Dihantam Kemudi Patah, Tim Menemukan Surga Tersembunyi Satwa Liar di Selatan Pulau Nusa Barung

Agus Irwanto
Dihantam Kemudi Patah, Tim Menemukan Surga Tersembunyi Satwa Liar di Selatan Pulau Nusa Barung

Jember - Ekspedisi ilmiah di Pulau Nusa Barung pada 2–15 Juni 2026 tak hanya mengungkap padang penggembalaan alami Rusa Timor di sisi selatan pulau, tetapi juga menyisakan sebuah ironi. Hilangnya perangkat kamera riset yang sebelumnya dipasang, menandakan adanya aktivitas manusia yang luput dari pengawasan di kawasan suaka margasatwa tersebut.

Pagi 8 Juni 2026, laut selatan Jawa membuka perjalanan sebagian tim riset menuju salah satu lanskap paling liar di Pulau Nusa Barung. Lima anggota tim bersama dua nelayan lokal bergerak dari Teluk Cambah menuju Teluk Kandangan, sebuah kawasan terpencil yang menjadi fokus eksplorasi lanjutan dalam riset lintas lembaga.

Kegiatan ini merupakan bagian dari penelitian bertajuk “Pengembangan Teknik Identifikasi Jenis dan Kualitas Habitat Satwa Liar di Pulau Nusa Barung melalui Integrasi Metode Konvensional dengan e-DNA, Soundscape, dan Citra Satelit.” Sebanyak 15 personel terlibat, berasal dari BRIN, Balai Besar KSDA Jawa Timur, Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, Yayasan Generasi Biologi Indonesia, Birdpacker, serta relawan konservasi.

Perjalanan laut berlangsung relatif lancar. Namun sesaat setelah tim tiba dan merapat di Teluk Kandangan, kemudi perahu yang digunakan mendadak patah. Insiden ini memaksa tim menghentikan mobilisasi laut dan menunggu bantuan dari daratan untuk penggantian kemudi. Di titik inilah, ekspedisi bergeser menjadi eksplorasi darat yang lebih intens.

Selama dua malam, tim menyisir kawasan sekitar, memeriksa titik-titik lama sekaligus membuka jalur baru ke area yang belum tersentuh pada ekspedisi sebelumnya. Salah satu agenda penting adalah pengecekan kamera pemantau (camera trap) yang dipasang pada ekspedisi pertama lalu sebagai bagian dari upaya dokumentasi satwa liar.


Namun hasilnya di luar dugaan. Perangkat tersebut tidak ditemukan. Hilang tanpa jejak.

Ketiadaan kamera ini menjadi ironi di tengah semangat penelitian. Ia bukan sekadar kehilangan alat, tetapi juga sinyal bahwa kawasan yang selama ini dianggap sunyi ternyata tidak sepenuhnya kosong. Ada aktivitas manusia yang tidak terpantau, baik disengaja maupun tidak, yang berpotensi mengganggu proses ilmiah sekaligus keseimbangan ekosistem Suaka Margasatwa Pulau Nusa Barung.

Di tengah situasi tersebut, alam tetap menghadirkan jawabannya. Di kawasan Watu Anjir Gebang, tepat di bibir tebing karang yang menghadap Samudera Indonesia, tim menemukan hamparan padang rumput seluas kurang lebih 0,6 hektare. Lanskap ini tampak sederhana, hanya ditumbuhi dua jenis rumput, namun menyimpan makna ekologis yang signifikan.

Jejak gigitan, kubangan, jalur lintasan, dan struktur vegetasi menunjukkan adanya tekanan herbivori yang konsisten. Kawasan ini teridentifikasi sebagai padang penggembalaan alami, ruang makan penting bagi Rusa Timor (Rusa timorensis) yang mendiami pulau tersebut.

Pengamatan lapangan semakin menguatkan temuan ini. Di sekitar Teluk Kandangan, pada kawasan mangrove, tim menyaksikan langsung pergerakan rusa yang menyeberangi perairan dangkal. Perilaku ini memperlihatkan adanya konektivitas habitat, dari kawasan hutan lebat menuju padang penggembalaan di Suketan Anjir Gebang.


Tony Artaka, anggota periset sekaligus Pengendali Ekosistem Hutan dari Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, menegaskan arti penting kawasan tersebut.

“Blok Suketan Anjir Gebang yang ditumbuhi rumput di bibir karang Pulau Nusa Barung sisi selatan merupakan lokasi yang sangat potensial sebagai sumber pakan alami rusa timor di pulau ini. Karakter vegetasinya menunjukkan adanya interaksi yang intens antara satwa dan habitatnya,” ujarnya.

Pernyataan ini memperjelas bahwa bentang alam yang tampak sederhana justru menjadi simpul penting dalam rantai kehidupan satwa liar di Nusa Barung.

Ekspedisi ini menghadirkan dua wajah Nusa Barung, keindahan ekologis yang masih terjaga, sekaligus kerentanan yang mengintai dari aktivitas manusia yang tak terpantau. Hilangnya perangkat riset menjadi pengingat bahwa kawasan konservasi tidak selalu steril dari gangguan.


Di sisi lain, insiden patahnya kemudi perahu, yang terjadi tepat setelah tim merapat di Teluk Kandangan, menegaskan satu hal mendasar dalam setiap kegiatan alam bebas dan penelitian lapangan, bahwa persiapan bukan sekadar prosedur, melainkan kebutuhan mutlak.

Alam tidak pernah bisa diprediksi sepenuhnya. Ia tidak tunduk pada rencana manusia. Karena itu, setiap ekspedisi, terlebih di kawasan terpencil seperti Nusa Barung, menuntut kesiapan teknis, logistik, dan mitigasi risiko yang matang. Bukan hanya untuk menjamin keselamatan tim, tetapi juga untuk memastikan bahwa tujuan ilmiah dapat tercapai tanpa mengorbankan integritas ekosistem yang diteliti.

Di balik kerasnya tebing karang Anjir Gebang dan jejak rusa yang melintas di mangrove, Nusa Barung seakan menyampaikan pesan yang sederhana namun tegas, bahwa menjaga alam berarti juga memahami batas-batas kita di dalamnya.


Penulis : Fajar Dwi Nur Aji - PEH Ahli Muda

Editor : Agus Irwanto


28 views
1 komentar
0 shares
Rating:

Komentar (1)

Tinggalkan Komentar

Agun

🔥🔥🔥💪

Artikel Terkait