Berita

Membaca Mangrove Bawean, Data dan Suara Warga di Garis Pesisir

Gresik – Balai Besar KSDA Jawa Timur melalui tim RKW 09 Gresik–Bawean melakukan pendampingan pengamatan aspek biofisik dan sosial-ekonomi ekosistem mangrove di kawasan Pasir Putih, Desa Sukaoneng, Kecamatan Tambak, Kamis, 16 April 2026. Kegiatan ini melibatkan mahasiswa dari Universitas Brawijaya dan Universitas Gadjah Mada sebagai bagian dari kolaborasi riset lapangan.

Pendampingan difokuskan pada tiga agenda utama, inventarisasi flora dan fauna, wawancara masyarakat, serta pemantauan kawasan menggunakan drone. Inventarisasi dilakukan untuk mengidentifikasi jenis mangrove dan fauna yang berasosiasi, sekaligus menyusun data dasar keanekaragaman hayati kawasan.

Di saat yang sama, tim menggali informasi dari masyarakat setempat mengenai pola pemanfaatan mangrove, interaksi sehari-hari, serta persepsi terhadap kondisi ekosistem. Data sosial ini dinilai penting untuk melengkapi pendekatan ekologis dalam pengelolaan kawasan.

Pemantauan melalui drone memberikan gambaran spasial terkait kerapatan vegetasi, perubahan tutupan lahan, serta kondisi aktual ekosistem mangrove secara menyeluruh. Hasil citra udara tersebut menjadi bahan analisis awal dalam melihat dinamika kawasan pesisir Bawean.

Kegiatan ini dilaksanakan oleh tim RKW 09 yang terdiri dari Polisi Kehutanan dan tenaga teknis, sebagai bagian dari penguatan basis data pengelolaan ekosistem pesisir. Hasil kegiatan diharapkan menjadi rujukan dalam penyusunan kebijakan konservasi mangrove yang lebih terukur dan berkelanjutan di Pulau Bawean.

Di tengah tekanan terhadap kawasan pesisir, data lapangan dan suara masyarakat menjadi kunci. Tanpa keduanya, konservasi berisiko kehilangan arah.

Penulis : Fajar Dwi Nur Aji – PEH Ahli Muda
Editor : Agus Irwanto
Sumber : Bidang KSDA Wilayah II Gresik