Hutan Menjadi Guru, Kisah 9 Siswa Menyapa Alam di Jantung Bawean

Gresik - Bersama petugas Resort Konservasi Wilayah (RKW) 09 Gresik Bawean, sembilan siswa sekolah dasar melangkah perlahan menyusuri jalur setapak yang membelah hutan di Blok Gunung Besar, Suaka Margasatwa Pulau Bawean, Selasa, 2 Juni 2026. Di hari yang biasanya dipenuhi riuh perayaan kelulusan, mereka justru memilih jalan yang berbeda, masuk ke dalam hutan, mendekat pada sesuatu yang selama ini hanya mereka kenal dari buku pelajaran: alam itu sendiri.
Perjalanan ini bukan sekadar kegiatan luar ruang biasa. Bertajuk Forest Learning Journey: Road to HKAN 2026 – Menyapa Alam, Menjaga Masa Depan.
kegiatan ini difasilitasi oleh Balai Besar KSDA Jawa Timur melalui tim RKW 09 Gresik–Bawean, sebagai bentuk bina cinta alam di UPT SD Negeri 342 Gresik. Sembilan siswa kelas VI, didampingi sembilan guru, diajak memasuki kawasan konservasi bukan sebagai wisatawan, tetapi sebagai pembelajar, dan lebih jauh lagi, sebagai calon penjaga masa depan lingkungan.
Sejak langkah pertama, pendekatan yang digunakan terasa berbeda. Tidak ada ruang kelas, tidak ada papan tulis. Hutan menjadi medium belajar, dan setiap elemen di dalamnya menghadirkan pelajaran yang hidup.
Di titik awal perjalanan, peserta dibekali pemahaman tentang status kawasan konservasi, tentang aturan yang mengikatnya, fungsi ekologis yang dijaganya, serta batas-batas yang tidak boleh dilanggar. Pengetahuan ini bukan sekadar teori, ia menjadi kerangka berpikir untuk memahami lanskap yang mereka masuki.
Semakin jauh mereka berjalan, hutan perlahan membuka dirinya. Pepohonan tinggi membentuk kanopi yang meredam cahaya, menciptakan suasana teduh dan lembap, mikroklimat yang menjadi rumah bagi berbagai bentuk kehidupan.
Di tengah perjalanan, sebuah tanda sederhana berdiri tegak, pal batas kawasan. Bagi sebagian orang, ia mungkin hanya patok biasa. Namun bagi para siswa, itulah pelajaran pertama tentang ruang, tentang bagaimana manusia dan alam berbagi batas, dan bagaimana batas itu harus dihormati.
Tim pendamping kemudian memperkenalkan lanskap konservasi Pulau Bawean secara lebih utuh. Mereka menjelaskan perbedaan antara Cagar Alam dan Suaka Margasatwa, dua konsep yang selama ini terdengar abstrak bagi anak-anak.
Di sinilah, konsep itu menemukan bentuk nyatanya. Kawasan ini bukan sekadar hutan, tetapi ruang hidup bagi satwa liar, termasuk salah satu spesies endemik yang menjadi kebanggaan Bawean, Rusa Bawean (Axis kuhlii), yang keberadaannya kian langka dan bergantung pada kelestarian habitatnya.
Namun pelajaran paling berkesan justru datang dari sesuatu yang nyaris terlewatkan. Di lantai hutan yang lembap, di antara serasah daun dan bayang-bayang vegetasi bawah, tim menemukan anggrek tanah yang tengah berbunga.
Ukurannya kecil, warnanya tidak mencolok, tetapi kehadirannya membawa makna besar. Berdasarkan identifikasi lapangan, spesies tersebut adalah Disperis neilgherrensis Wight, anggota Orchidaceae yang dikenal tumbuh pada kondisi mikrohabitat yang sangat spesifik dan sensitif terhadap perubahan lingkungan.
Bagi para siswa, bunga itu mungkin sekadar bagian dari keindahan hutan. Namun bagi para petugas lapangan, ia adalah indikator, penanda bahwa hutan ini masih memiliki kualitas ekologis yang baik.
Keberadaan anggrek tersebut menunjukkan bahwa kondisi lantai hutan, kelembapan, dan tutupan kanopi masih terjaga, memungkinkan spesies-spesies sensitif untuk tetap bertahan. Dalam konteks konservasi, temuan seperti ini menjadi bukti diam bahwa ekosistem masih bekerja sebagaimana mestinya.
Perjalanan yang awalnya terasa sebagai petualangan perlahan berubah menjadi proses pemahaman. Setiap langkah menghadirkan pertanyaan, dan setiap penjelasan membuka perspektif baru. Hutan tidak lagi dilihat sebagai tempat yang jauh dan asing, melainkan sebagai sistem kehidupan yang kompleks, tempat di mana setiap elemen saling terhubung dan saling bergantung.
Di titik akhir perjalanan, suasana menjadi lebih hening. Dalam sesi refleksi sederhana, para siswa mulai merangkai pengalaman mereka menjadi pemahaman yang utuh. Mereka berbicara tentang apa yang mereka lihat, tentang apa yang mereka rasakan, dan tentang apa yang kini mereka pahami. Tidak ada jawaban yang benar atau salah, yang ada hanyalah kesadaran yang mulai tumbuh.
Momentum ini menjadi semakin bermakna karena bertepatan dengan hari pengumuman kelulusan mereka. Di saat banyak anak merayakannya dengan euforia, sembilan siswa ini justru mendapatkan sesuatu yang berbeda: pengalaman yang membekas, yang tidak hanya menandai akhir dari sebuah fase pendidikan, tetapi juga awal dari cara pandang baru terhadap dunia.
Bagi BBKSDA Jatim, kegiatan ini bukan sekadar agenda edukatif. Ia merupakan bagian dari strategi yang lebih besar, membangun kesadaran konservasi melalui pendekatan langsung kepada generasi muda, khususnya di wilayah penyangga kawasan. Pendekatan berbasis pengalaman seperti ini terbukti mampu menjembatani kesenjangan antara pengetahuan dan kepedulian, antara teori dan realitas.
Langkah yang ditempuh para siswa hari itu memang tidak jauh, hanya sejauh jalur setapak di Gunung Besar. Namun makna dari perjalanan itu melampaui jarak yang mereka tempuh. Di tengah hutan yang sunyi, mereka belajar tentang batas, tentang keseimbangan, dan tentang tanggung jawab yang tidak tertulis.
Dan mungkin, tanpa mereka sadari sepenuhnya, pada hari itu sebuah benih telah ditanam, benih kesadaran yang kelak akan tumbuh, membentuk cara mereka memandang alam, dan menentukan bagaimana mereka memperlakukannya di masa depan.
Di jantung Bawean, hutan tidak hanya berdiri sebagai bentang alam. Ia hadir sebagai guru, diam, namun mengajarkan segalanya.
Penulis: Fajar Dwi Nur Aji, PEH Ahli Muda
Editor: Agus Irwanto
Sumber: Bidang KSDA Wilayah II Gresik
Komentar (1)
Tinggalkan Komentar
Agun
joss



