Musim Migrasi Belum Tiba, BBKSDA Jawa Timur Lepasliarkan Sikep Madu Asia

Bawean - Seekor Sikep Madu Asia (Pernis ptilorhynchus) kembali mengudara di langit Pulau Bawean, Sabtu, 25 Juli 2026. Burung pemangsa yang sebelumnya diselamatkan dari pemeliharaan masyarakat itu dilepasliarkan oleh Balai Besar KSDA Jawa Timur setelah menyelesaikan seluruh tahapan rehabilitasi dan dinyatakan layak kembali ke habitat alaminya.
Pelepasliaran dilaksanakan di kawasan Blok Gunung Besar, Suaka Margasatwa Pulau Bawean. Lokasi tersebut dipilih karena memiliki tutupan hutan yang masih baik serta ketersediaan sumber pakan alami berupa koloni lebah hutan dan sarang tawon, yang menjadi makanan utama Sikep Madu Asia.
Kegiatan tersebut merupakan implementasi pendekatan konservasi rescue–rehabilitation–release yang diterapkan Balai Besar KSDA Jawa Timur sekaligus menjadi bagian dari rangkaian Road to Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) 2026.
Satwa itu diterima BBKSDA Jawa Timur melalui Resort Konservasi Wilayah (RKW) 09 Gresik–Bawean pada 9 Maret 2026 dari penyerahan sukarela masyarakat. Selama kurang lebih empat bulan, burung tersebut menjalani rehabilitasi di Pos Riset RKW 09 Gresik–Bawean. Proses rehabilitasi meliputi pemulihan kondisi fisik, pemeriksaan kesehatan, latihan terbang, hingga pembentukan kembali respons alaminya terhadap lingkungan.
Karena proses penyelamatan, rehabilitasi, dan pelepasliaran berlangsung pada bentang alam yang sama, tim menggunakan metode hard release, yaitu pelepasan langsung ke habitat tanpa melalui kandang habituasi. Pendekatan ini dinilai tepat karena individu tersebut telah mengenali karakteristik habitat Pulau Bawean sehingga risiko disorientasi relatif rendah.
Sebelum dilepasliarkan, petugas memasang tanda sebagai identitas individu. Penandaan ini menjadi bagian dari sistem monitoring pascalepasliaran untuk mendukung pengumpulan data apabila satwa kembali teramati pada musim migrasi berikutnya.
Setelah pintu kandang dibuka, Sikep Madu Asia segera terbang menuju tajuk pohon di sekitar lokasi. Burung tersebut tampak berpindah pada beberapa pohon sambil melakukan orientasi lingkungan sebelum akhirnya menghilang ke dalam tutupan hutan. Tim Matawali BBKSDA Jawa Timur tetap melakukan pengamatan hingga satwa tidak lagi terlihat dan dipastikan tidak menunjukkan gangguan perilaku maupun kemampuan terbang.
Pulau Bawean memiliki posisi ekologis yang penting dalam jalur migrasi burung pemangsa Asia Timur–Australasia ini. Setiap tahun berbagai jenis raptor migran memanfaatkan pulau ini sebagai lokasi persinggahan sebelum melanjutkan perjalanan menuju wilayah musim dingin di Asia Tenggara maupun kembali ke daerah berbiaknya di Asia Timur.
Pertimbangan pelepasliaran pada akhir Juli dipilih berdasarkan pertimbangan ekologis. Waktu tersebut berada di luar periode migrasi aktif sehingga individu hasil rehabilitasi memiliki kesempatan untuk membangun kembali kondisi fisik, mengenali habitat, dan beradaptasi dengan sumber pakan sebelum populasi burung migran mulai berdatangan pada September hingga Oktober.
Selain itu, karakter habitat Suaka Margasatwa Pulau Bawean yang masih menyediakan koloni lebah dan tawon menjadi faktor penting. Sikep Madu Asia merupakan burung pemangsa yang memiliki adaptasi morfologi khusus berupa sisik kecil pada wajah dan bulu yang rapat sehingga mampu memangsa larva lebah maupun sarang tawon tanpa mudah mengalami sengatan.
Kepala Balai Besar KSDA Jawa Timur, Nur Patria Kurniawan menyampaikan bahwa setiap pelepasliaran satwa liar bukan sekadar mengembalikan satu individu ke alam, melainkan memastikan fungsi ekologisnya kembali berjalan di habitat asli.
"Konservasi tidak berhenti pada proses penyelamatan. Keberhasilan sesungguhnya adalah ketika satwa mampu kembali menjalankan peran ekologisnya di alam,” ujarnya.
“Karena itu, rehabilitasi, pemilihan waktu pelepasliaran, kesesuaian habitat, hingga pemantauan pascalepasliaran merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Pulau Bawean memiliki arti penting sebagai habitat satwa liar sekaligus lokasi persinggahan burung migran dunia yang harus terus dijaga bersama," tandasnya.
Melalui pemasangan tanda, BBKSDA Jawa Timur juga akan melaksanakan pemantauan berkala terhadap individu tersebut apabila kembali teramati di Pulau Bawean. Data hasil monitoring diharapkan dapat memperkaya basis data ilmiah mengenai pola migrasi raptor sekaligus mendukung penyusunan strategi pengelolaan habitat yang lebih adaptif.
Pelepasliaran ini sekaligus menegaskan bahwa keberhasilan konservasi merupakan hasil kolaborasi berbagai pihak. Tim Matawali BBKSDA Jawa Timur, mahasiswa Departemen Biologi Fakultas Sains dan Analitika Data - Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), serta Wanala Universitas Airlangga terlibat bersama dalam seluruh rangkaian kegiatan, mulai dari rehabilitasi hingga pengamatan pascalepasliaran.
Di tengah meningkatnya tekanan terhadap habitat dan populasi satwa liar, satu individu yang kembali terbang mungkin tampak sederhana. Namun, bagi konservasi, setiap individu yang berhasil kembali ke alam berarti satu mata rantai ekosistem tetap terjaga dan satu bagian penting dari jalur migrasi burung dunia tetap memiliki tempat untuk pulang.
Penulis : Fajar Dwi Nur Aji - PEH Ahli Muda
Editor : Agus Irwanto
Sumber : Bidang KSDA Wilayah II Gresik
Komentar (1)
Tinggalkan Komentar
Boy Goerge
wow, semoga bertahan dan bertemu jodohnya



