Menyemai Ficus, Upaya Konservasi Sang Raksasa Hijau

Kediri - Halaman belakang kantor Seksi KSDA Wilayah (SKW) I Kediri mendadak berubah menjadi laboratorium alam yang hidup pada Rabu 15 Juli 2026. Bukan riset kaku dengan jas laboratorium, melainkan sebuah sesi berbagi ilmu yang santai namun sarat ilmu botani.
Tim SKW I Kediri menggelar kegiatan belajar persemaian interaktif bersama sang maestro lokal, Rudiyanto, yang akrab disapa "Mbah Leses". Julukan unik ini bukan tanpa alasan.
Rudiyanto merupakan seorang kader konservasi yang memiliki reputasi praktis luar biasa dalam menjinakkan benih pohon Leses (Ficus albipila). Spesies raksasa yang menjadi simbol kebanggaan Cagar Alam (CA) Manggis Gadungan. Tumbuhan ini dikenal memiliki tingkat kesulitan persemaian yang tinggi di dalam kawasan.
Teori Dulu, Praktis Kemudian
Kegiatan di pagi hari bukan lagi sekedar obrolan basa basi, namun berisi mengupas tuntas rahasia di balik dinding sel dan hormon pertumbuhan tanaman. Mbah Leses membuka sesi dengan pemaparan sederhana viabilitas benih dan kondisi mikro ideal untuk genus Ficus.
Setelah teori dikupas habis, suasana semakin seru saat tim masuk ke sesi hands-on eksternal atau praktik langsung. Fokusnya ada pada tiga primadona hijau dari CA. Manggis Gadungan, Ficus albipila (Leses), Ficus nervosa, dan Ficus magnoliifolia.
Langkah perdana dimulai dengan ilmu media tanam yang sering disebut growing medium. Struktur tanahnya tidak boleh sembarangan, karena Ficus membutuhkan porositas tinggi agar akar muda tidak membusuk. Tim bersama Mbah Leses mempraktikkan pencampuran formula pasir, tanah, dan sekam lapuk dengan rasio yang presisi, hal ini demi mendapatkan drainase maksimal.
Seni Mengekstrak Buah Basah vs Biji Kering
Tantangan sesungguhnya ada pada teknik penanganan benih yang terbagi menjadi dua metode kekinian. Yang pertama, Metode Ekstraksi Buah Basah. Pada metode ini tim memisahkan biji mikro dari daging buah segar Ficus albipila dan Ficus nervosa. Proses ini cukup krusial, karena harus menghilangkan zat inhibitor atau penghambat tumbuh yang ada pada daging buah.
Sedangkan yang kedua, Metode Semai Biji Kering. Berbeda dengan metode pertama, penyemaian biji kering Ficus albipila dan Ficus magnoliifolia menuntut kelembapan yang konsisten. Tim belajar teknik tabur halus di atas media tanpa perlu menimbunnya, mengingat karakter biji Ficus yang bersifat fotoblastik positif atau membutuhkan cahaya untuk berkecambah.
Melalui kolaborasi sains modern dan kearifan lokal dari Mbah Leses, SKW I Kediri optimistis kegiatan ini menjadi langkah taktis dalam menjaga biodiversitas vegetasi asli CA. Manggis Gadungan dari kepunahan. Bagaimana menurutmu?
Penulis: Siti Nurlaili, PEH Ahli Muda
Editor: Agus Irwanto
Komentar (0)
Tinggalkan Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!



