Berita

Ujian Calon Penjaga Hutan Dari Pacet

Mojokerto – Langit siang itu seperti membuka jalan. Cerah, tenang, dan bersih dari awan hujan yang dalam beberapa hari terakhir hampir selalu turun setiap selepas dzuhur. Di lereng Pusat Pendidikan Konservasi Alam Indreng Genitri, kondisi ini bukan sekadar kebetulan, melainkan momentum yang memberi ruang bagi para siswa SMK Walisongo Pacet untuk menunjukkan kemampuan terbaik mereka (13/04/2026).

Sebanyak 31 siswa yang terdiri dari 12 putri dan 19 putra, mengikuti Uji Kompetensi Keahlian (UKK) bidang Teknik Inventarisasi dan Pemetaan Hutan. Di tangan mereka, Receiver Global Navigation Satellite System (GNSS) menjadi alat utama untuk membaca ruang, menangkap koordinat, dan menerjemahkan bentang alam ke dalam data yang terukur.

Namun hari itu, GNSS bukan hanya perangkat teknologi. Ia menjadi simbol bagaimana generasi muda mulai memahami bahasa bumi, melalui angka, koordinat, dan ketelitian.

Kegiatan ini tidak berdiri sendiri. Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) hadir sebagai penjaga kualitas dan standar profesional melalui penugasan asesor eksternal pada kegiatan tersebut. Peran ini memastikan bahwa proses uji kompetensi berjalan objektif, terukur, dan selaras dengan kebutuhan nyata di lapangan konservasi.

Di lapangan, para siswa bekerja dengan penuh konsentrasi. Mereka menentukan titik, menunggu akurasi sinyal stabil, mencatat data, dan menyusun deskripsi lokasi. Tidak ada ruang untuk gegabah. Setiap koordinat yang diambil adalah dasar dari sebuah keputusan pengelolaan ruang di masa depan.

Guru-guru pendamping turut berperan aktif, memastikan setiap tahapan yang diajarkan dilakukan dengan benar. Mereka tidak hanya mengajarkan cara menggunakan alat, tetapi juga menanamkan prinsip bahwa data yang dihasilkan harus dapat dipertanggungjawabkan, baik secara ilmiah maupun etis.

Kegiatan lapangan berlangsung sejak pagi hingga siang hari. Para siswa bergerak menyusuri titik-titik pengamatan, mengoperasikan Receiver GNSS, dan menyusun data awal. Setelah itu, setelah matahari bergeser ke ufuk barat, proses berlanjut ke tahap pengolahan data di laboratorium komputer. Di sana, titik-titik koordinat mulai disusun menjadi garis, poligon, hingga menjadi peta kerja yang utuh.

Menjelang waktu magrib, seluruh proses telah rampung. Hasil ini berada di luar ekspektasi banyak pihak.

Kepala SMK Walisongo Pacet, Erni Dwi Astutik, S.E., menyampaikan bahwa pada awalnya pihak sekolah memperkirakan kegiatan akan berlangsung hingga malam hari, mengingat kondisi cuaca pada hari-hari sebelumnya yang kerap menghambat aktivitas lapangan. Namun kenyataannya, seluruh rangkaian kegiatan dapat diselesaikan dalam satu hari penuh.

“Kami sebelumnya memperkirakan kegiatan ini akan berlangsung hingga malam hari, mengingat beberapa hari terakhir hujan selalu turun setelah siang. Namun di luar dugaan, hari ini cuaca sangat mendukung. Bahkan yang lebih membanggakan, pemahaman siswa jauh melampaui ekspektasi. Hampir seluruh peserta mampu menyelesaikan proses pengambilan data dan pengolahan peta lebih cepat dari batas waktu yang telah ditetapkan,” ungkapnya.

Beliau juga menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih kepada Balai Besar KSDA Jawa Timur atas keterlibatan aktif dalam kegiatan ini.

“Kami mengucapkan terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya kepada BBKSDA Jawa Timur yang telah berkenan membersamai kami dalam proses peningkatan kapasitas siswa. Kolaborasi ini menjadi bagian penting dalam mendukung deklarasi peningkatan kapasitas konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. Kehadiran BBKSDA Jatim memberikan penguatan nyata bagi kami dalam mencetak generasi kehutanan yang kompeten dan berintegritas,” tambahnya.

Capaian tersebut menjadi indikator bahwa proses pembelajaran yang selama ini dilakukan telah berjalan efektif. Para siswa tidak hanya memahami teori, tetapi mampu mengaplikasikannya dengan baik dalam situasi nyata.

Permohonan kehadiran asesor eksternal sendiri sebelumnya telah diajukan secara resmi oleh pihak sekolah kepada BBKSDA Jawa Timur, sebagai bagian dari upaya menghadirkan standar profesional dalam pelaksanaan UKK. Kolaborasi ini menjadi bukti bahwa sinergi antara dunia pendidikan dan institusi konservasi mampu menghasilkan proses pembelajaran yang lebih kontekstual dan berdampak.

Di akhir kegiatan, para siswa tampak memegang peta hasil kerja mereka dengan penuh kebanggaan. Di balik lembaran tersebut, tersimpan proses panjang, ketelitian di lapangan, analisis di ruang laboratorium, dan kerja sama tim yang solid.

Uji kompetensi ini pada akhirnya bukan sekadar evaluasi kemampuan teknis. Ia adalah proses pembentukan cara pandang. Bahwa setiap titik koordinat adalah representasi kehidupan. Bahwa setiap peta adalah cerminan tanggung jawab terhadap ruang dan ekosistem.

Dan pada hari yang cerah itu, di Pacet, sebuah keyakinan tumbuh. Bahwa masa depan hutan Indonesia sedang dipersiapkan dengan sungguh-sungguh, oleh tangan-tangan muda yang belajar membaca bumi dengan penuh kesadaran.

Penulis : Fajar Dwi Nur Aji – PEH Ahli Muda BBKSDA Jatim
Editor : Agus Irwanto