh, bahkan di bawah naungan rapat, di mana banyak spesies lain kesulitan bertahan.
Di lantai hutan, semai-semai Marsdenia muncul hampir di setiap petak. Seolah memberi sinyal bahwa invasi tidak hanya terjadi di atas, tetapi juga telah menembus ke lapisan regenerasi.
Jenis lain, Poikilospermum suaveolans, menghadirkan tantangan yang lebih rumit. Ia tidak hanya berkembang biak melalui biji, tetapi juga mampu tumbuh kembali dari bagian batang yang tersisa.
Pemotongan tidak selalu efektif. Dalam banyak kasus, bagian yang tertinggal justru menjadi titik awal pertumbuhan baru. Seperti memutus satu cabang, hanya untuk melihatnya tumbuh kembali di tempat lain.
Di sisi lain, Momordica charantia yang telah masuk dalam daftar spesies invasif nasional, memberi dampak berbeda namun tak kalah serius. Ia mengganggu pertumbuhan semai tanaman asli, termasuk tanaman hasil kegiatan pemulihan ekosistem yang ditanam beberapa tahun sebelumnya.
Upaya rehabilitasi yang telah dilakukan dengan harapan memulihkan fungsi ekosistem, kini berhadapan dengan kompetitor yang agresif. Apa yang terjadi di Manggis Gadungan bukanlah peristiwa tunggal. Ia adalah bagian dari fenomena global, di mana spesies invasif menjadi salah satu ancaman utama terhadap keanekaragaman hayati.
Namun di sini, di tengah hutan Jawa Timur, fenomena itu memiliki wajah yang nyata. Ia terlihat pada pohon yang tajuknya tertutup rapat. Pada cabang yang patah tanpa sebab yang jelas. Pada lantai hutan yang dipenuhi semai dari jenis yang sama. Dan pada ruang-ruang kosong yang perlahan kehilangan keberagaman.
Diskusi di lapangan mengarah pada satu kesimpulan penting: pengendalian spesies invasif bukan pekerjaan instan. Ia tidak bisa diselesaikan dalam satu kegiatan, satu musim, atau bahkan satu tahun.
Selama ini, upaya pengendalian telah dilakukan melalui kegiatan SMART Patrol oleh tim lapangan. Dalam setiap patroli, petugas tidak hanya memantau ancaman perburuan atau perambahan, tetapi juga melakukan tindakan terbatas terhadap spesies invasif.
Namun efektivitas metode masih terus dievaluasi. Tidak semua jenis dapat dikendalikan dengan cara yang sama. Tidak semua kondisi lapangan memungkinkan intervensi langsung. Dan tidak semua upaya memberikan hasil yang bertahan lama.
Oleh karena itu, langkah prioritas yang disepakati dalam supervisi ini menjadi sangat penting. Fokus utama adalah menyelamatkan tegakan pohon yang telah terbelit, serta melindungi tanaman hasil pemulihan ekosistem. Ini adalah upaya untuk menjaga yang masih bisa diselamatkan.
Tahap berikutnya adalah menyusun analisis risiko yang komprehensif. Dokumen ini akan menjadi dasar dalam menentukan strategi pengelolaan, jenis mana yang harus dikendalikan terlebih dahulu, metode apa yang paling efektif, serta bagaimana mengalokasikan sumber daya secara tepat.
Namun dokumen, sebaik apa pun ia disusun, tidak akan berarti tanpa implementasi. Di sinilah tantangan sesungguhnya dimulai.
Pengendalian spesies invasif membutuhkan konsistensi, kolaborasi, dan ketekunan. Ia membutuhkan pemantauan berkelanjutan, adaptasi metode, dan kesiapan untuk menghadapi hasil yang tidak selalu sesuai harapan.
Dan di atas semua itu, ia membutuhkan kesadaran bahwa ancaman ini nyata, meski sering kali tak terlihat. Di dalam hutan Manggis Gadungan, waktu berjalan dengan caranya sendiri. Liana terus merambat. Pohon-pohon terus berjuang.
Dan manusia, melalui ilmu pengetahuan dan upaya konservasi, berusaha menjaga keseimbangan yang kian rapuh. Pertarungan ini tidak akan berakhir dalam waktu dekat.
Namun setiap data yang dicatat, setiap pohon yang diselamatkan, dan setiap strategi yang diterapkan adalah bagian dari upaya yang lebih besar, untuk memastikan bahwa hutan tetap menjadi rumah bagi keberagaman, bukan sekadar ruang yang dikuasai oleh yang paling kuat.
Karena di alam, seperti dalam banyak hal, yang paling bertahan bukanlah yang paling besar atau paling cepat, tetapi yang paling mampu menjaga keseimbangan. Dan di Manggis Gadungan, keseimbangan itu kini sedang diuji.
Penulis : Fajar Dwi Nur Aji – PEH Ahli Muda
Editor : Agus Irwanto
Sumber : Bidang KSDA Wilayah I Madiun