Berita

Di Ruas Jalan Ki Ageng Selo, Trenggiling Itu Diselamatkan

Madiun – Siang menjelang puncaknya di Kota Madiun, ketika panas memantul dari permukaan aspal di ruas Jalan Ki Ageng Selo, Kartoharjo. Lalu lintas mengalir seperti biasa, cepat, acuh, dan nyaris tak memberi ruang bagi kehidupan lain yang mencoba melintas.

Di antara ritme kota itu, seekor Trenggiling Jawa terbaring lemah. Tubuhnya tergulung setengah, sisiknya yang keras tak sepenuhnya mampu melindungi dari benturan kendaraan yang melaju tanpa henti. Ia bukan bagian dari lanskap kota, namun siang itu, jalan raya menjadi batas tipis antara hidup dan mati.

Pada Minggu, 24 Mei 2026 sekitar pukul 11.30 WIB, laporan masyarakat diterima oleh Tim Jaringan Satwa Indonesia (JSI). Informasi singkat namun genting, tentang seekor Trenggiling diduga tertabrak sepeda motor. Tanpa menunda waktu, tim segera bergerak menuju lokasi.

Evakuasi dilakukan dengan kehati-hatian. Satwa tersebut masih hidup, meski dalam kondisi lemah akibat trauma benturan. Dengan prosedur penanganan satwa liar yang terstandar, tim membawa trenggiling ke basecamp JSI di kawasan Patihan, Kota Madiun. Di tempat sederhana itu, upaya penyelamatan dimulai, luka dibersihkan, kondisi tubuh dipantau, dan satwa diupayakan tetap dalam kondisi stabil.

Hasil identifikasi menunjukkan bahwa individu tersebut berjenis kelamin jantan. Namun, lebih dari itu, ia adalah representasi dari spesies yang kini berada dalam tekanan besar di alam liar, akibat perburuan, perdagangan ilegal, dan fragmentasi habitat.

Keesokan harinya, Senin, 25 Mei 2026 pukul 12.30 WIB, Trenggiling tersebut diserahkan kepada Balai Besar KSDA Jawa Timur melalui Bidang KSDA Wilayah I Madiun. Saat ini, satwa ditempatkan di kandang transit untuk penanganan lanjutan, termasuk observasi medis dan pemulihan sebelum dipertimbangkan untuk dilepasliarkan kembali ke habitat alaminya.

Di balik respons cepat itu, ada peran penting yang kerap luput dari sorotan tentang adanya Tim Jaringan Satwa Indonesia (JSI). Mereka adalah kader konservasi binaan BBKSDA Jawa Timur, kelompok masyarakat yang tidak hanya bergerak saat terjadi penyelamatan satwa, tetapi juga aktif dalam kegiatan sosialisasi dan edukasi konservasi di berbagai wilayah di Jawa Timur.

Selama ini, JSI menjadi jembatan antara otoritas konservasi dan masyarakat. Mereka hadir di ruang-ruang yang tak selalu terjangkau oleh negara, memberikan pemahaman tentang pentingnya menjaga satwa liar, mengurangi konflik manusia dan satwa, serta mendorong partisipasi publik dalam upaya pelestarian keanekaragaman hayati.

Peristiwa di Jalan Ki Ageng Selo menjadi pengingat bahwa ancaman terhadap satwa liar tidak selalu datang dari perburuan. Jalan raya, ekspansi wilayah urban, dan perubahan lanskap telah menciptakan risiko baru yang kian nyata. Satwa seperti trenggiling, yang hidupnya tersembunyi dan bergantung pada ekosistem yang utuh, kini harus berhadapan dengan dunia yang terus bergerak cepat.

Namun di tengah risiko itu, masih ada harapan. Harapan yang hadir dari laporan warga, dari respons cepat tim lapangan, dan dari kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat.

Di atas aspal yang panas itu, satu nyawa berhasil diselamatkan. Dan dari satu penyelamatan, kita diingatkan kembali bahwa konservasi bukan hanya tentang hutan yang jauh di sana, tetapi juga tentang pilihan-pilihan kecil di ruang hidup kita sehari-hari.

Penulis : Fajar Dwi Nur Aji – PEH Ahli Muda
Editor : Agus Irwanto
Sumber : Bidang KSDA Wilayah I Madiun