Berita

Evakuasi Merak Hijau di Tuban Menegaskan Pentingnya Respon Cepat Konservasi

Tuban – Kehadiran satwa liar di luar habitat alaminya sering kali menjadi penanda penting, bahwa interaksi antara manusia dan alam masih menyisakan tantangan yang perlu dijawab bersama. Pada Selasa, 21 April 2026, tim gabungan Seksi KSDA Wilayah II Bojonegoro dan Tim Unit Penyelamatan Satwa (UPS) Balai Besar KSDA Jawa Timur melakukan evakuasi enam ekor merak hijau (Pavo muticus) dari dua lokasi di Kabupaten Tuban, permukiman warga di Kecamatan Rengel dan lingkungan SMP Negeri 1 Plumpang.

Satwa-satwa ini sebelumnya telah diserahkan secara sukarela oleh masyarakat dan pihak sekolah, sebagai bentuk kepedulian terhadap perlindungan jenis yang dilindungi undang-undang. Selama masa penanganan awal, satwa dititipkan sementara di lokasi asal sambil menunggu kesiapan proses evakuasi lanjutan.

Langkah evakuasi ini menjadi bagian dari komitmen berkelanjutan BBKSDA Jawa Timur dalam memastikan setiap satwa yang berada di luar habitatnya dapat segera ditangani sesuai prosedur keselamatan dan kesejahteraan satwa. Dalam praktik konservasi di lapangan, setiap penanganan satwa liar memiliki dinamika tersendiri, mulai dari proses pelaporan, identifikasi, hingga kesiapan sarana dan prasarana evakuasi.

Kepala Balai Besar KSDA Jawa Timur, Nur Patria Kurniawan, menegaskan bahwa kolaborasi dan respon cepat menjadi kunci dalam penanganan satwa liar di luar habitatnya.

“Setiap laporan yang masuk menjadi prioritas kami untuk segera ditindaklanjuti. Penanganan satwa liar tidak hanya soal evakuasi, tetapi juga memastikan proses pemulihan berjalan optimal hingga satwa siap kembali ke habitat alaminya,” ujarnya.

Pendekatan ini menempatkan proses penyelamatan tidak hanya sebagai tindakan teknis, tetapi juga bagian dari upaya menjaga keseimbangan ekosistem secara lebih luas. Selain merak hijau, tim juga mengevakuasi tiga ekor monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) hasil penanganan Damkar Bojonegoro dan Tuban. Kehadiran satwa ini di ruang publik menjadi pengingat bahwa interaksi manusia dan satwa liar membutuhkan penanganan terpadu lintas sektor.

Seluruh satwa kemudian dibawa ke fasilitas UPS BBKSDA Jawa Timur di Sidoarjo untuk menjalani tahapan rehabilitasi. Proses ini meliputi pemeriksaan kesehatan, observasi perilaku, serta penyesuaian kembali terhadap naluri liar, sebagai langkah penting sebelum mempertimbangkan pelepasliaran.

Kegiatan ini juga menegaskan pentingnya peran aktif masyarakat dalam konservasi. Penyerahan sukarela yang dilakukan menjadi contoh nyata meningkatnya kesadaran publik terhadap perlindungan satwa liar.

Di sisi lain, BBKSDA Jawa Timur terus memperkuat sistem respon di tapak, termasuk peningkatan koordinasi, kesiapan tim rescue, serta pengembangan mekanisme penanganan yang lebih efektif dan adaptif.

Dengan demikian, setiap kejadian serupa tidak hanya menjadi respons sesaat, tetapi juga bahan evaluasi untuk memperkuat sistem konservasi ke depan.

Merak hijau merupakan salah satu spesies kunci di Pulau Jawa yang populasinya terus menghadapi tekanan. Keberadaannya di luar habitat alami menjadi pengingat bahwa upaya konservasi tidak bisa berhenti pada perlindungan hukum semata, tetapi harus hadir hingga tingkat tapak.

Evakuasi di Tuban ini bukan hanya tentang memindahkan satwa dari satu tempat ke tempat lain. Ini adalah bagian dari upaya lebih besar, yaitu memulihkan, menjaga, dan memastikan bahwa satwa liar tetap memiliki ruang hidup yang semestinya.

Di tengah berbagai tantangan konservasi, setiap langkah penyelamatan adalah investasi bagi masa depan keanekaragaman hayati.

Dan dari Tuban, pesan itu kembali ditegaskan, bahwa ketika satwa liar ditemukan di tempat yang tidak semestinya, respon yang cepat, kolaboratif, dan berkelanjutan adalah kunci untuk memastikan mereka dapat kembali ke rumahnya, yaitu alam.

Penulis : Fajar Dwi Nur Aji – PEH Ahli Muda BBKSDA Jatim
Editor : Agus Irwanto
Sumber : Bidang KSDA Wilayah I Madiun