GLATIK, Menyatukan Informasi Satwa Liar di Lembaga Konservasi Jawa Timur

Jember - Konservasi satwa liar di era modern tidak lagi hanya berbicara tentang kandang yang representatif, keberhasilan pengembangbiakan, atau penyelamatan individu satwa dari ancaman kepunahan. Di balik seluruh upaya tersebut, terdapat satu elemen yang semakin menentukan arah pengelolaan konservasi, yakni data.
Data yang akurat menjadi fondasi untuk memastikan setiap individu satwa memiliki identitas yang jelas, riwayat pengelolaan yang terdokumentasi, dan asal-usul yang dapat ditelusuri. Hingga, rekam reproduksi yang mendukung pelestarian plasma nutfah sebagai cadangan genetik bangsa.
Berangkat dari kebutuhan tersebut, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Timur meluncurkan GLATIK (Gabungan Layanan Terintegrasi Informasi Kehati), sebuah inovasi layanan digital yang mengintegrasikan sistem pelaporan dan pengelolaan data Lembaga Konservasi di Jawa Timur. Peluncuran dilakukan bertepatan dengan kegiatan Pembinaan Lembaga Konservasi yang diselenggarakan di PT. Jaya Multi Zaman (Jember Mini Zoo), Kabupaten Jember, Senin (6/7/2026), dan dihadiri oleh pengelola Lembaga Konservasi dari berbagai wilayah di Jawa Timur.
Kegiatan dibuka oleh Kepala Balai Besar KSDA Jawa Timur, Ir. Nur Patria Kurniawan, S.Hut., M.Sc., yang menegaskan bahwa keberhasilan konservasi ex-situ hanya dapat dicapai melalui kolaborasi yang kuat antara pemerintah dan seluruh Lembaga Konservasi. Menurutnya, komunikasi, keterbukaan informasi, serta pemanfaatan teknologi merupakan fondasi penting untuk mewujudkan tata kelola konservasi yang semakin profesional, transparan, dan akuntabel.
"Konservasi hari ini tidak cukup hanya menjaga satwa tetap hidup. Kita harus memastikan setiap individu satwa memiliki identitas yang jelas, asal-usul yang terdokumentasi, rekam pengelolaan yang lengkap, dan data yang dapat dipertanggungjawabkan. Melalui GLATIK, kami ingin membangun satu sistem informasi yang menghubungkan seluruh Lembaga Konservasi di Jawa Timur sehingga pengelolaan tumbuhan dan satwa liar menjadi lebih efektif, terintegrasi, dan berbasis data," ujarnya
Ia menambahkan bahwa GLATIK merupakan bagian dari transformasi pelayanan publik yang dilakukan BBKSDA Jawa Timur dalam mendukung pengelolaan konservasi ex-situ.
"Digitalisasi bukan sekadar mengubah proses manual menjadi elektronik. Yang lebih penting adalah membangun budaya pengelolaan yang berbasis data. Ketika data tersaji secara cepat, akurat, dan terintegrasi, maka pengambilan keputusan konservasi akan menjadi lebih tepat sasaran. Pada akhirnya, manfaatnya kembali kepada satwa liar yang kita lestarikan bersama," tambahnya.
Sebagai unit pelaksana teknis Kementerian Kehutanan yang membina Lembaga Konservasi di Jawa Timur, BBKSDA Jawa Timur memiliki tanggung jawab memastikan fungsi konservasi ex-situ berjalan sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan. Lembaga Konservasi tidak hanya berfungsi sebagai tempat pengembangbiakan tumbuhan dan satwa liar secara terkontrol, tetapi juga sebagai pusat penyelamatan satwa, pendidikan konservasi, penelitian, pengembangan ilmu pengetahuan, serta sumber indukan yang mendukung penguatan populasi satwa di habitat alaminya (in-situ).
