Hari Lahir Pancasila, Rimbawan Jawa Timur Menyatukan Alam, Bangsa, dan Masa Depan

Agus Irwanto
Hari Lahir Pancasila, Rimbawan Jawa Timur Menyatukan Alam, Bangsa, dan Masa Depan

Surabaya - Rimbawan Jawa Timur berkumpul di Plaza Dinas Kehutanan Jawa Timur dalam peringatan Hari Lahir Pancasila, 1 Juni 2026. Di tengah dinamika sektor kehutanan yang semakin kompleks, momentum ini menjadi ruang refleksi bersama untuk meneguhkan kembali nilai-nilai dasar bangsa sebagai pijakan dalam menjaga keberlanjutan alam dan kehidupan.

Upacara berlangsung khidmat sejak pagi. Langit tampak cerah, sementara Sang Merah Putih perlahan berkibar, melambai diterpa angin semilir. Dalam suasana yang hening dan penuh penghormatan, naskah amanat Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila Republik Indonesia dibacakan oleh Ir. Nur Patria Kurniawan, S.Hut.,M.Sc., Kepala Balai Besar KSDA Jawa Timur dengan suara lantang dan penuh penegasan.

Setiap kalimat yang disampaikan menggema di antara barisan peserta upacara, menegaskan bahwa Pancasila harus menjadi bintang penuntun dalam menghadapi berbagai tantangan global, termasuk krisis lingkungan, perubahan iklim, dan tekanan terhadap sumber daya hutan.

“Pancasila adalah jangkar moral dalam menghadapi turbulensi global. Nilai kemanusiaan, persatuan, dan keadilan harus menjadi dasar dalam setiap langkah pembangunan,” ujarnya.

Pesan tersebut terasa semakin relevan bagi sektor kehutanan di Jawa Timur, yang saat ini menghadapi beragam tantangan strategis. Pengelolaan hutan tidak lagi hanya berbicara tentang perlindungan kawasan, tetapi juga menyangkut penyelesaian konflik tenurial, pencegahan kebakaran hutan dan lahan, pengendalian peredaran tumbuhan dan satwa liar, hingga penguatan peran masyarakat dalam skema perhutanan sosial.

Di satu sisi, tekanan terhadap kawasan hutan masih terus terjadi. Namun di sisi lain, tuntutan pembangunan dan kesejahteraan masyarakat menuntut hadirnya tata kelola hutan yang adaptif, berkeadilan, dan berkelanjutan. Dalam konteks inilah nilai-nilai Pancasila menjadi titik temu, menghubungkan kepentingan ekologis, sosial, dan ekonomi dalam satu kerangka kebangsaan.

Semangat gotong royong tercermin dalam kolaborasi lintas sektor, sementara prinsip keadilan sosial menjadi dasar dalam memastikan bahwa masyarakat sekitar hutan menjadi bagian dari solusi, bukan sekadar objek kebijakan.

Usai pelaksanaan upacara, Nur Patria Kurniawan menyampaikan bahwa peringatan Hari Lahir Pancasila harus dimaknai sebagai penguatan arah dalam seluruh lini kerja kehutanan.

“Hari ini kita berkumpul bukan hanya untuk memperingati, tetapi untuk meneguhkan kembali komitmen. Kehutanan tidak bisa berjalan parsial. Kita harus memastikan bahwa nilai-nilai Pancasila hadir dalam setiap kebijakan dan tindakan, baik dalam perlindungan kawasan, pemberdayaan masyarakat, maupun dalam menjawab tantangan perubahan lingkungan yang semakin nyata,” pungkasnya.

Beliau menambahkan bahwa rimbawan memiliki peran strategis sebagai penjaga keseimbangan, tidak hanya antara manusia dan alam, tetapi juga antara kepentingan pembangunan dan keberlanjutan jangka panjang.

Di tengah barisan yang perlahan membubar dan langkah-langkah yang kembali menuju medan tugas, Pancasila tidak berhenti sebagai teks yang dibacakan. Ia hidup dalam kerja-kerja nyata di lapangan, dalam patroli hutan, dalam penyelamatan satwa liar, dalam upaya merawat bentang alam yang menjadi penopang kehidupan.

Pada akhirnya, peringatan ini bukan hanya tentang mengenang sejarah, tetapi tentang meneguhkan masa depan. Karena di tangan para rimbawan, hutan bukan sekadar bentang alam, melainkan ruang hidup bangsa yang harus dijaga, dirawat, dan diwariskan. 

Penulis : Fajar Dwi Nur Aji - PEH Ahli Muda 

Editor : Agus Irwanto

39 views
2 komentar
0 shares
Rating:

Komentar (2)

Tinggalkan Komentar

Agun

Jossss banget

Agun

Josss josss

Artikel Terkait