Gagal Tembus Sendang Putri, Tim Temukan Surga Anggrek Hantu di Jantung Nusa Barung

Jember - Upaya tim kedua ekspedisi Pulau Nusa Barung untuk membuka jalur menuju Sendang Putri pada 8–9 Juni 2026, berakhir pada kebuntuan medan. Namun di balik kegagalan tersebut, tim justru menemukan titik habitat anggrek hantu, spesies epifit langka yang mempertegas kekayaan tersembunyi ekosistem pulau ini.
Pada hari yang sama ketika tim pertama menyusuri pesisir selatan, tujuh anggota tim lainnya memulai perjalanan berbeda, menembus daratan liar dari kawasan Sumbergempol. Misi mereka jelas, membuka jalur menuju Sendang Putri, sebuah titik yang selama ini nyaris tak tersentuh dan berpotensi menjadi akses strategis untuk patroli konservasi di Pulau Nusa Barung.
Malam pertama, 8 Juni 2026, mereka bermalam di Sumbergempol, sebuah lanskap yang tak hanya menyediakan air, namun juga kehidupan.
Di bawah kanopi hutan yang rapat, eksplorasi flora dilakukan hingga menjelang malam. Di sekitar kubangan air Sumbergempol, tim menemukan fenomena yang tak biasa. Sejumlah pohon gempol menunjukkan luka-luka pada batangnya. Kulit kayu terkoyak, meninggalkan bekas gigitan dan cakaran yang kasar.
Jejak itu seperti pesan yang belum sepenuhnya terbaca.
Setelah pengamatan lebih lanjut, tim mengindikasikan bahwa kematian beberapa pohon gempol di kawasan tersebut disebabkan oleh aktivitas satwa liar yang menggerus kulit batang hingga ke lapisan kambium. Sebagian bekas luka terkonfirmasi berasal dari aktivitas biawak yang bahkan sempat terdokumentasi memanjat batang pohon.
Namun, untuk kerusakan yang lebih dalam hingga mengelupasnya jaringan kambium, tim masih menyisakan ruang analisis, kemungkinan melibatkan spesies lain yang belum teridentifikasi. Sumbergempol, pada titik itu, menampakkan dirinya bukan sekadar sumber air, melainkan simpul interaksi ekologis.
Menjelang senja, Rusa Timor (Rusa timorensis) terlihat muncul di tepian, seolah menyapa kehadiran manusia yang hanya singgah sesaat. Tak lama berselang, satu koloni Babi Hutan (Sus scrofa) turun dan meminum air di kubangan yang sama. Siang dan malam, herbivora dan omnivora, semua bertemu di satu titik, air.
Dalam keterbatasan logistik dan minimnya sumber air di pulau, tim pun bergantung pada Sumbergempol, menggunakannya untuk memasak dan mengolah bahan pangan yang mereka bawa. Sebuah ironi kecil, bahwa manusia dan satwa liar berbagi sumber kehidupan yang sama, dalam diam dan tanpa batas.
Keesokan harinya, 9 Juni 2026, perjalanan dilanjutkan. Targetnya tinggal satu: Sendang Putri.
Tim mulai membuka jalur, menempuh sekitar 2,5 kilometer medan darat yang tidak ramah. Kontur terjal, vegetasi rapat, semak berduri, dan lilitan rotan menjadi penghalang nyata. Setiap langkah bukan sekadar maju, tetapi negosiasi dengan alam.
Harapan sempat tumbuh, bahwa jalur ini kelak dapat menjadi akses patroli bagi petugas Balai Besar KSDA Jawa Timur. Namun menjelang sore, realitas berbicara lain.
Jarak menuju Sendang Putri memang tinggal sekitar 800 meter. Tetapi jarak di peta tidak selalu berarti jarak di lapangan. Vegetasi yang terlalu rapat, medan yang ekstrem, serta keterbatasan waktu dan tenaga membuat jalur tersebut benar-benar tak tertembus. Keputusan pun diambil, kembali.
Sebuah kegagalan yang harus diterima. Namun, seperti halnya alam selalu menyisakan kejutan, perjalanan pulang justru menghadirkan temuan yang tak terduga.
Di beberapa titik vegetasi, pada ketinggian antara 0,6 hingga 4 meter dari permukaan tanah, tim menemukan anggrek epifit yang jarang terlihat, dikenal sebagai anggrek hantu. Tumbuh menempel pada batang-batang pohon di tengah kelembapan hutan, spesies ini menunjukkan karakter unik, nyaris tak berdaun, menyatu dengan lingkungan, dan hanya menampakkan dirinya pada kondisi tertentu.
Bukan satu atau dua, tetapi tersebar dalam satu kawasan yang relatif terkonsentrasi.
Sebuah “surga tersembunyi” bagi anggrek hantu di Pulau Nusa Barung.
Ekspedisi ini mungkin tidak berhasil menembus Sendang Putri. Namun kegagalan tersebut justru membuka pemahaman baru, bahwa tidak semua ruang harus ditaklukkan untuk bisa dipahami.
Sumbergempol telah menunjukkan dirinya sebagai pusat kehidupan, tempat bertemunya rusa, babi, reptil, hingga mikroorganisme yang tak kasatmata. Sementara hutan di sekitarnya menyimpan keindahan lain dalam wujud anggrek hantu yang hidup dalam senyap.
Di Nusa Barung, keberhasilan tidak selalu diukur dari jarak yang ditempuh. Kadang, ia hadir dari keberanian untuk berhenti dan kemampuan untuk melihat apa yang selama ini tersembunyi.
Penulis : Fajar Dwi Nur Aji - PEH Ahli Muda
Editor : Agus Irwanto
Komentar (0)
Tinggalkan Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!



