Menabrak Jendela! Sebuah Drama Penyelamatan Elang Alap Jambul di Sudut Surabaya
Surabaya – Seekor elang alap jambul (Lophospiza trivirgata), raptor anggun penjaga keseimbangan hutan, ditemukan tak berdaya di sebuah rumah padat di kawasan Sidotopo Wetan, Surabaya. Ia tidak sedang berburu. Tidak pula sedang bermigrasi. Ia jatuh, setelah menabrak batas tak kasatmata yang diciptakan manusia yaitu sebuah kaca jendela.
Peristiwa itu menjadi awal dari sebuah penyelamatan yang tidak hanya menyelamatkan satu individu satwa, tetapi juga membuka kembali kesadaran tentang rapuhnya hubungan antara ruang hidup manusia dan satwa liar.
Informasi awal datang dari seorang warga, Keyla Ariyanti, yang memilih untuk tidak tinggal diam. Ia melaporkan keberadaan satwa dilindungi tersebut kepada Balai Besar KSDA Jawa Timur. Respons cepat pun dilakukan. Tim MATAWALI Seksi KSDA Wilayah III Surabaya segera bergerak ke lokasi dengan membawa peralatan evakuasi (20/04/2026).
Setibanya di lokasi, tim mendapati bahwa elang tersebut telah berada dalam kandang besi selama kurang lebih satu minggu. Pemilik rumah, Bagio, menjelaskan bahwa satwa itu tiba-tiba menabrak jendela rumahnya dan jatuh dalam kondisi lemas, tidak mampu terbang. Tanpa pengetahuan memadai, satwa tersebut kemudian diamankan dan dirawat seadanya.
Namun, penyelamatan satwa liar tidak selalu berjalan mulus. Pada awalnya, terjadi penolakan saat tim berupaya membawa elang tersebut. Pemilik sempat meminta kompensasi. Situasi ini mencerminkan persoalan klasik dalam konservasi: masih adanya kesenjangan pemahaman masyarakat tentang status perlindungan satwa liar dan konsekuensi hukumnya.
Melalui pendekatan persuasif dan edukatif, Tim MATAWALI menjelaskan bahwa elang alap jambul merupakan satwa dilindungi berdasarkan regulasi nasional, serta memiliki peran ekologis penting sebagai pengendali populasi satwa kecil di alam. Setelah proses dialog yang cukup intens, akhirnya satwa tersebut diserahkan secara sukarela.
Hasil pemeriksaan awal menunjukkan bahwa elang tersebut mengalami luka di bagian pangkal paruh. Meski masih hidup, kondisinya lemah, menjadi sebuah indikasi stres dan trauma akibat benturan serta penanganan yang belum sesuai standar kesejahteraan satwa.
Dengan prosedur yang hati-hati, tim kemudian melakukan evakuasi. Elang tersebut selanjutnya ditranslokasikan ke Kandang Transit Unit Penyelamatan Satwa BBKSDA Jawa Timur di Sidoarjo untuk menjalani perawatan medis dan rehabilitasi lebih lanjut.
Di balik peristiwa ini, ada pesan yang lebih besar dari sekadar penyelamatan satu individu. Urbanisasi yang kian masif telah menciptakan “jebakan-jebakan tak terlihat” bagi satwa liar, mulai dari kaca bangunan, kabel listrik, hingga fragmentasi habitat. Bagi burung pemangsa seperti elang, ruang udara yang dulu bebas kini penuh risiko.
Penyelamatan ini menjadi pengingat bahwa konservasi bukan hanya tentang kawasan hutan yang jauh di sana. Ia hadir di halaman rumah, di jendela kaca, dan dalam setiap keputusan manusia untuk peduli atau tidak.
Pada akhirnya, elang itu mungkin akan kembali terbang suatu hari nanti, jika proses rehabilitasinya berhasil. Namun pertanyaan yang tersisa adalah, apakah langit yang ia kembali nanti masih cukup aman?
Penulis : Fajar Dwi Nur Aji – PEH Ahli Muda BBKSDA Jatim
Editor : Agus Irwanto
Sumber : Bidang KSDA Wilayah II Gresik