Temukan Jejak, Alam Saobi Menyapa

Sumenep - Ada cara yang berbeda untuk mengenal sebuah kawasan konservasi. Bukan melalui keramaian, bukan pula dari deretan bangunan atau jalan yang membelah hutan.
Di Cagar Alam Pulau Saobi, kehidupan justru memperkenalkan dirinya lewat jejak-jejak yang nyaris tak bersuara. Dari pijakan rusa di lantai hutan, hingga gundukan pasir tempat burung Gosong Kaki Merah mengerami telurnya. Semua menjadi bahasa alam yang hanya dapat dibaca oleh mereka yang mau berjalan, mengamati, dan memahami.
Bahasa itulah yang dibaca Tim Smart Patrol Balai Besar KSDA Jawa Timur bersama Masyarakat Mitra Polhut (MMP) Madura Kepulauan dalam pelaksanaan Smart Patrol di Cagar Alam Pulau Saobi pada 13–26 Juni 2026.
Selama dua pekan, tim menyusuri 71 grid pengamatan yang mencakup sekitar 68,13 hektare atau hampir 16 persen dari luas Cagar Alam Pulau Saobi. Setiap lintasan patroli tidak hanya menjadi jalur perjalanan, tetapi juga ruang untuk membaca kondisi ekosistem, mencatat setiap perubahan, serta memastikan habitat alami tetap mampu menopang kehidupan berbagai jenis tumbuhan dan satwa liar.
Dari hasil patroli tersebut, alam Pulau Saobi seolah menyapa melalui 35 tanda keberadaan satwa liar. Sebagian berupa sarang aktif burung Gosong Kaki Merah yang masih digunakan untuk berkembang biak, sebagian lagi berupa jejak rusa timor yang memperlihatkan bahwa mamalia tersebut masih memanfaatkan kawasan sebagai ruang hidupnya.
Tim juga mencatat tiga perjumpaan langsung dengan burung gosong kaki merah, satwa khas pesisir yang keberhasilannya berkembang biak sangat bergantung pada kondisi habitat yang tetap alami dan minim gangguan.
Dalam konservasi, jejak satwa bukan sekadar tanda bahwa seekor hewan pernah melintas. Jejak adalah bukti bahwa suatu habitat masih menyediakan kebutuhan dasar bagi kehidupan. Sementara sarang aktif merupakan indikator yang lebih penting lagi, karena menunjukkan bahwa satwa memilih kawasan tersebut sebagai tempat bereproduksi. Artinya, ekosistem Pulau Saobi masih memiliki daya dukung yang baik bagi kelangsungan siklus kehidupan satwa liar.
Namun, tidak semua cerita yang ditemukan di lapangan menghadirkan kabar menggembirakan. Tim Smart Patrol juga menemukan dua indikasi bekas pembalakan di dalam kawasan konservasi.
Temuan ini menjadi pengingat bahwa ancaman terhadap kawasan lindung masih ada dan memerlukan perhatian serius. Meskipun belum menunjukkan kerusakan dalam skala besar, setiap aktivitas penebangan berpotensi mengurangi kualitas habitat yang selama ini menopang kehidupan berbagai spesies.
Sebagai bagian dari pengelolaan kawasan, tim juga melakukan penandaan terhadap 181 pohon yang belum memiliki identitas pada periode patroli sebelumnya. Penandaan tersebut menjadi langkah penting dalam mendukung inventarisasi vegetasi, pemantauan perubahan tutupan hutan, serta pengelolaan habitat secara lebih terukur pada masa mendatang.
Smart Patrol juga tidak berhenti pada kegiatan pemantauan. Tim melaksanakan sosialisasi kepada masyarakat di sekitar kawasan konservasi sebagai upaya membangun pemahaman bersama mengenai fungsi cagar alam, pentingnya menjaga satwa liar, dan larangan melakukan aktivitas yang dapat mengganggu kelestarian kawasan. Pendekatan ini menjadi bagian dari strategi konservasi yang menempatkan masyarakat sebagai mitra utama dalam menjaga keberlangsungan ekosistem.
Sesungguhnya, Smart Patrol bukan sekadar menghitung jumlah jejak satwa atau luas kawasan yang berhasil disusuri. Di balik setiap koordinat yang direkam, terdapat cerita tentang ekosistem yang masih bertahan, tentang satwa yang masih menemukan rumahnya, dan tentang manusia yang memilih menjaga daripada merusak.
Pulau Saobi tidak pernah benar-benar berbicara. Namun melalui jejak rusa, sarang burung gosong kaki merah, rindangnya pepohonan, dan lengking kakatua kecil jambul kuning yang masih terdengar dari Pulau Masakambing, alam terus menyampaikan pesannya. Pesan bahwa kehidupan masih ada, selama perlindungan terus dijaga.
Mungkin itulah makna terdalam dari setiap langkah Smart Patrol. Mereka tidak sedang mencari sesuatu yang hilang. Mereka sedang memastikan bahwa jejak-jejak kehidupan itu tetap ada, sehingga alam Pulau Saobi akan terus menyapa generasi yang akan datang.
Penulis : Fajar Dwi Nur Aji - PEH Ahli Muda
Editor : Agus Irwanto
Sumber : Bidang KSDA Wilayah II Gresik
Komentar (0)
Tinggalkan Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!



