Elang Hitam Tegur Drone, Catatan Etika dari Smart Patrol Dataran Tinggi Yang

Agus Irwanto
Elang Hitam Tegur Drone, Catatan Etika dari Smart Patrol Dataran Tinggi Yang

Probolinggo - Suara baling-baling drone memecah keheningan pagi di Sabana Cikasur. Dari hamparan padang rumput pegunungan yang dikelilingi hutan hujan dataran tinggi, wahana tanpa awak itu perlahan naik menembus udara.

Ia menjalankan tugasnya sebagai "mata dari langit" untuk mendokumentasikan kondisi Suaka Margasatwa Dataran Tinggi Yang. Namun, beberapa saat kemudian, seekor elang hitam yang sedang melayang mengikuti arus udara pegunungan mendekati drone. Keduanya nyaris bersinggungan.

Momen singkat tersebut menjadi pelajaran penting bagi tim Smart Patrol Balai Besar KSDA Jawa Timur bahwa teknologi memang mampu memperluas jangkauan pengawasan kawasan konservasi, namun ruang udara tetap merupakan bagian dari habitat satwa liar yang harus dihormati. Pelajaran itu diperoleh saat Tim Resort Konservasi Wilayah (RKW) 18 Dataran Tinggi Yang, Seksi KSDA Wilayah 6 melaksanakan Smart Patrol pada 18–23 Juni 2026.

Tim yang terdiri atas Pengendali Ekosistem Hutan, Polisi Kehutanan, tenaga administrasi, dan Masyarakat Mitra Polhut menempuh perjalanan menuju Sabana Cikasur setelah melakukan persiapan logistik di Pos Baderan. Dari lokasi tersebut, patroli dilakukan dengan memadukan pengamatan lapangan dan pemanfaatan drone untuk memperoleh gambaran kondisi kawasan secara lebih menyeluruh.

Selama enam hari pelaksanaan, drone diterbangkan untuk mendokumentasikan sejumlah grid pengamatan yang tersebar di bentang Suaka Margasatwa Dataran Tinggi Yang, mulai dari Sabana Cikasur, kawasan Danau Tunjung, Penyonsonan, hingga Mata Air 2. Total area pemantauan mencapai 1.362,26 Ha.

Pemanfaatan drone memberikan banyak keuntungan. Dari udara, petugas dapat mengamati tutupan vegetasi, kondisi habitat, potensi gangguan kawasan, serta perubahan bentang alam yang sulit dipantau hanya melalui patroli darat. Teknologi ini juga membantu meningkatkan efisiensi waktu dan keselamatan personel, terutama pada kawasan pegunungan yang memiliki akses medan cukup berat.

Namun, keberhasilan teknologi tetap bergantung pada kebijaksanaan penggunanya.

Ketika drone hampir berpapasan dengan seekor elang hitam yang sedang soaring, tim segera menyadari bahwa setiap penerbangan harus memperhatikan keberadaan satwa liar. Elang memanfaatkan arus udara yang sama dengan jalur terbang drone. Jika tidak diantisipasi, interaksi semacam ini berpotensi menimbulkan stres maupun perubahan perilaku satwa.

Peristiwa tersebut bukanlah bukti bahwa drone selalu mengganggu satwa liar. Sebaliknya, pengalaman ini menunjukkan bahwa penggunaan drone dalam kawasan konservasi harus dilakukan secara hati-hati, adaptif, dan mengikuti prinsip-prinsip etika konservasi. Waktu penerbangan, ketinggian, jarak terhadap satwa, hingga kondisi cuaca menjadi faktor penting yang harus dipertimbangkan sebelum drone diterbangkan.

Cuaca pegunungan selama pelaksanaan Smart Patrol juga menjadi tantangan tersendiri. Kabut tebal dan awan yang datang silih berganti membatasi waktu penerbangan sehingga dua grid, yaitu Grid 37 dan Grid 51, belum dapat didokumentasikan karena kondisi tidak memenuhi standar keselamatan penerbangan.

Saat ini seluruh foto dan video hasil Smart Patrol masih menjalani proses interpretasi. Informasi yang diperoleh akan digunakan untuk mengevaluasi kondisi habitat, mengidentifikasi potensi ancaman, serta memperkuat strategi perlindungan Suaka Margasatwa Dataran Tinggi Yang berbasis data spasial.

Konservasi pada akhirnya bukan sekadar menghadirkan teknologi paling mutakhir. Konservasi adalah tentang memahami bahwa manusia hanyalah salah satu bagian dari ekosistem. Drone dapat membantu melihat hutan dari langit, tetapi hutan mengajarkan bahwa setiap inovasi harus berjalan berdampingan dengan penghormatan terhadap kehidupan liar.

Di Dataran Tinggi Yang, seekor elang hitam telah mengingatkan satu hal sederhana: bahkan di ruang udara, satwa liar tetap memiliki hak atas ketenangan habitatnya. Dan bagi para penjaga kawasan, pelajaran itu sama berharganya dengan setiap citra yang berhasil direkam dari langit.


Penulis : Fajar Dwi Nur Aji - PEH Ahli Muda

Editor : Agus Irwanto

Sumber : Bidang KSDA Wilayah III Jember


36 views
0 komentar
0 shares
Rating:

Komentar (0)

Tinggalkan Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!

Artikel Terkait