Menjaga Setetes Kehidupan Bagi Rusa Bawean

Agus Irwanto
Menjaga Setetes Kehidupan Bagi Rusa Bawean
Pemeriksaan embung air di Suaka Margasatwa Pulau Bawean menjadi langkah penting memastikan sumber kehidupan tetap mengalir bagi satwa endemik yang hanya hidup di pulau kecil di utara Jawa.

Bawean - Di tengah rimbunnya hutan Suaka Margasatwa Pulau Bawean, air tidak sekadar mengalir. Ia menjadi penentu kehidupan. 

Ketika musim kemarau perlahan mengurangi debit mata air alami, setiap tetes yang berhasil ditampung dalam embung memiliki arti penting bagi satwa liar. Utamanya Rusa Bawean (Axis kuhlii), mamalia endemik yang hanya ditemukan di Pulau Bawean, Kabupaten Gresik.

Berangkat dari kesadaran tersebut, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Timur melalui Resort Konservasi Wilayah (RKW) 09 Gresik–Bawean melaksanakan pembinaan habitat berupa pengecekan infrastruktur embung air pada Senin, 13 Juli 2026. Kegiatan yang berlangsung di Blok Gunung Besar, Desa Suwari, Kecamatan Tambak, ini bertujuan memastikan seluruh sarana penyedia air tetap berfungsi optimal sebagai bagian dari strategi pembinaan habitat satwa liar.

Tim melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap tiga embung air beserta jaringan perpipaan, sumber mata air, bak penampungan, hingga papan informasi kawasan. Setiap temuan didokumentasikan, titik koordinat dicatat, dan kondisi lapangan dianalisis sebagai dasar penyusunan rekomendasi teknis pengelolaan habitat yang adaptif.

Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa Embung Gunung Batu Suwari masih membutuhkan pemasangan jaringan pipa sepanjang sekitar 80 meter dari sumber mata air menuju bak penampungan. Selain itu, ditemukan retakan ringan pada dinding bak yang memerlukan perbaikan agar tidak mengurangi kapasitas penampungan air.

Kondisi serupa dijumpai di Embung Kaloceng. Embung ini memerlukan pemasangan jaringan pipa sepanjang kurang lebih 120 meter serta rehabilitasi ringan pada bak penampungan akibat retakan yang mulai terbentuk. Tanpa suplai air yang memadai, fungsi embung sebagai penyedia air alternatif bagi satwa liar belum dapat berjalan secara optimal.

Berbeda dengan kedua lokasi tersebut, Embung Gunung Bengko berada dalam kondisi yang baik. Struktur bak penampungan masih kokoh, jaringan perpipaan tetap berfungsi, dan embung dapat segera dimanfaatkan kembali cukup dengan mengaktifkan aliran air dari sumber mata air yang tersedia. Sementara itu, papan informasi kawasan yang berada di sekitar lokasi masih layak digunakan sebagai media edukasi bagi masyarakat mengenai pentingnya kawasan konservasi.

Pemeriksaan infrastruktur juga memberikan gambaran mengenai kondisi ekologis kawasan. Di sekitar embung, tim menemukan berbagai tanda aktivitas Rusa Bawean berupa bekas gesekan tanduk pada vegetasi dan bekas pakan. Temuan ini mengindikasikan bahwa lokasi tersebut masih menjadi bagian dari habitat yang aktif dimanfaatkan satwa.

Tidak hanya Rusa Bawean, kawasan ini juga menjadi ruang hidup bagi berbagai jenis satwa liar lainnya. Tim mencatat keberadaan kotoran Babi Kutil Bawean, Monyet Ekor Panjang, Elang Ular Bawean, Raja Udang Punggung Merah, Cinenen Kelabu, serta Merbah Belukar. Keanekaragaman tersebut menunjukkan bahwa embung memiliki fungsi ekologis yang melampaui tujuan awal pembangunannya, yakni menjadi sumber air yang dimanfaatkan oleh berbagai komponen ekosistem.

Bagi satwa di Pulau Bawean, air merupakan salah satu faktor yang menentukan kualitas habitat. Pada musim kemarau, ketika beberapa sumber air alami mengalami penurunan debit, embung menjadi penyangga ekologis yang membantu mempertahankan ketersediaan air di dalam kawasan. Kondisi tersebut turut memengaruhi pola jelajah, aktivitas harian, hingga peluang satwa memperoleh sumber daya yang dibutuhkan untuk bertahan hidup.

Karena itu, menjaga embung sesungguhnya bukan sekadar memelihara sebuah bangunan. Upaya tersebut merupakan bagian dari menjaga keseimbangan ekosistem agar proses-proses alami di dalam hutan tetap berlangsung. Infrastruktur konservasi menjadi bernilai ketika mampu mendukung fungsi ekologis yang menjadi fondasi keberlangsungan kehidupan satwa liar.

Konservasi sering kali dipahami sebagai upaya menyelamatkan satwa ketika menghadapi ancaman. Namun di Pulau Bawean, konservasi dimulai jauh sebelum ancaman itu datang. Ia hadir melalui langkah-langkah sederhana namun mendasar yaitu memastikan mata air tetap mengalir, embung tetap berfungsi, dan habitat tetap mampu menyediakan kebutuhan dasar bagi penghuninya.

Di sebuah pulau kecil yang menjadi satu-satunya rumah bagi Rusa Bawean, setiap tetes air adalah investasi bagi masa depan keanekaragaman hayati Indonesia. Menjaganya berarti menjaga kesinambungan kehidupan yang telah berlangsung selama ribuan tahun, sekaligus mewariskan hutan yang tetap hidup bagi generasi yang akan datang.

Penulis : Fajar Dwi Nur Aji - PEH Ahli Muda
Editor : Agus Irwanto
Sumber : Bidang KSDA Wilayah II Gresik

7 views
0 komentar
0 shares
Rating:

Komentar (0)

Tinggalkan Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!

Artikel Terkait

Jalan Tengah di Puger
Berita

Jalan Tengah di Puger

Jember - Ketika Landak dan Monyet memasuki ladang jagung, penyelesaiannya bukan memburu satwa, melainkan merancang solusi yang melindungi petani sekaligus menjaga kelestarian alam. Di Puger, Kabupaten