Berita

Ketika Satwa Kehilangan Rumahnya, Manusia yang Menanggung Dampaknya

Pacitan – Pagi di Kecamatan Donorojo, Pacitan, tak lagi sepenuhnya tenang. Di sela-sela ladang jagung, kebun kacang, dan tanaman hortikultura milik warga, pergerakan kelompok monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) kini menjadi bagian dari keseharian yang tak terelakkan. Mereka datang dalam kelompok, bergerak cepat, dan dalam waktu singkat meninggalkan jejak kerusakan pada tanaman yang menjadi sumber penghidupan masyarakat.

Fenomena ini tidak berdiri sendiri. Data lapangan menunjukkan bahwa gangguan satwa liar mengalami peningkatan dan telah menjangkau 7 dari 12 desa di Kecamatan Donorojo. Warga pun beradaptasi dengan cara mereka sendiri, menjaga lahan sejak subuh hingga menjelang malam, memasang jaring penghalang, hingga berjaga secara bergiliran. Sebuah upaya bertahan yang lahir dari situasi yang terus berkembang.

Namun di balik dinamika ini, tersimpan sebuah alarm ekologis yang lebih besar.

Perubahan yang terjadi di Donorojo mencerminkan pergeseran lanskap yang tidak sederhana. Hutan yang dahulu menyediakan ruang hidup, sumber pakan, dan tempat berlindung bagi satwa liar, kini menghadapi berbagai tekanan. Berkurangnya vegetasi pakan alami, perubahan tutupan lahan, hingga aktivitas pembangunan di wilayah sekitar secara perlahan mengubah keseimbangan ekosistem.

Dalam kondisi seperti ini, satwa tidak “menyerang”, mereka beradaptasi.

Monyet ekor panjang, sebagai spesies yang memiliki kemampuan adaptasi tinggi, merespons perubahan tersebut dengan mencari sumber pakan alternatif. Lahan pertanian warga, dengan ketersediaan pangan yang melimpah dan mudah diakses, menjadi pilihan yang logis dalam perspektif ekologis. Di sinilah batas antara ruang hidup satwa dan manusia menjadi semakin tipis.

Berdasarkan hasil diskusi dengan pemerintah kecamatan Donorejo (14/04/26) ada indikasi bahwa peningkatan gangguan ini berkaitan dengan dinamika regional, termasuk pembangunan infrastruktur dan perubahan penggunaan lahan di wilayah sekitar Donorojo. Lanskap yang berubah tidak mengenal batas administrasi, dampaknya merambat dan dirasakan lintas wilayah.

Dalam ekosistem yang sehat, setiap spesies memiliki peran dan ruangnya masing-masing. Namun ketika tekanan habitat meningkat, baik karena berkurangnya sumber pakan, hilangnya predator alami, maupun fragmentasi hutan, maka keseimbangan itu mulai terganggu.

Monyet yang sebelumnya tersebar di dalam kawasan hutan, kini terkonsentrasi dan bergerak keluar. Tanpa predator alami yang cukup dan dengan ketersediaan pakan yang menurun di habitat aslinya, interaksi dengan manusia menjadi semakin intens.

Melalui surat resmi, Pemerintah Kecamatan Donorojo menginformasikan juga bahwa gangguan ini telah berdampak pada berbagai komoditas pertanian seperti padi, jagung, kacang tanah, hingga tanaman perkebunan, serta berpotensi mengganggu aktivitas masyarakat sehari-hari .

Ini bukan sekadar persoalan satwa yang “masuk kampung”. Ini adalah refleksi dari ekosistem yang sedang mencari keseimbangannya kembali.

Menyadari kompleksitas persoalan ini, Balai Besar KSDA Jawa Timur bergerak cepat. Koordinasi dilakukan dengan pemerintah kecamatan, perangkat desa, serta masyarakat terdampak untuk memastikan bahwa langkah penanganan dilakukan secara tepat, terukur, dan sesuai dengan prinsip konservasi.

Pendekatan yang diambil tidak semata-mata bersifat reaktif, tetapi juga adaptif dan preventif.vBeberapa langkah yang direkomendasikan dan mulai diterapkan antara lain:

  • Pemasangan pita reflektif sebagai penghalau visual yang ramah satwa,
  • Penguatan penjagaan lahan secara kolektif,
  • Dorongan penanaman tanaman sumber pakan alami seperti duwet, talok, jambu mete, dan salam sebagai upaya mengembalikan ketersediaan pakan di habitat satwa.

Langkah-langkah ini mencerminkan pendekatan coexistence, hidup berdampingan, yang menjadi prinsip utama dalam pengelolaan konflik manusia dan satwa liar. Lebih dari itu, kehadiran negara melalui BBKSDA Jawa Timur juga membawa pesan penting, bahwa setiap konflik ekologis harus diselesaikan dengan keseimbangan antara perlindungan satwa dan keberlangsungan hidup masyarakat.

Donorojo hari ini adalah potret kecil dari tantangan besar pengelolaan keanekaragaman hayati di tengah perubahan zaman. Di satu sisi, manusia membutuhkan ruang untuk hidup dan berkembang. Di sisi lain, satwa liar juga memiliki hak yang sama atas habitatnya.

Ketika lanskap berubah, maka cara kita memahami dan merespons alam pun harus ikut berubah. Apa yang terjadi hari ini bukan sekadar gangguan satwa liar yang meningkat, tetapi sebuah pengingat bahwa keseimbangan antara manusia dan alam adalah sesuatu yang harus terus dirawat, dijaga, dan diperjuangkan bersama.

Di antara ladang-ladang yang dijaga dan hutan-hutan yang perlahan berubah, harapan itu masih ada, selama manusia memilih untuk tidak hanya bertahan, tetapi juga memahami.

Penulis : Fajar Dwi Nur Aji – PEH Ahli Muda 
Editor : Agus Irwanto
Sumber : Bidang KSDA Wilayah I Madiun