Ketika Elang Tak Lagi Menguasai Langit

Agus Irwanto
Ketika Elang Tak Lagi Menguasai Langit

Bondowoso - Elang itu masih menatap langit. Kedua sayapnya utuh, bulu-bulunya nyaris tak rusak. Namun ia hanya mampu rebah di pematang sawah, tanpa sanggup berdiri, apalagi terbang.

Begitulah kondisi seekor Elang Tikus (Elanus caeruleus) ketika ditemukan di Dusun Taalbuk, Desa Taal, Kecamatan Tapen, Kabupaten Bondowoso, Selasa, 14 Juli 2026. Burung pemangsa yang selama ini dikenal sebagai pengendali alami populasi tikus sawah itu ditemukan oleh seorang petani yang tengah mengambil jerami untuk pakan ternaknya.

Satwa kemudian diserahkan kepada anaknya, Fendy, yang memilih melaporkan temuan tersebut kepada Balai Besar KSDA Jawa Timur. Keesokan harinya, Rabu (15/7), Tim Matawali Bidang KSDA Wilayah III Jember bergerak menuju lokasi untuk melakukan evakuasi.

Elang itu segera dibawa ke Jember Mini Zoo agar mendapatkan penanganan medis. Pemeriksaan dokter hewan menunjukkan kondisi yang jauh lebih serius daripada yang tampak dari luar. Tulang paha kaki kanannya mengalami patah remuk.

Cedera itu membuat seluruh kemampuan alaminya seolah terputus. Seekor elang memang terbang dengan sayap, tetapi ia bertumpu pada kedua kaki saat lepas landas, mendarat, dan mencengkeram mangsa. Ketika kaki kehilangan fungsinya, langit pun menjadi tempat yang tak lagi dapat ia raih.

Temuan medis juga mengubah dugaan awal. Luka pada bagian sayap sempat memunculkan kekhawatiran adanya tembakan. Namun setelah diperiksa lebih mendalam, dokter hewan memastikan tidak ditemukan tanda-tanda yang mengarah pada luka akibat proyektil. Sayap berada dalam kondisi baik, sedangkan penyebab luka maupun patah tulang pada kaki masih belum dapat dipastikan.

Kepala Balai Besar KSDA Jawa Timur, Nur Patria Kurniawan, S.Hut., M.Sc., meminta semua pihak tidak tergesa-gesa menarik kesimpulan.

"Kami mengapresiasi kepedulian masyarakat yang telah menyerahkan satwa ini kepada petugas. Berdasarkan hasil pemeriksaan dokter hewan, tidak ditemukan indikasi luka akibat tembakan pada sayap. Cedera utama berada pada tulang paha kaki kanan yang mengalami patah remuk. Hingga saat ini penyebabnya masih belum dapat dipastikan dan masih memerlukan pendalaman lebih lanjut," ujarnya.

Menurut Nur Patria, konservasi harus dibangun di atas fakta, bukan asumsi. Karena itu, setiap dugaan mengenai penyebab cedera harus menunggu hasil pemeriksaan yang dapat dipertanggungjawabkan.

"Apabila di kemudian hari ditemukan adanya indikasi tindak pidana terhadap satwa liar dilindungi, tentu akan kami tindak lanjuti sesuai ketentuan yang berlaku. Namun saat ini prioritas kami adalah memastikan satwa memperoleh perawatan terbaik sehingga peluang pemulihannya tetap terbuka," tegasnya.

Elang Tikus bukan satwa yang asing bagi bentang persawahan. Burung pemangsa ini merupakan predator alami tikus, salah satu hama utama pertanian. Keberadaannya membantu petani menjaga keseimbangan ekosistem tanpa bergantung sepenuhnya pada pestisida.

Pesan itulah yang turut disampaikan petugas kepada warga saat proses evakuasi berlangsung. Menyelamatkan Elang Tikus berarti menjaga salah satu mata rantai penting dalam ekosistem pertanian.

Kini Elang Tikus tersebut masih menjalani perawatan intensif di Jember Mini Zoo. Jalan menuju kebebasannya masih panjang. Tim medis akan terus memantau perkembangan kondisi satwa sebelum menentukan apakah ia memiliki peluang kembali ke habitat alaminya.

Boleh jadi kisah ini hanya tentang seekor elang yang jatuh di tengah sawah. Namun sesungguhnya ia juga berkisah tentang pilihan manusia. Di satu sisi, masih ada ancaman yang membuat satwa liar terluka. Di sisi lain, masih ada tangan-tangan yang memilih menolong daripada membiarkan.

Dari pilihan-pilihan kecil itulah, masa depan konservasi sering kali ditentukan. Bukan ketika seekor elang terbang tinggi di langit, melainkan ketika ada manusia yang memutuskan bahwa langit itu masih layak menjadi rumahnya.

Penulis : Fajar Dwi Nur Aji - PEH Ahli Muda
Editor : Agus Irwanto
Sumber : Bidang KSDA Wilayah III Jember

35 views
0 komentar
0 shares
Rating:

Komentar (0)

Tinggalkan Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!

Artikel Terkait

Jalan Tengah di Puger
Berita

Jalan Tengah di Puger

Jember - Ketika Landak dan Monyet memasuki ladang jagung, penyelesaiannya bukan memburu satwa, melainkan merancang solusi yang melindungi petani sekaligus menjaga kelestarian alam. Di Puger, Kabupaten