Berita

Road to HKAN 2026, Saat Siswa SMPN 1 Surabaya Belajar Menyelamatkan Masa Depan Bumi

Surabaya – Di sebuah aula sebiah SMP Negeri di jantung Kota Surabaya, puluhan pasang mata muda menatap layar dengan penuh rasa ingin tahu. Pagi itu, 15 April 2026, sebanyak ±80 siswa SMP Negeri 1 Surabaya tidak hanya menerima pelajaran biasa, mereka sedang diperkenalkan pada sebuah realitas yang jauh lebih besar, realitas tentang masa depan bumi yang bergantung pada kesadaran manusia hari ini.

Kegiatan edukasi konservasi yang digelar oleh Balai Besar KSDA Jawa Timur melalui program Visit to School ini menjadi bagian dari rangkaian Road to Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) Tahun 2026, sebuah momentum strategis untuk menumbuhkan kesadaran kolektif tentang pentingnya menjaga keanekaragaman hayati dan ekosistem sejak dini.

Tim gabungan yang terdiri dari Polisi Kehutanan, Pengendali Ekosistem Hutan, penyuluh Kehutanan, serta mitra konservasi dari Forum Komunikasi Kader Konservasi dan Wild Division part of Fauna Alam Persada, hadir langsung membawa pesan-pesan penting dari lapangan. Tentang satwa liar yang kian terdesak, hutan yang terus terfragmentasi, dan ekosistem yang menghadapi tekanan serius.

Materi disampaikan secara komunikatif dan interaktif, mencakup pemahaman dasar konservasi sumber daya alam, pengenalan tumbuhan dan satwa liar, hingga ancaman nyata seperti perburuan ilegal, deforestasi, perdagangan satwa liar, serta dampak perubahan iklim. Lebih dari sekadar teori, siswa juga diajak menyelami konsekuensi ekologis dan sosial dari kerusakan lingkungan.

Suasana semakin hidup saat sesi diskusi interaktif berlangsung. Pertanyaan-pertanyaan kritis bermunculan, tentang perlindungan satwa dilindungi, rantai perdagangan ilegal, hingga peran generasi muda dalam menjaga lingkungan. Di titik ini, edukasi tidak lagi sekadar penyampaian materi, melainkan proses membangun kesadaran.

Pendekatan partisipatif menjadi kunci. Siswa diajak memahami bahwa konservasi bukan hanya tanggung jawab pemerintah atau pegiat lingkungan, tetapi juga bagian dari perilaku sehari-hari. Dari tidak membeli satwa liar, menjaga lingkungan sekitar, hingga menjadi agen perubahan di tengah masyarakat.

Resia Hindriatni, Polisi Kehutanan Ahli Muda Seksi KSDA Wilayah III Surabaya, menegaskan bahwa edukasi sejak usia sekolah merupakan fondasi utama dalam membangun budaya konservasi.

“Kesadaran tidak lahir secara instan. Ia harus ditanam, dirawat, dan ditumbuhkan sejak dini. Melalui kegiatan seperti ini, kami berharap para siswa tidak hanya memahami konsep konservasi, tetapi juga memiliki kepedulian dan keberanian untuk bertindak menjaga lingkungan di sekitarnya,” ujarnya.

Ia juga menambahkan bahwa generasi muda memiliki posisi strategis sebagai agen perubahan.

“Mereka adalah generasi yang akan menghadapi langsung dampak kerusakan lingkungan di masa depan. Karena itu, membekali mereka dengan pengetahuan dan nilai-nilai konservasi adalah investasi jangka panjang bagi keberlanjutan ekosistem,” tambahnya.

Hasil kegiatan menunjukkan dampak yang signifikan. Pemahaman siswa meningkat, kesadaran ekologis mulai tumbuh, dan interaksi aktif menjadi indikator kuat bahwa pesan konservasi tersampaikan dengan efektif. Selain itu, kegiatan ini juga memperkuat sinergi antara Balai Besar KSDA Jawa Timur dengan institusi pendidikan sebagai mitra strategis dalam membangun generasi peduli lingkungan.

Sebagai bagian dari Road to HKAN 2026, kegiatan ini menegaskan bahwa peringatan konservasi tidak berhenti pada seremoni, tetapi harus hadir dalam aksi nyata, menyentuh ruang-ruang belajar, membentuk cara pandang, dan menggerakkan perubahan sejak dini.

Di tengah berbagai ancaman terhadap keanekaragaman hayati, harapan justru lahir dari ruang kelas. Dari sana, generasi baru mulai memahami bahwa menjaga alam bukan sekadar pilihan, melainkan sebuah tanggung jawab yang akan menentukan masa depan kehidupan di bumi.

Karena dari ruang kelas hari ini, lahir para penjaga alam esok hari.

Penulis : Fajar Dwi Nur Aji – PEH Ahli Muda
Editor : Agus Irwanto
Sumber : Bidang KSDA Wilayah II Gresik