Saat Asap Muncul di Tengah Patroli, Tim Berpacu Selamatkan Suaka Margasatwa Pulau Bawean

Gresik - Langkah Tim Smart Patrol Resort Konservasi Wilayah (RKW) 09 Gresik–Bawean sejatinya telah mengarah pulang. Setelah menuntaskan patroli rutin di Suaka Margasatwa Pulau Bawean, mereka meninggalkan jalur hutan dengan membawa data hasil pengamatan lapangan. Namun, sekitar pukul 14.00 WIB, Kamis (23/7), kepulan asap yang membumbung dari Blok Teneden mengubah arah perjalanan itu menjadi sebuah operasi tanggap darurat.
Tanpa menunggu lama, tim segera bergerak menuju sumber asap. Setibanya di lokasi, mereka mendapati kebakaran hutan dan lahan tengah menjalar pada vegetasi bawah di kawasan konservasi. Waktu menjadi faktor yang sangat menentukan. Jika terlambat ditangani, api berpotensi meluas, apalagi di tengah musim kemarau ketika serasah, semak, dan rerumputan berada dalam kondisi kering serta mudah terbakar.
Sebagai langkah awal, personel melakukan pemadaman secara manual menggunakan ranting dan batang pohon untuk memukul kobaran api agar tidak terus merambat. Di saat yang sama, koordinasi dilakukan dengan personel lain di Kantor RKW 09 Gresik–Bawean agar segera membawa peralatan pemadaman berupa jet shooter ke lokasi kejadian.
Upaya tersebut melibatkan berbagai unsur, mulai dari personel Balai Besar KSDA Jawa Timur, Masyarakat Mitra Polhut Bawean Lestari, KPH Bawean Lestari, mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember, hingga anggota Wanala Universitas Airlangga. Kolaborasi lintas unsur itu mempercepat proses pengendalian api sehingga sekitar pukul 15.00 WIB kobaran berhasil dipadamkan sebelum menjalar lebih luas.
Setelah api padam, pekerjaan belum selesai
Tim segera melaksanakan proses mop up atau pendinginan untuk memastikan tidak ada bara api yang masih tersisa. Perhatian khusus diberikan pada dua rumpun bambu yang berada di dalam area terbakar. Berbeda dengan vegetasi lain, rumpun bambu memiliki lapisan serasah tebal dan rongga di bagian pangkal yang mampu menyimpan panas lebih lama. Bara api yang tampak padam di permukaan masih berpotensi memicu kebakaran ulang apabila tidak benar-benar dipastikan padam.
Berdasarkan hasil pengukuran lapangan, luas areal terdampak diperkirakan sekitar ±0,3 Ha. Vegetasi yang terbakar didominasi oleh tegakan Jati (Tectona grandis) dengan lapisan bawah berupa semak dan rerumputan kering.
Meskipun luasan kebakaran relatif terbatas, dampak ekologisnya tetap tidak dapat diabaikan. Api tidak hanya menghanguskan vegetasi bawah, tetapi juga menghilangkan ruang berlindung, tempat mencari makan, dan habitat sementara bagi berbagai satwa kecil seperti reptil, amfibi, serangga, mamalia kecil, hingga burung-burung yang bergantung pada lapisan serasah hutan.
Dalam proses penelusuran lokasi, tim juga menemukan bekas pembakaran timbunan dedaunan kering yang terdiri atas daun kelapa, nipah, semak, dan rerumputan di sekitar titik awal kebakaran. Temuan tersebut menjadi indikasi awal yang memerlukan pendalaman lebih lanjut. Hingga laporan ini disusun, penyebab pasti kebakaran maupun pihak yang bertanggung jawab belum dapat dipastikan sehingga diperlukan pengumpulan informasi tambahan serta koordinasi dengan masyarakat dan pihak terkait.
Lokasi kejadian diketahui berada di kawasan yang berbatasan dengan aktivitas masyarakat. Kondisi tersebut menjadikan Blok Teneden memiliki tingkat kerawanan lebih tinggi terhadap kebakaran yang dipicu oleh aktivitas manusia, terutama pada musim kemarau ketika bahan bakar permukaan terakumulasi dalam jumlah besar.
Karena itu, penanganan kebakaran tidak berhenti pada pemadaman api. Tim juga memberikan edukasi kepada masyarakat sekitar mengenai bahaya pembakaran sisa vegetasi, pentingnya kewaspadaan selama musim kemarau, serta perlunya segera melaporkan apabila ditemukan kepulan asap di sekitar kawasan konservasi.
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa keberhasilan perlindungan kawasan konservasi tidak hanya ditentukan oleh kemampuan memadamkan api, tetapi juga oleh kecepatan mendeteksi ancaman sebelum berkembang menjadi bencana yang lebih besar.
Respon cepat yang ditunjukkan Tim RKW 09 Gresik–Bawean bersama para mitra di lapangan berhasil mencegah api meluas ke bagian lain Suaka Margasatwa Pulau Bawean. Namun, di balik keberhasilan tersebut tersimpan pesan yang lebih penting: konservasi membutuhkan kewaspadaan yang tidak pernah berhenti.
Di musim kemarau, satu kepulan asap dapat menjadi awal dari hilangnya habitat, terganggunya kehidupan satwa liar, dan rusaknya fungsi ekologis kawasan. Karena itu, perlindungan hutan tidak hanya menjadi tugas petugas konservasi, melainkan tanggung jawab bersama seluruh elemen masyarakat.
Sebab menjaga kawasan konservasi bukan sekadar memadamkan api yang telah menyala, melainkan memastikan api itu tidak pernah memiliki kesempatan untuk tumbuh menjadi ancaman bagi rumah terakhir keanekaragaman hayati Pulau Bawean.
Penulis : Fajar Dwi Nur Aji - PEH Ahli Muda
Editor : Agus Irwanto
Sumber : Bidang KSDA Wilayah II Gresik
Komentar (0)
Tinggalkan Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!



