Mencekam, Tim Ekspedisi Disapa Penghuni Nusa Barung

Agus Irwanto
Mencekam, Tim Ekspedisi Disapa Penghuni Nusa Barung

Jember - Senja ini seharusnya menjadi penutup hari nan indah bagi tim ekspedisi di Suaka Margasatwa Pulau Nusa Barung, namun berubah menjadi momen yang menegangkan. Dalam waktu yang hampir bersamaan, dua tim yang berbeda lokasi mengalami hal yang serupa, disapa langsung oleh salah satu predator paling disegani di hutan tropis Asia, King Cobra (Ophiophagus bungarus).

Peristiwa tersebut terjadi di dua titik terpisah, yakni Sumber Gempol dan Kedok Watu, 11 Juni 2026. Dua kawasan yang selama ini dikenal sebagai bagian dari lanskap hutan alami yang masih minim gangguan.

Di Sumber Gempol, lima anggota tim yang tengah melakukan flying camp bersiap memasak makan malam. Api tungku mulai menyala, memecah dingin yang mulai merayap di lantai hutan. Namun suasana tenang itu mendadak berubah ketika seekor King Cobra melata melintasi jalur setapak bekas pemasangan jaring kelelawar.

Dalam jarak sekitar 1,5 meter, ular tersebut bergerak perlahan. Ia sempat berhenti, seolah mengamati keberadaan manusia di hadapannya, sebelum akhirnya meluncur masuk ke dalam rimbunnya vegetasi hutan. Kejadian yang berlangsung sekitar pukul 18.00 WIB itu hanya terjadi dalam hitungan detik, namun cukup untuk meninggalkan kesan yang mendalam.


Heri Santoso, tim botani dari Yayasan Generasi Biologi Indonesia, mengaku pertemuan itu menjadi pengalaman yang tak terlupakan.


“Saya benar-benar syok. Selama ini hanya melihat dari dokumentasi, ini pertama kalinya bertemu langsung dengan King Cobra di habitat alaminya,” ungkapnya.

Di waktu yang nyaris bersamaan, tim lain di Kedok Watu menghadapi situasi yang tak kalah mencekam. Setelah memasang jaring kelelawar dan melakukan pengamatan herpetofauna, tim bergerak menjauh dari sumber air untuk mandi dengan penerangan yang terbatas.


Di tengah kondisi minim cahaya itulah, ancaman muncul tanpa suara. Ekor seekor king cobra nyaris terinjak. Dalam sepersekian detik, situasi berubah menjadi genting.

Tifan Nur Rizal, anggota tim ekspedisi, secara refleks berteriak, "Ambilkan snake hook!”

Sementara anggota tim lainnya hanya terdiam, terpaku dalam keterkejutan, menyadari betapa tipis batas antara keselamatan dan bahaya di tengah hutan liar.

Tidak ada dokumentasi visual dari kedua peristiwa tersebut. Semua terjadi begitu cepat, melampaui kesiapan manusia untuk merekam. Namun justru dari momen yang tak terdokumentasi itulah, makna ekologisnya menjadi semakin kuat.


Berdasarkan pengamatan lapangan, kawasan Kedok Watu diduga merupakan bagian dari habitat alami King Cobra. Kehadiran spesies ini menjadi indikator penting bahwa ekosistem hutan di Pulau Nusa Barung masih berada dalam kondisi relatif utuh.

Bagus Suseno, Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Muda sekaligus Kepala RKW 13 Jember dan Pulau Nusa Barung, menegaskan bahwa peristiwa ini harus dimaknai sebagai bentuk pengingat akan etika keberadaan manusia di alam liar. 

“Kita harus memahami bahwa hutan adalah rumah bagi satwa liar. Dalam kondisi apa pun, manusia wajib menghormati alam. Pertemuan seperti ini bukan untuk ditakuti, tetapi untuk disadari, bahwa kita sedang berada di ruang hidup mereka,” tegasnya.


Dalam perspektif konservasi, King Cobra bukan sekadar simbol bahaya, melainkan bagian penting dari rantai ekologi. Sebagai predator puncak, ia berperan dalam menjaga keseimbangan populasi reptil lain, sekaligus menjadi indikator kesehatan ekosistem.

Pulau Nusa Barung, dengan segala kesunyiannya, sekali lagi menunjukkan wajah aslinya, liar, tak terduga, dan penuh pelajaran. Sebuah “sapaan” singkat dari penghuni hutan yang tak meminta untuk ditakuti, namun cukup untuk mengingatkan manusia, bahwa di alam, kita hanyalah tamu.


Penulis : Fajar Dwi Nur Aji - PEH Ahli Muda

Editor : Agus Irwanto

















76 views
0 komentar
0 shares
Rating:

Komentar (0)

Tinggalkan Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!

Artikel Terkait