Demi Mengajarkan Cinta Yang Benar, Seorang Ibu Serahkan Elang Tikus Kepada Negara

Agus Irwanto
Demi Mengajarkan Cinta Yang Benar, Seorang Ibu Serahkan Elang Tikus Kepada Negara
"Mendidik anak bukan hanya mengajarkan cara mencintai satwa, tetapi juga memahami bahwa satwa liar memiliki rumah yang tak tergantikan yaitu alam"

Kota Batu - Menjelang peringatan Hari Anak Nasional 2026, sebuah kisah sederhana dari Kelurahan Sisir, Kota Batu, menghadirkan makna baru tentang kasih sayang orang tua. Bukan dengan memberikan apa yang diinginkan anaknya, melainkan dengan mengajarkan keberanian melakukan hal yang benar.

Pada 16 Juli 2026, Tim Matawali Balai Besar KSDA Jawa Timur melalui Resort Konservasi Wilayah (RKW) 17 Malang mengevakuasi seekor Elang Tikus (Elanus caeruleus) yang diserahkan secara sukarela oleh seorang warga, Ibu Nunik. Penyerahan itu merupakan tindak lanjut atas laporan yang disampaikan sehari sebelumnya kepada petugas BBKSDA Jawa Timur.

Elang tersebut diketahui telah dipelihara selama kurang lebih dua tahun. Menurut penuturan Ibu Nunik, burung pemangsa itu dibeli oleh anaknya melalui media sosial Facebook. Namun seiring waktu, muncul pertanyaan dalam benaknya mengenai status satwa tersebut dan apakah sudah tepat memeliharanya.

Rasa ingin tahu itulah yang akhirnya mengantarkannya menghubungi BBKSDA Jawa Timur.

Alih-alih mempertahankan satwa yang telah lama dipelihara keluarganya, Ibu Nunik justru memilih menyerahkannya kepada negara agar dapat memperoleh kesempatan kembali hidup di habitat alaminya.

Bagi konservasi, keputusan itu memiliki makna yang jauh lebih besar daripada sekadar proses evakuasi seekor burung pemangsa. Di baliknya tersimpan pelajaran bahwa kasih sayang kepada anak tidak selalu diwujudkan dengan memenuhi setiap keinginannya. Terkadang, kasih sayang justru hadir melalui teladan untuk menghormati kehidupan makhluk lain.

Momentum ini sejalan dengan semangat Hari Anak Nasional 2026, yang mengingatkan bahwa pendidikan karakter dimulai dari lingkungan keluarga. Mengenalkan anak pada nilai-nilai konservasi berarti menanamkan empati, tanggung jawab, dan penghormatan terhadap kehidupan sejak usia dini. Anak-anak perlu memahami bahwa satwa liar bukanlah hewan peliharaan, melainkan bagian penting dari ekosistem yang harus tetap hidup bebas di alam.

Selama proses evakuasi, petugas juga memberikan edukasi kepada keluarga mengenai peran ekologis Elang Tikus sebagai predator alami pengendali populasi tikus di lahan pertanian, sekaligus menjelaskan aspek hukum terkait perlindungan dan pemanfaatan satwa liar.

Menurut Agus Irwanto, Tim Matawali RKW 17 Malang, bahwa penyerahan satwa secara sukarela merupakan bentuk keberhasilan pendekatan konservasi yang mengedepankan edukasi.

"Kami sangat mengapresiasi keputusan Ibu Nunik dan keluarga. Di momentum Hari Anak Nasional, tindakan ini menjadi teladan bahwa mencintai anak juga berarti mengajarkan mereka mencintai alam dengan cara yang benar. Satwa liar bukan untuk dipelihara, melainkan untuk tetap hidup bebas menjalankan perannya di alam. Kesadaran seperti inilah yang menjadi fondasi keberhasilan konservasi di masa depan," ujarnya.

Hasil pemeriksaan awal menunjukkan Elang Tikus berada dalam kondisi sehat tanpa luka maupun cacat fisik. Selanjutnya, satwa dibawa ke kandang transit RKW 17 Malang sebelum diteruskan ke Unit Penyelamatan Satwa (UPS) BBKSDA Jawa Timur di Sidoarjo untuk menjalani observasi, pemeriksaan kesehatan, dan penilaian kelayakan sebelum dilepasliarkan.

Kisah dari Kota Batu ini menunjukkan bahwa konservasi tidak selalu dimulai dari hutan atau kawasan lindung. Terkadang, ia lahir dari ruang keluarga, ketika seorang ibu memilih memberikan pelajaran hidup yang paling berharga kepada anaknya: bahwa mencintai satwa liar berarti membiarkannya tetap menjadi bagian dari alam.

Penulis : Fajar Dwi Nur Aji - PEH Ahli Muda
Editor : Agus Irwanto
Sumber : Bidang KSDA Wilayah III Jember
39 views
0 komentar
2 shares
Rating:

Komentar (0)

Tinggalkan Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!

Artikel Terkait