Berita

Dari Ruang Kelas Ke Garis Depan Konservasi, 300 Siswa SMA N 6 Surabaya Belajar Menjadi Penjaga Alam

Surabaya – Di tengah arus perubahan zaman yang kian cepat, ketika jarak antara manusia dan alam semakin melebar, sebuah langkah sunyi namun strategis justru dimulai dari ruang kelas. Di Aula SMA Negeri 6 Surabaya, ratusan pelajar duduk bukan sekadar untuk belajar, tetapi untuk memahami satu hal yang jauh lebih mendasar: masa depan bumi berada di tangan mereka.

Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Timur bersama mitra dari Forum Komunikasi Kader Konservasi (FK3I) dan Wild Division Part of Fauna Alam Persada, melalui program Visit to School (16/04/2026), menghadirkan edukasi konservasi sebagai bagian dari rangkaian Road to Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) 2026. Kegiatan ini menjadi jembatan antara dunia pendidikan dan realitas ekologis yang tengah dihadapi Indonesia hari ini.

Sekitar 300 siswa kelas X mengikuti kegiatan ini dengan antusias. Namun lebih dari sekadar angka, mereka adalah representasi dari generasi yang akan menentukan apakah keanekaragaman hayati Indonesia tetap lestari atau perlahan menghilang.

Ketika Pendidikan Menjadi Akar Kesadaran
Kegiatan ini secara resmi dibuka oleh Wakil Kepala Bagian Kurikulum, Irfa Rochimah Alfi. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa sekolah tidak lagi cukup hanya menjadi ruang transfer ilmu, tetapi harus menjadi tempat tumbuhnya kesadaran ekologis.

“Kami menyambut baik dan mengapresiasi kegiatan edukasi konservasi ini sebagai bagian dari upaya membangun kesadaran lingkungan di kalangan peserta didik. Sekolah tidak hanya menjadi tempat transfer ilmu pengetahuan, tetapi juga ruang pembentukan karakter, termasuk kepedulian terhadap kelestarian sumber daya alam hayati dan ekosistemnya,” ujarnya.

Pernyataan tersebut menjadi pembuka yang menegaskan arah kegiatan, bahwa pendidikan memiliki tanggung jawab moral dalam menjawab krisis lingkungan. Ia juga menambahkan bahwa pendekatan pembelajaran harus mampu menjangkau realitas di luar buku teks.

“Melalui kegiatan ini, kami berharap siswa tidak hanya memahami konsep, tetapi juga memiliki sikap dan tanggung jawab sebagai generasi yang akan menjaga masa depan lingkungan,” pungkasnya.

Di titik ini, ruang kelas berubah makna. Ia bukan lagi tempat menerima informasi, melainkan ruang refleksi tentang relasi manusia dengan alam.

Ancaman Nyata di Balik Keanekaragaman
Materi yang disampaikan oleh tim BBKSDA Jawa Timur tidak berhenti pada pengenalan konsep dasar. Para siswa diajak memahami lanskap konservasi secara utuh, mulai dari kawasan hutan konservasi di Jawa Timur, jenis tumbuhan dan satwa liar dilindungi, hingga ancaman nyata yang terus membayangi keberlanjutan ekosistem.

Rakhmat Hidayat, yang menjadi salah satu narasumber utama, menyoroti bahwa ancaman terhadap satwa liar saat ini semakin kompleks.

“Ancaman terhadap satwa liar bukan hanya datang dari kerusakan habitat, tetapi juga dari perilaku manusia itu sendiri, perburuan, perdagangan ilegal, hingga kurangnya kesadaran,” jelasnya.

Ia menegaskan bahwa konservasi tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah atau aparat penegak hukum. Dibutuhkan perubahan cara pandang secara kolektif.

“Generasi muda memiliki posisi strategis. Mereka bukan hanya penerus, tetapi penentu. Dari kesadaran merekalah perubahan itu akan dimulai,” tambahnya.

