Alarm di Tanah Poteh, Jantung Hutan Bawean
Bawean – Di antara rimbun vegetasi Blok Gunung Besar, Tanah Poteh, siang itu menyisakan tanda-tanda yang nyaris tak bersuara. Senin, 13 April 2026, Tim Smart Patrol RKW 09 Gresik–Bawean menapaki jalur hutan di Suaka Margasatwa Pulau Bawean, menjalankan rutinitas pengamanan kawasan yang menjadi benteng terakhir bagi keberlanjutan ekosistem pulau kecil tersebut.
Sekitar pukul 12.16 WIB, pada grid 221, tim menemukan sejumlah indikasi aktivitas penebangan pohon di dalam kawasan. Tiga jenis pohon teridentifikasi, yakni Bungur (Lagerstroemia speciosa), Jati (Tectona grandis), dan Mahoni (Swietenia mahagoni). Di antara ketiganya, tunggak bungur tampak paling baru, dengan potongan kayu yang masih tersisa di lokasi. Seolah menyimpan jejak peristiwa yang belum lama terjadi.
Temuan ini tidak hanya menjadi catatan pelanggaran administratif kawasan, tetapi juga refleksi dari dinamika hubungan manusia dan hutan yang masih terus berproses. Di banyak wilayah penyangga konservasi, batas antara ruang kelola masyarakat dan kawasan lindung kerap kali tidak kasat mata, baik secara fisik maupun pemahaman.
Tim patroli kemudian melakukan pengumpulan informasi secara dialogis kepada masyarakat sekitar. Pendekatan yang dibangun menitikberatkan pada komunikasi terbuka, guna memahami konteks sosial yang melatarbelakangi keberadaan aktivitas tersebut. Dari proses ini, tergambar bahwa masih terdapat ruang yang perlu diperkuat dalam hal pemahaman batas kawasan dan nilai penting kawasan konservasi.
Alih-alih menempatkan peristiwa ini semata sebagai bentuk pelanggaran, Balai Besar KSDA Jawa Timur memandangnya sebagai momentum penguatan pendekatan edukatif dan partisipatif. Langkah tindak lanjut diarahkan pada koordinasi dengan pemerintah desa, peningkatan sosialisasi batas kawasan, serta penguatan patroli rutin di titik-titik rawan.
Pendekatan humanis menjadi fondasi utama, bahwa konservasi tidak berdiri di atas jarak, melainkan kedekatan dengan masyarakat yang hidup berdampingan dengan hutan. Upaya membangun kesadaran kolektif diyakini menjadi kunci dalam menjaga keberlanjutan kawasan secara jangka panjang.
Di Pulau Bawean, setiap tegakan pohon adalah bagian dari sistem yang saling terhubung. Ketika satu bagian terganggu, ekosistem merespons dalam diam. Dan dari Tanah Poteh, hutan kembali mengirimkan pesan, pelan, namun tegas, bahwa ia perlu dipahami, dijaga, dan dirawat bersama.
Penulis : Fajar Dwi Nur Aji – PEH Ahli Muda
Editor : Agus Irwanto
Sumber : Bidang KSDA Wilayah II Gresik