Artikel

Jika Kita Berhenti Menjaga, Apa yang Tersisa? Membaca Ulang Kekuatan Manusia di Hari Bumi!

Sidoarjo – Pagi masih basah oleh embun ketika jejak itu ditemukan, bekas pijakan satwa liar yang melintas di sebagian sudut hutan Jawa Timur. Tak ada suara, tak ada penampakan. Hanya tanda bahwa kehidupan masih bertahan, diam-diam, di tengah ruang yang kian menyempit.

Di momen Hari Bumi 22 April 2026, pertanyaan itu menjadi semakin relevan: jika manusia berhenti menjaga, apa yang benar-benar akan tersisa? Tema “Our Power, Our Planet” tahun ini bukan sekadar seruan simbolik. Ia adalah pengingat bahwa kekuatan terbesar manusia bukan terletak pada eksploitasi, melainkan pada pilihan untuk menjaga keseimbangan alam.

Di Jawa Timur, upaya konservasi terus berlangsung dalam senyap namun konsisten. Balai Besar KSDA Jawa Timur menjalankan berbagai langkah strategis, mulai dari patroli kawasan konservasi, penyelamatan dan rehabilitasi satwa liar, hingga pengawasan peredaran tumbuhan dan satwa dilindungi.

Di Pulau Bawean, rusa endemik masih bertahan dalam ruang hidup yang terbatas. Sementara di bentang hutan lainnya, merak hijau tetap menjadi simbol keindahan yang sekaligus rentan terhadap tekanan habitat dan aktivitas manusia. Upaya-upaya ini menjadi bukti bahwa menjaga bukanlah konsep abstrak, melainkan kerja nyata yang menuntut komitmen jangka panjang.

Kekuatan manusia, sebagaimana tema Hari Bumi tahun ini, tidak selalu hadir dalam bentuk besar. Ia justru sering tersembunyi dalam tindakan sederhana, keputusan untuk tidak merusak, keberanian untuk melindungi, dan kesadaran untuk hidup berdampingan dengan alam.

Di balik setiap patroli hutan, setiap pelepasliaran satwa, hingga setiap edukasi kepada masyarakat, terdapat satu benang merah, bahwa masa depan bumi ditentukan oleh tindakan hari ini.

Kepala Balai Besar KSDA Jawa Timur, Nur Patria Kurniawan, menegaskan bahwa peringatan Hari Bumi seharusnya menjadi momentum untuk memperkuat kesadaran kolektif, bukan sekadar seremoni tahunan.

“Tema Our Power, Our Planet mengingatkan kita bahwa setiap individu memiliki peran dalam menjaga keberlanjutan lingkungan. Kekuatan itu ada pada pilihan, apakah kita akan terus menekan alam, atau mulai merawatnya dengan bijak. Konservasi bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi tanggung jawab bersama,” ujarnya.

Beliau juga menekankan bahwa keberhasilan konservasi sangat bergantung pada sinergi antara pemerintah, masyarakat, dan para pemangku kepentingan lainnya dalam menjaga keanekaragaman hayati dan ekosistemnya.

Bumi tidak pernah benar-benar meminta untuk diselamatkan. Ia telah melewati berbagai fase perubahan jauh sebelum manusia hadir. Namun kini, manusia justru menjadi pihak yang paling bergantung pada stabilitas yang mulai terganggu.

Hutan yang hilang bukan sekadar kehilangan pohon. Ia adalah hilangnya rumah, hilangnya penyangga kehidupan, dan hilangnya masa depan yang tak tergantikan. Jika suatu hari hutan berhenti berbisik, dan satwa tak lagi meninggalkan jejak, maka yang tersisa bukanlah keheningan, melainkan konsekuensi.

Karena pada akhirnya, kekuatan terbesar manusia tidak terletak pada kemampuannya menguasai alam, melainkan pada kesediaannya untuk menjaga.

Our Power. Our Planet.

Penulis : Fajar Dwi Nur Aji – PEH Ahli Muda BBKSDA Jatim
Editor : Agus Irwanto