Jejak yang Masih Tersisa di Gunung Sigogor

Ponorogo - Sisa jaring itu menggantung di antara pepohonan. Kusam, sebagian telah menyatu dengan ranting dan lumut. Barangkali sudah lama ditinggalkan.
Namun, bagi tim Smart Patrol Balai Besar KSDA Jawa Timur, benda sederhana itu bukan sekadar sampah yang tersangkut di hutan. Ia adalah penanda bahwa ancaman terhadap satwa liar masih pernah menyusup ke dalam kawasan konservasi.
Temuan tersebut muncul pada hari kedua patroli di Cagar Alam Gunung Sigogor, Ponorogo, tepatnya di grid 51. Lokasinya jauh dari keramaian, berada di tengah hutan pegunungan yang selama ini dikenal sebagai salah satu benteng terakhir keanekaragaman hayati di wilayah barat daya Jawa Timur. Dugaan sementara, jaring itu pernah digunakan untuk menangkap burung liar.
Ironisnya, di kawasan yang sama, kehidupan justru memperlihatkan wajah terbaiknya.
Selama tiga hari, 24–26 Juni 2026, tim Smart Patrol Resort Konservasi Wilayah 05 Ponorogo menyusuri 13 grid pengamatan dengan luas sekitar 10,49 Ha. Bersama Masyarakat Mitra Polhut dan mahasiswa magang Universitas Negeri Surabaya (UNESA), mereka menembus jalur patroli sekaligus membuka lintasan eksplorasi baru. Setiap jejak, vegetasi, hingga kondisi kawasan dicatat menggunakan GPS, kamera lapangan, dan aplikasi Smart Mobile.
Hutan Sigogor ternyata masih menyimpan kekayaan yang layak dipertahankan.
Tegakan Pasang, Lithocarpus sp. masih mendominasi beberapa bagian hutan. Di sela-selanya tumbuh Cemara Gunung, Telasih, Nyampuh, Bendo, Menyanan, Jamuju, Talesan, hingga Jenitri. Pada lantai hutan, anggrek tanah, Calanthe triplicata dan Bulbophyllum sp. tumbuh di tempat-tempat yang lembap, menjadi penanda mikrohabitat yang masih terjaga.
Faunanya tak kalah menarik.
Jejak Kijang ditemukan di beberapa titik. Feses Luwak mengindikasikan mamalia nokturnal itu masih rutin melintasi kawasan. Dari tajuk pepohonan terdengar suara Kutilang, Sikatan Ninon, Cucak Rengganis, hingga Takur Tothor.
Sesekali, seekor Elang Hitam melayang tinggi mengikuti arus udara pegunungan. Kehadiran satwa-satwa itu menunjukkan satu hal, rantai kehidupan di Gunung Sigogor masih bekerja.
Namun, ekosistem yang sehat tidak selalu berarti kawasan sepenuhnya aman.
Sisa jaring yang ditemukan menjadi pengingat bahwa tekanan terhadap satwa liar masih mungkin terjadi. Burung sering menjadi sasaran perburuan karena nilai ekonomi maupun hobi pemeliharaan. Padahal, mereka memegang peran penting sebagai penyebar biji, penyerbuk, hingga pengendali populasi serangga. Ketika populasi burung terganggu, dampaknya dapat menjalar ke proses regenerasi hutan.
Patroli juga memeriksa infrastruktur perlindungan kawasan. Tiga pal batas masih berdiri kokoh, meski tulisan pada permukaannya mulai memudar akibat cuaca. Sebuah papan nama kawasan tetap terbaca jelas. Temuan ini menunjukkan bahwa penanda fisik kawasan masih berfungsi, meskipun memerlukan pemeliharaan berkala agar tidak kehilangan fungsinya sebagai batas administratif sekaligus pengingat bagi masyarakat.
Smart Patrol bukan sekadar agenda rutin. Patroli menjadi instrumen untuk membaca kondisi kawasan secara utuh: merekam keberadaan satwa, memantau vegetasi, memastikan batas kawasan tetap terjaga, sekaligus mendeteksi ancaman sebelum berkembang menjadi pelanggaran yang lebih serius.
Di Gunung Sigogor, hutan masih memberi banyak kabar baik. Pohon-pohon besar masih berdiri, anggrek masih tumbuh, burung masih bernyanyi, dan kijang masih meninggalkan jejaknya di tanah yang lembap.
Tetapi selembar jaring yang tertinggal di antara pepohonan mengingatkan bahwa kelestarian tidak pernah datang dengan sendirinya. Ia bertahan karena terus dijaga, langkah demi langkah, melalui patroli yang mungkin tampak sederhana, tetapi sesungguhnya menjadi garis depan perlindungan kawasan konservasi.
Penulis : Fajar Dwi Nur Aji - PEH Ahli Muda
Editor : Agus Irwanto
Sumber : Bidang KSDA Wilayah I Madiun
Komentar (0)
Tinggalkan Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!



