Janji Hijau di Lereng Kawah Ijen, Saat Anak-Anak Belajar Menjaga Warisan Bumi

Agus Irwanto
Janji Hijau di Lereng Kawah Ijen, Saat Anak-Anak Belajar Menjaga Warisan Bumi

Banyuwangi - Lereng Kawah Ijen tidak hanya menjadi saksi aktivitas geologi yang purba, tetapi juga ruang tumbuh bagi kesadaran baru. Senin, 15 Juni 2026, puluhan siswa SMPN 1 Licin berdiri di tepian lanskap yang selama ini mereka kenal sebagai latar belakang kehidupan. Kini, mereka memandangnya dengan cara yang berbeda yaitu sebagai warisan yang harus dijaga.

Kegiatan ini merupakan bagian dari implementasi Rencana Kerja Tahunan (RKT) I Tahun 2026 yang diinisiasi oleh Paguyuban Belerang Ijen Sejahtera (Parang Jentera) bersama Balai Besar KSDA Jawa Timur. Semula dirancang dalam format visit to school atau rimbawan mengajar, pendekatan kemudian diubah menjadi pengalaman langsung di lapangan. 

Pilihan itu bukan tanpa alasan. Di Kawah Ijen, alam bukan sekadar objek pembelajaran, ia adalah narasumber utama.


Bertempat di Geosite Sulfur Ijen, Desa Tamansari, Kecamatan Licin, sebanyak 40 siswa mengikuti rangkaian kegiatan yang mempertemukan sains, pengalaman, dan nilai-nilai konservasi. Mereka adalah bagian dari masyarakat penyangga kawasan Cagar Alam dan Taman Wisata Alam Kawah Ijen, mereka yang hidup paling dekat dengan ekosistem, sekaligus paling rentan terhadap dampak perubahan yang terjadi di dalamnya.

Materi pertama membuka jendela pemahaman tentang bagaimana bumi bekerja. Heri Purwanto dari Parang Jentera menjelaskan proses terbentuknya belerang serta fenomena api biru. Penjelasan itu tidak hanya menghadirkan fakta ilmiah, tetapi juga membangun rasa takjub, sebuah langkah awal yang sering kali menjadi pintu masuk menuju kepedulian.

Namun, rasa takjub saja tidak cukup. Pada sesi berikutnya, Pindi Priyambudi mengajak para siswa untuk melangkah lebih jauh, memahami peran mereka dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Ia menekankan bahwa kawasan konservasi bukanlah ruang yang terpisah dari manusia, melainkan sistem kehidupan yang saling terhubung. Apa yang terjadi di luar kawasan, perlahan atau cepat, akan memengaruhi apa yang ada di dalamnya.


Dialog yang terbangun berlangsung dua arah. Para siswa aktif bertanya, menjawab, dan mengaitkan materi dengan realitas yang mereka hadapi sehari-hari. Keterlibatan itu kemudian diperkaya melalui kuis daring yang disiapkan panitia. Tiga peserta terbaik mendapatkan cenderamata dari BBKSDA Jawa Timur, tetapi lebih dari itu, seluruh peserta membawa pulang sesuatu yang lebih penting yaitu pemahaman.

Di akhir kegiatan, sebuah deklarasi sederhana dikumandangkan, komitmen para “rimbawan kecil” untuk ikut menjaga kawasan Kawah Ijen. Bagi sebagian orang, ini mungkin hanya simbol. Namun, dalam praktik konservasi, simbol sering kali menjadi fondasi. Ia menandai lahirnya kesadaran, yang kelak tumbuh menjadi tindakan.

Kawah Ijen, dengan segala pesona dan kerentanannya, membutuhkan lebih dari sekadar perlindungan formal. Ia membutuhkan generasi yang memahami, merasakan, dan bersedia menjaga. Di lerengnya hari itu, janji hijau tidak hanya diucapkan, ia ditanam, perlahan, dalam benak mereka yang suatu hari akan menentukan arah masa depan kawasan ini.


Dan mungkin, di sanalah harapan konservasi menemukan bentuknya yang paling jujur: bukan pada kebijakan semata, tetapi pada kesadaran yang tumbuh sejak dini, di antara asap belerang dan cahaya api biru yang tak pernah benar-benar padam.

Penulis : Fajar Dwi Nur Aji - PEH Ahli Muda

Editor : Agus Irwanto

Sumber : Bidang KSDA Wilayah III Jember


12 views
0 komentar
0 shares
Rating:

Komentar (0)

Tinggalkan Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!

Artikel Terkait