Menyisir Picis, Mencari Jejak yang Tersembunyi, Smart Patrol dan JWLS Mengunci Data Kunci di Hutan Ponorogo
Ponorogo – Tim patroli memasuki hutan Gunung Picis saat kabut belum sepenuhnya terangkat. Jalur setapak masih basah, daun-daun gugur menutup jejak lama. Di kawasan konservasi yang relatif sunyi ini, aktivitas justru sedang berlangsung intens, bukan oleh satwa, melainkan oleh manusia yang berupaya memahami keberadaan mereka.
Selama tiga hari, 14–16 April 2026, tim Smart Patrol dari RKW 05 Ponorogo, Seksi KSDA Wilayah II, menyisir sejumlah grid pengamatan di Cagar Alam Gunung Picis. Luas area yang dijangkau mencapai hampir dua hektar. Kegiatan ini bukan sekadar patroli rutin. Ia terhubung langsung dengan agenda yang lebih besar, integrasi dengan Java Wide Leopard Survey (JWLS).
Fokusnya jelas, mengumpulkan data lapangan sebagai dasar membaca kondisi habitat, sekaligus membuka peluang deteksi keberadaan Macan Tutul Jawa (Panthera pardus melas), predator kunci yang populasinya terus menjadi perhatian.
Di lapangan, temuan dicatat secara sistematis. Sejumlah fauna teridentifikasi selama patroli berlangsung. Elang hitam (Ictinaetus malayensis) terlihat melintas di atas kanopi. Musang (Paradoxurus hermaphroditus) meninggalkan jejak aktivitasnya. Kupu-kupu (Ancistroides gemmifer) dan keong darat (Dzakiya rumphii) menjadi indikator mikrohabitat yang masih terjaga. Sementara burung Tulung Tumpuk (Psilopogon javensis) menandai bahwa struktur vegetasi hutan masih cukup baik untuk mendukung kehidupan avifauna.
Dari sisi vegetasi, tim mencatat sedikitnya 17 jenis flora. Di antaranya Pasang (Lithocarpus sp.), Morosowo (Engelhardia spicata), hingga Kemaduh (Dendrocnide stimulans). Komposisi ini menunjukkan bahwa kawasan masih memiliki karakter hutan alam yang relatif utuh, faktor penting bagi keberlangsungan satwa liar, terutama spesies dengan kebutuhan habitat luas seperti macan tutul.
Namun tidak semua temuan memberi sinyal positif. Dua pal batas kawasan ditemukan dalam kondisi fisik utuh, tetapi informasi identitasnya tidak lagi terbaca. Kondisi ini berpotensi menimbulkan ambiguitas batas di lapangan, persoalan klasik yang kerap luput, namun berdampak pada efektivitas pengelolaan kawasan.
Pada saat yang sama, tim Smart Patrol juga melakukan pendampingan terhadap tim JWLS yang tengah memasang kamera trap di beberapa titik strategis. Perangkat ini menjadi instrumen kunci dalam survei satwa liar modern, bekerja tanpa kehadiran manusia, merekam pergerakan satwa yang jarang terdeteksi secara langsung.
Integrasi antara patroli lapangan dan teknologi pemantauan ini menandai pendekatan yang semakin terukur dalam konservasi. Data tidak lagi bergantung pada pengamatan kasat mata semata, melainkan diperkuat dengan bukti visual yang dapat diverifikasi.
Keterlibatan mahasiswa magang dari Universitas Negeri Surabaya (UNESA) menambah dimensi lain dalam kegiatan ini. Mereka terlibat langsung dalam proses pencatatan hingga pendampingan teknis di lapangan, sebuah pengalaman yang jarang diperoleh di ruang kelas.
Gunung Picis mungkin tidak banyak disebut dalam peta prioritas nasional. Namun dari data yang dikumpulkan perlahan, kawasan ini menunjukkan satu hal penting bahwa ia masih menyimpan fungsi ekologis yang bekerja.
Dan di tengah upaya itu, satu pertanyaan tetap menggantung, apakah data yang terkumpul cukup cepat untuk menjawab ancaman yang datang lebih dahulu?
Penulis : Fajar Dwi Nur Aji – PEH Ahli Muda
Editor : Agus Irwanto
Sumber : Bidang KSDA Wilayah I Madiun