135 Mahasiswa UPN Veteran Jawa Timur Menyelami Filosofi Konservasi di Kawah Ijen
Banyuwangi – Pagi itu, angin berembus pelan membawa aroma tajam belerang yang menggantung di udara. Kabut tipis masih menyelimuti lanskap vulkanik Taman Wisata Alam (TWA) Kawah Ijen, seolah menahan cahaya matahari yang perlahan menembus dari balik punggung gunung. Di hadapan kawah berwarna pirus yang tampak tenang, sekitar 135 mahasiswa berdiri dalam hening yang tidak biasa.
Mereka tidak datang sekadar untuk melihat. Mereka datang untuk memahami.
Langkah kaki yang sebelumnya riuh di jalur pendakian kini melambat. Lanskap yang selama ini hanya hadir dalam foto dan layar gawai berubah menjadi pengalaman inderawi yang utuh, bau, suara, suhu, dan rasa takjub yang sulit diterjemahkan. Kawah Ijen bukan sekadar destinasi wisata. Ia adalah ruang belajar yang hidup, sekaligus pengingat bahwa alam memiliki cara sendiri untuk berbicara kepada manusia.
Pada Rabu, 20 Mei 2026, kawasan TWA. Kawah Ijen menjadi kelas terbuka bagi mahasiswa Program Studi Pariwisata, Fakultas Ilmu Sosial, Budaya, dan Politik, Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur. Kegiatan ini merupakan bagian dari praktikum lapangan Mata Kuliah Dasar-dasar Konservasi dan Pengelolaan Sumber Daya Alam yang dikemas dalam program Learning Exploration of Tourism & Local Wisdom (LENTERA) 2026.
Di tengah bentang alam yang ekstrem, materi mengenai dasar-dasar konservasi dan pengelolaan kawasan disampaikan secara langsung di lapangan, bukan dalam ruang tertutup, melainkan di hadapan lanskap yang menjadi objek sekaligus subjek pembelajaran itu sendiri. Pendekatan ini menghadirkan pengalaman belajar yang kontekstual, di mana teori bertemu dengan realitas yang kompleks.
Kawasan seperti Kawah Ijen menyimpan lebih dari sekadar keindahan visual. Ia merupakan sistem ekologis yang rapuh, dengan dinamika geologi yang aktif dan tekanan aktivitas manusia yang terus meningkat. Di satu sisi, kawasan ini menjadi magnet wisata kelas dunia. Di sisi lain, ia adalah ruang konservasi yang membutuhkan pengelolaan cermat agar keseimbangan ekosistem tetap terjaga.
Dalam konteks inilah, pemahaman tentang konservasi menjadi semakin penting.
Para mahasiswa diajak menelusuri bagaimana konsep-konsep dasar konservasi diterapkan dalam pengelolaan kawasan nyata. Bukan hanya tentang perlindungan keanekaragaman hayati, tetapi juga tentang bagaimana mengelola interaksi antara manusia dan alam. