Sinau Ornitologi Bareng Pelita-Hijau Daun

Kediri - Pagi yang rimbun di pelataran Yayasan Hijau Daun menjadi saksi kolaborasi hangat antara Seksi KSDA Wilayah (SKW) 1 Kediri dengan pegiat alam generasi muda dan senior yang melebur dalam tajuk "Belajar Ornitologi Bersama".
Di bawah kanopi pepohonan yang rindang, para anggota Mapala Pelita berkumpul bersama pendiri Yayasan Hijau Daun pada Rabu (16/7/2026) untuk membedah sains populer yang kerap terlupakan, dunia kepakan sayap atau ornitologi. Acara ini bukan sekadar kumpul-kumpul biasa, melainkan sebuah transfer keilmuan berbasis ekologi yang dikemas secara santai namun sarat akan data ilmiah.
Indonesia, dengan statusnya sebagai salah satu negara megabiodiversity, memiliki kekayaan avifauna yang luar biasa. Urgensi inilah yang membuka sesi pertama kegiatan.
Menyelami Kekayaan Avifauna Nusantara
Akhmad David Kurnia Putra, Polhut Muda SKW 1 Kediri, membuka diskusi interaktif dengan pemaparan data mutakhir tentang keanekaragaman burung di Indonesia. Secara geografis, Indonesia terletak di antara Paparan Sunda dan Sahul menciptakan keunikan garis zonasi fauna. Hal ini memicu tingginya angka endemisitas burung di tanah air.
David menekankan bahwa memahami keanekaragaman burung bukan sekadar menghafal nama, melainkan membaca indikator kesehatan dari sebuah ekosistem.
“Jadi burung bertindak sebagai bioindikatornya, jika populasi burung di suatu wilayah terganggu, maka ada alarm ekologis yang sedang berbunyi di lingkungan tersebut,” ujarnya.
Suasana belajar semakin seru saat peserta mulai diperkenalkan pada metodologi sains warga atau citizen science. Para peserta diajarkan mengenai teknik dasar inventarisasi avifauna.
Pada sesi ini, David membedah tentang fungsi krusial binokular dan monokular sebagai "perpanjangan mata". Hal itu untuk meminimalkan jarak bias tanpa mendisturbansi perilaku alami burung yang sedang diamati.
Selanjutnya, peserta diperkenalkan dengan Seni Sketsa Lapangan. Kali ini mereka dilatih menangkap anatomi burung secara cepat lewat sketsa. Dalam dunia ornitologi, sketsa lapangan sangat vital untuk mencatat field marks (ciri diagnosis fisik) burung, seperti bentuk paruh, warna bulu dada, atau pola ekor sebelum burung terbang menjauh.
Tak lupa Om Dev (panggilan akrab David) menjelaskan tentang Identifikasi Buku Panduan. Yakni, mengasah akurasi klasifikasi taksonomi menggunakan buku panduan lapangan (field guide) sebagai acuan validasi ilmiah spesies di lapangan.
Bersiap Menuju Praktik Lapangan
Pertemuan perdana ini setidaknya berhasil meletakkan fondasi teoritis yang kuat bagi para anggota Mapala Pelita. Namun, petualangan ilmiah ini baru saja dimulai.
Pada pertemuan kedua mendatang, seluruh peserta dijadwalkan akan langsung diajak terjun ke lapangan. Mereka akan menguji ketajaman mata dan akurasi identifikasi dalam praktik pengamatan burung (birdwatching) secara langsung untuk mendata keanekaragaman lokal secara nyata.
Penulis: Siti Nurlaili, PEH Ahli Muda
Editor: Agus Irwanto
Komentar (0)
Tinggalkan Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!



