Strategi Kolaboratif Mengelola Risiko Satwa Liar Di Bandara Internasional Juanda

Agus Irwanto
Strategi Kolaboratif Mengelola Risiko Satwa Liar Di Bandara Internasional Juanda

Sidoarjo - Di balik deru mesin pesawat yang membelah langit timur jawa, terdapat dinamika lain yang tak kalah penting namun sering luput dari perhatian yaitu pergerakan satwa liar. Dalam ruang udara yang sama, burung-burung melintas mengikuti naluri ekologisnya, sementara manusia mengandalkan presisi teknologi. ketika dua dunia ini bersinggungan, risiko pun tak terelakkan.

Menjawab tantangan tersebut, Balai Besar KSDA Jawa Timur bersama Otoritas Bandar Udara Wilayah III secara resmi mendeklarasikan dukungan kolaboratif dalam penanganan gangguan satwa liar (wildlife hazard) terhadap operasional penerbangan di sekitar Bandar Udara Internasional Juanda, 12 Juni 2026. 

Deklarasi ini bukan sekadar simbolik. ia menjadi fondasi sinergi lintas sektor selama tiga tahun ke depan, mencakup evaluasi berkala dokumen Wildlife Hazard Management Plan (WHMP), penguatan data ilmiah melalui Wildlife Hazard Assessment (WHA), hingga pengendalian faktor-faktor ekologis yang memicu kehadiran satwa di sekitar bandara.

Salah satu pendekatan yang diusung adalah pembangunan artificial wetland, sebuah habitat buatan yang dirancang untuk mengalihkan konsentrasi burung dari area berisiko tinggi di sisi udara bandara. Upaya ini mencerminkan perubahan paradigma, dari sekadar mengusir satwa, menjadi mengelola ruang hidupnya secara lebih adaptif dan berkelanjutan.

Selain itu, kegiatan monitoring populasi satwa liar akan dilakukan secara intensif dalam radius hingga lima kilometer dari kawasan bandara. Tidak hanya burung, tetapi juga mamalia dan reptil yang berpotensi mengganggu operasional penerbangan. Pendekatan ini diperkuat dengan koordinasi bersama pemerintah daerah untuk mengendalikan aktivitas manusia yang secara tidak langsung mengundang kehadiran satwa, seperti pembuangan sampah ilegal hingga aktivitas pertanian tertentu. 


Kepala Balai Besar KSDA Jawa Timur, Nur Patria Kurniawan, menegaskan bahwa pendekatan ini bukan tentang menghilangkan satwa dari lanskap, melainkan mengelola interaksi agar tetap aman bagi semua pihak.

“Keselamatan penerbangan adalah prioritas, namun keberadaan satwa liar juga bagian penting dari keseimbangan ekosistem. Melalui kolaborasi ini, kita tidak hanya mengurangi risiko, tetapi juga memastikan bahwa pengelolaan satwa dilakukan secara ilmiah, terukur, dan berkelanjutan,” ujarnya.

Beliau juga menekankan bahwa keberhasilan upaya ini sangat bergantung pada keterlibatan multipihak, termasuk masyarakat di sekitar bandara. 

“Kesadaran publik menjadi kunci. aktivitas sederhana seperti pengelolaan sampah atau praktik budidaya yang tidak tepat dapat memicu kehadiran satwa dalam jumlah besar. karena itu, edukasi dan sosialisasi menjadi bagian penting dari strategi ini,” tambahnya.


Dalam praktiknya, kolaborasi ini juga membuka ruang bagi pendekatan teknis yang lebih adaptif, termasuk identifikasi spesies pasca insiden, penggunaan predator alami secara terkontrol, hingga penguatan basis data sebagai landasan pengambilan keputusan.

Di tengah laju pembangunan dan mobilitas manusia yang semakin tinggi, ruang hidup satwa liar kian terdesak dan terfragmentasi. Bandara, sebagai simpul transportasi modern, menjadi salah satu titik temu yang kompleks antara kepentingan manusia dan dinamika alam.

Deklarasi ini menjadi pengingat bahwa solusi tidak selalu berarti menghilangkan salah satu pihak. Justru, masa depan terletak pada kemampuan manusia untuk membaca tanda-tanda alam dan meresponsnya dengan kebijakan yang bijak.

Di langit Juanda, upaya menjaga keselamatan kini berjalan beriringan dengan ikhtiar merawat kehidupan. Sebab pada akhirnya, langit yang aman tak bisa dipisahkan dari alam  yang tetap terjaga.


Penulis : Fajar Dwi Nur Aji - PEH Ahli Muda

Editor : Agus Irwanto

Sumber: Balai Besar KSDA Jawa Timur

15 views
1 komentar
0 shares
Rating:

Komentar (1)

Tinggalkan Komentar

Agun

🔥🔥

Artikel Terkait