Tembus Kabut Dataran Tinggi Yang, Tim Smart Patrol Temukan Jejak Luka di Suaka Margasatwa

Agus Irwanto
Tembus Kabut Dataran Tinggi Yang, Tim Smart Patrol Temukan Jejak Luka di Suaka Margasatwa

Probolinggo - Kabut turun perlahan menutupi hamparan sabana dan hutan pegunungan di Dataran Tinggi Yang. Di bentang alam yang menjadi salah satu kantong penting keanekaragaman hayati Jawa Timur itu, langkah para petugas konservasi nyaris tenggelam dalam keheningan. 

Namun, di balik kesejukan pegunungan, mereka menemukan cerita lain. Jejak-jejak yang mengisyaratkan bahwa ancaman terhadap satwa liar masih membayangi kawasan yang seharusnya menjadi ruang aman bagi kehidupan.

Selama enam hari, mulai 13 hingga 18 Juli 2026, Balai Besar KSDA Jawa Timur melalui Seksi KSDA Wilayah VI Probolinggo bersama Masyarakat Mitra Polhut (MMP) Rengganis melaksanakan Smart Patrol di Suaka Margasatwa Dataran Tinggi Yang. Mengombinasikan patroli darat dan pemantauan udara menggunakan pesawat nirawak (drone), tim menyisir 18 grid pengawasan dengan cakupan area mencapai 1.232,02 Ha.

Patroli ini bukan sekadar memastikan batas kawasan tetap aman. Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi upaya membaca denyut kehidupan hutan sekaligus mendeteksi sedini mungkin berbagai bentuk gangguan terhadap ekosistem.

Perjalanan dimulai dari Pos Baderan, tempat personel mempersiapkan logistik dan peralatan lapangan. Keesokan harinya, tim bergerak menuju batas kawasan menggunakan kendaraan roda dua sebelum melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki menuju Sabana Kecil. Dari lokasi inilah drone pertama diterbangkan, menjangkau Grid 37 yang berjarak sekitar 1,7 kilometer dari titik lepas landas.

Pada hari-hari berikutnya, patroli berlangsung melintasi Sabana Cikasur, Cisentor hingga Danau Taman Hidup. Teknologi drone dimanfaatkan untuk memantau area-area yang sulit dijangkau akibat medan terjal, vegetasi rapat, maupun keterbatasan akses darat.

Di salah satu titik pengamatan, tim bahkan harus mengubah target penerbangan. Rencana pemantauan menuju Grid 119 dibatalkan setelah pilot mempertimbangkan keberadaan tebing yang berpotensi mengganggu kualitas sinyal antara drone dan pengendali. Sebagai langkah mitigasi risiko, pemantauan dialihkan ke Grid 135 agar operasi tetap berlangsung aman dan efektif.

Namun, tantangan terbesar justru datang dari alam. Menjelang akhir patroli, kabut tebal dan awan rendah menyelimuti kawasan pegunungan sehingga pemantauan udara pada Grid 56, 124, 125, 126, dan 127 tidak dapat dilaksanakan. Dalam pengelolaan kawasan konservasi, keselamatan personel dan keamanan operasi tetap menjadi prioritas utama.

Di tengah keterbatasan itu, hutan masih memperlihatkan denyut kehidupannya. Tim mencatat sedikitnya delapan tanda keberadaan satwa liar. Antara lain, Lutung Jawa (Trachypithecus auratus), Babi Hutan (Sus scrofa), Kucing Tandang (Prionailurus planiceps), Ayam Hutan (Gallus spp.), Sikatan-rimba Gunung (Rhinomyias gularis), Cekakak Sungai (Todiramphus chloris), Cucak Kutilang (Pycnonotus aurigaster), serta seekor elang yang belum teridentifikasi jenisnya karena jarak pengamatan yang cukup jauh.

Keberadaan satwa-satwa tersebut menunjukkan bahwa Suaka Margasatwa Dataran Tinggi Yang masih menyimpan kekayaan biodiversitas yang menjadi penyangga penting ekosistem pegunungan di Jawa Timur. Vegetasi kawasan pun masih didominasi oleh Cemara Gunung (Casuarina junghuhniana), spesies khas pegunungan yang berperan menjaga kestabilan tanah, tata air, dan karakter lanskap dataran tinggi.

Namun, di sela-sela jejak kehidupan itu, tim juga menemukan sesuatu yang berbeda. Bekas jebakan satwa. Sisa camp pemburu. Dan, jejak aktivitas pengolahan Ayam Hutan.

Tidak ada pelaku yang dijumpai saat patroli berlangsung. Namun, temuan-temuan tersebut menjadi penanda bahwa tekanan terhadap kawasan konservasi masih nyata. Bagi petugas lapangan, benda-benda yang tertinggal itu bukan sekadar sisa aktivitas manusia. Ia adalah jejak luka yang ditinggalkan pada ruang hidup satwa liar.

Setiap jebakan yang dipasang berpotensi mencederai satwa yang bukan menjadi target. Setiap aktivitas perburuan dapat mengganggu keseimbangan rantai makanan, mengurangi populasi satwa, bahkan mengancam keberlangsungan spesies yang menjadi bagian penting dari ekosistem hutan pegunungan.

Karena itu, Smart Patrol tidak hanya berfungsi sebagai kegiatan pengamanan kawasan. Patroli menjadi instrumen penting dalam mendeteksi ancaman, mengumpulkan informasi lapangan, serta memastikan setiap perubahan kondisi kawasan dapat segera ditindaklanjuti melalui pengelolaan yang adaptif.

Pelaksanaan patroli ini juga memperlihatkan bagaimana kolaborasi menjadi kunci keberhasilan konservasi. Kehadiran Masyarakat Mitra Polhut (MMP) Rengganis bersama personel Balai Besar KSDA Jawa Timur memperkuat pengawasan di tingkat tapak sekaligus menumbuhkan rasa memiliki terhadap kawasan konservasi sebagai warisan bersama.

Di sisi lain, pemanfaatan teknologi drone menunjukkan bahwa pengelolaan kawasan konservasi terus berkembang mengikuti kemajuan zaman. Citra udara membantu memperluas jangkauan pengawasan, mempercepat identifikasi potensi gangguan, serta meningkatkan efektivitas patroli pada kawasan dengan medan yang sulit dijangkau.

Namun, secanggih apa pun teknologi yang digunakan, konservasi pada akhirnya tetap bertumpu pada langkah-langkah manusia yang rela menembus kabut, menyusuri lereng, dan membaca setiap jejak yang tertinggal di lantai hutan.

Sebab di Suaka Margasatwa Dataran Tinggi Yang, kabut mungkin akan selalu datang dan pergi. Tetapi selama masih ada para penjaga hutan yang setia mengawasi, setiap jejak luka yang ditemukan akan menjadi pengingat bahwa alam tidak boleh dibiarkan berjuang sendirian.

Penulis : Fajar Dwi Nur Aji - PEH Ahli Muda
Editor : Agus Irwanto
Sumber : Bidang KSDA Wilayah III Jember

26 views
0 komentar
0 shares
Rating:

Komentar (0)

Tinggalkan Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!

Artikel Terkait

Tak Sekadar Pindah Kandang
Berita

Tak Sekadar Pindah Kandang

Pemindahan belasan Rusa Bawean menjadi bagian dari ikhtiar merawat populasi satwa endemik Indonesia di lembaga konservasiSurabaya - Satu per satu rusa melangkah memasuki kandang angkut. Gerakannya ten