Dalam sesi pembinaan, Kepala Bidang Teknis BBKSDA Jawa Timur memaparkan berbagai aspek pengelolaan Lembaga Konservasi, mulai dari kewajiban administrasi, penyusunan Rencana Karya Pengelolaan (RKP), kesejahteraan satwa (animal welfare), hingga pentingnya pemenuhan dokumen legalitas asal-usul koleksi tumbuhan dan satwa liar sesuai ketentuan yang berlaku. Pembahasan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat tata kelola konservasi yang tidak hanya patuh terhadap regulasi, tetapi juga mampu menjawab tantangan pengelolaan satwa liar di masa depan.
Dalam forum diskusi yang dimoderatori Kepala Bidang KSDA Wilayah III juga menghasilkan sejumlah catatan penting. Salah satunya adalah masih rendahnya tingkat penandaan (tagging) satwa koleksi di Lembaga Konservasi akibat keterbatasan sarana dan prasarana. Selain itu, beberapa koleksi satwa telah mengalami kendala reproduksi sehingga diperlukan strategi fresh blood melalui mekanisme hibah, tukar-menukar, maupun peminjaman satwa antar Lembaga Konservasi. Tentu saja sesuai ketentuan yang berlaku guna menjaga keragaman genetik dan menghindari perkawinan sekerabat (inbreeding).
Data monitoring BBKSDA Jawa Timur menunjukkan bahwa Lembaga Konservasi di Jawa Timur saat ini mengelola 22.925 individu satwa, sementara sekitar 95 persen di antaranya masih belum memiliki sistem penandaan individu secara memadai. Kondisi tersebut memperlihatkan pentingnya sistem informasi yang mampu mendukung identifikasi, pencatatan, serta pelaporan satwa secara terintegrasi.
Hadirnya GLATIK menjawab kebutuhan tersebut. Aplikasi ini dirancang sebagai platform pelayanan digital yang akan menggantikan sistem pelaporan sebelumnya sehingga seluruh proses pengelolaan data Lembaga Konservasi dapat dilakukan melalui satu pintu informasi. Mulai dari pembaruan data koleksi satwa, pelaporan perkembangan populasi, hingga layanan administrasi konservasi akan terdokumentasi dalam satu basis data yang saling terhubung.
Lebih dari sekadar aplikasi, GLATIK merupakan langkah menuju single biodiversity information system bagi pengelolaan konservasi ex-situ di Jawa Timur. Melalui satu data yang akurat dan diperbarui secara berkala, BBKSDA Jawa Timur dapat melakukan pemantauan populasi, evaluasi keberhasilan pengembangbiakan, pengendalian peredaran tumbuhan dan satwa liar, hingga penyusunan kebijakan konservasi berbasis bukti.
Peluncuran GLATIK menandai babak baru dalam pengelolaan Lembaga Konservasi di Jawa Timur. Di tengah semakin kompleksnya tantangan pelestarian keanekaragaman hayati, teknologi informasi menjadi jembatan yang menghubungkan pemerintah, pengelola Lembaga Konservasi, dan data yang selama ini tersebar di berbagai tempat.
Ketika seluruh informasi tersusun dalam satu sistem yang terpadu, maka setiap keputusan konservasi tidak lagi dibangun atas perkiraan, melainkan berdasarkan fakta yang terdokumentasi dengan baik.
Menjaga satwa liar bukan hanya tentang melindungi individu yang hidup hari ini, tetapi juga memastikan setiap informasi yang menyertainya tetap lestari. Sebab, dalam dunia konservasi modern, data adalah bagian dari warisan keanekaragaman hayati yang sama berharganya dengan satwa yang dilindungi. Dengan GLATIK, transformasi tersebut telah dimulai, mewujudkan pelayanan yang lebih cepat, tata kelola yang lebih baik, dan konservasi yang semakin adaptif terhadap perkembangan zaman.
Penulis : Fajar Dwi Nur Aji - PEH Ahli Muda
Editor : Agus Irwanto
Sumber : Bidang KSDA Wilayah III Jember
Komentar (1)
Tinggalkan Komentar
Friday Boy
Zoo itu lembaga konservasi ternyata



