BBKSDA Jawa Timur Ambil Bagian dalam Gladi Kesiapsiagaan Karhutla Mojokerto

Mojokerto - Kemarau belum mencapai puncaknya. Langit Jawa Timur masih menyisakan awan di beberapa wilayah. Namun bagi para pengelola kawasan hutan, musim ini selalu membawa satu pertanyaan yang sama, seberapa siap semua pihak jika api benar-benar datang?
Dalam pengelolaan kawasan hutan, kebakaran hutan dan lahan bukan sekadar peristiwa hilangnya pepohonan. Api dapat menghapus habitat yang terbentuk selama puluhan hingga ratusan tahun, memutus koridor pergerakan satwa liar, mengganggu siklus regenerasi tumbuhan, hingga menghilangkan berbagai jasa lingkungan yang menopang kehidupan masyarakat.
Karena itu, kesiapsiagaan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari strategi konservasi.
Kesadaran itulah yang mempertemukan berbagai unsur pemerintah, aparat, relawan, dunia usaha, dan pengelola kawasan konservasi dalam Apel Gladi Kesiapsiagaan Kebakaran Hutan dan Lahan, Simulasi Pertolongan Laka Air, serta Launching Proyek Perubahan "Mojokerto Tangguh Rek" di Mojokerto, 8 Juli 2026.
Melalui Seksi KSDA Wilayah III Surabaya, Balai Besar KSDA Jawa Timur turut mengambil bagian dalam kegiatan tersebut. Kehadiran institusi konservasi memperkuat koordinasi lintas sektor dalam membangun sistem pencegahan dan respons dini terhadap ancaman kebakaran hutan dan lahan yang berpotensi memengaruhi kawasan konservasi maupun bentang alam di sekitarnya.
Apel dipimpin langsung oleh Bupati Mojokerto, Dr. H. Muhammad Albaraa, Lc., M.Hum., dan diikuti sekitar 200 peserta yang berasal dari berbagai pemangku kebijakan. Antara lain, unsur Forkopimda, Balai Dalkarhut Wilayah Jawa Bali dan Nusa Tenggara, BPBD Jawa Timur, Perum Perhutani Divre Jawa Timur, Kantor SAR Kelas A Surabaya, Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Timur, organisasi masyarakat, dunia usaha, tenaga kesehatan, PMI, Baznas, serta berbagai unsur relawan kebencanaan. BBKSDA Jawa Timur sendiri diwakili oleh Polisi Kehutanan Penyelia Yudianang Indra Irwan dan Polisi Kehutanan Terampil Hartono.
Dalam amanatnya, Bupati Mojokerto menekankan bahwa penanggulangan bencana tidak dapat dibebankan kepada satu institusi. Kesiapsiagaan hanya dapat dibangun melalui kolaborasi seluruh elemen masyarakat.
Pada kesempatan itu pula diluncurkan branding "Mojokerto Tangguh Rek" sebagai identitas penguatan ketahanan daerah berbasis mitigasi dan early warning system. Pemerintah Kabupaten Mojokerto juga memperkenalkan aplikasi "Mojo Mandala", sebuah sistem pelaporan kebencanaan berbasis digital yang diharapkan mampu mempercepat alur informasi, koordinasi, dan pengambilan keputusan ketika kondisi darurat terjadi.
Penguatan sistem peringatan dini memiliki arti yang jauh lebih luas daripada sekadar mempercepat pemadaman api. Informasi yang cepat memungkinkan personel melakukan respons sebelum kebakaran meluas dan memasuki kawasan yang memiliki nilai keanekaragaman hayati tinggi. Dalam banyak kasus, keberhasilan konservasi tidak ditentukan oleh besarnya operasi pemadaman, melainkan oleh kemampuan mendeteksi ancaman sejak dini dan mengoordinasikan tindakan secara cepat serta terukur.
Komitmen menjaga lingkungan kemudian diwujudkan melalui penanaman pohon bersama mengusung tema "Hijaukan Negeri, Lestarikan Kehidupan". Aksi tersebut menjadi simbol bahwa upaya mengurangi risiko bencana tidak hanya dilakukan melalui peningkatan kapasitas personel dan peralatan, tetapi juga melalui pemulihan tutupan vegetasi.
Rangkaian kegiatan ditutup dengan peragaan penanganan kebakaran hutan dan lahan serta penyelamatan korban kecelakaan air. Simulasi itu menguji koordinasi antar lembaga, efektivitas komunikasi, kesiapan personel, hingga kemampuan mengoperasikan sarana dan prasarana dalam situasi darurat. Bagi setiap peserta, latihan tersebut menjadi pengingat bahwa keberhasilan penanganan bencana tidak ditentukan saat keadaan sudah genting, tetapi dibentuk melalui latihan yang terus-menerus dilakukan sebelumnya.
Partisipasi Balai Besar KSDA Jawa Timur dalam gladi kesiapsiagaan ini merupakan bagian dari komitmen memperkuat perlindungan kawasan konservasi melalui pendekatan preventif. Sebab menjaga keanekaragaman hayati tidak hanya dilakukan dengan patroli, pengamanan tumbuhan dan satwa liar, atau penegakan hukum, tetapi juga dengan membangun jejaring kolaborasi yang mampu mencegah ancaman sebelum berkembang menjadi bencana.
Konservasi pada akhirnya bukan sekadar menjaga hutan agar tetap hijau. Konservasi adalah memastikan setiap ekosistem memiliki kesempatan untuk tetap menjalankan fungsinya sebagai penyangga kehidupan. Dan upaya itu selalu dimulai jauh sebelum kepulan asap terlihat di cakrawala.
Penulis : Fajar Dwi Nur Aji - PEH Ahli Muda
Editor : Agus Irwanto
Sumber : Bidang KSDA Wilayah II Gresik
Komentar (0)
Tinggalkan Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!