Pernyataan ini tidak hanya bersifat informatif, tetapi juga reflektif, untuik mengajak siswa melihat diri mereka sebagai bagian dari solusi, bukan sekadar penonton.

Ruang Dialog: Ketika Kesadaran Mulai Tumbuh
Berbeda dengan metode pembelajaran satu arah, kegiatan ini dirancang sebagai ruang dialog terbuka. Para siswa tidak hanya mendengarkan, tetapi juga aktif bertanya dan berdiskusi.

Pertanyaan-pertanyaan yang muncul mencerminkan rasa ingin tahu yang kritis, Mengapa satwa bisa punah? Apa yang bisa dilakukan oleh pelajar? Apakah tindakan kecil benar-benar berdampak?

Dari diskusi tersebut, muncul kesadaran bahwa konservasi tidak selalu harus dimulai dari langkah besar. Justru, tindakan sederhana yang memiliki peran penting, tidak membeli satwa liar, menjaga lingkungan sekitar, menanam pohon, hingga mengedukasi orang lain.

Kesadaran ini menjadi titik penting. Karena dalam konservasi, perubahan perilaku adalah kunci utama.

Ketika Kurikulum Bertemu Konservasi
Kegiatan ini juga mendapatkan respons positif dari tenaga pendidik. Endang Megawati, Guru Biologi, menilai bahwa materi yang disampaikan memiliki keterkaitan kuat dengan pembelajaran di kelas.

“Materi konservasi yang disampaikan sangat selaras dengan kurikulum, khususnya pada pembelajaran kelas X. Ini tidak hanya memperkuat pemahaman siswa, tetapi juga memberikan konteks nyata terhadap apa yang mereka pelajari,” ungkapnya.

Ia menambahkan bahwa pembelajaran yang terhubung dengan realitas akan lebih mudah dipahami dan diinternalisasi oleh siswa. Lebih jauh, pihak sekolah berharap kegiatan seperti ini dapat dilakukan secara berkelanjutan, bahkan menjadi bagian dari agenda rutin pendidikan.

Hal ini menunjukkan bahwa konservasi tidak lagi berdiri sendiri sebagai isu lingkungan, tetapi telah menjadi bagian integral dari sistem pendidikan.

Dari Ruang Kelas ke Masa Depan Bumi
Hasil dari kegiatan ini tidak hanya terlihat dari antusiasme peserta, tetapi juga dari perubahan cara pandang. Siswa mulai memahami bahwa mereka memiliki peran, sekecil apa pun, dalam menjaga keberlanjutan alam. Terbangunnya pemahaman dasar tentang konservasi, meningkatnya kesadaran lingkungan, serta tumbuhnya perspektif positif terhadap peran pemerintah dan mitra menjadi capaian penting dari kegiatan ini.

Namun di balik itu semua, ada hal yang lebih besar yaitu harapan. Harapan bahwa generasi muda tidak akan mengulangi kesalahan generasi sebelumnya. Harapan bahwa mereka akan tumbuh menjadi individu yang tidak hanya cerdas, tetapi juga bijak dalam memperlakukan alam.

Di tengah ancaman deforestasi, perdagangan satwa liar, dan krisis keanekaragaman hayati, kegiatan seperti ini mungkin terlihat sederhana. Namun sesungguhnya, ia adalah investasi jangka panjang, menanam nilai, membentuk karakter, dan membangun kesadaran.

Karena pada akhirnya, masa depan konservasi tidak hanya ditentukan di kawasan hutan, taman nasional, atau suaka margasatwa. Ia juga ditentukan di ruang-ruang kelas.

Di tangan para pelajar. Di keputusan-keputusan kecil yang mereka ambil setiap hari. Dan mungkin, dari aula sederhana di Surabaya itu, akan lahir para penjaga terakhir keanekaragaman hayati Indonesia.

Penulis : Fajar Dwi Nur Aji – PEH Ahli Muda
Editor : Agus Irwanto
Sumber : Bidang KSDA Wilayah II Gresik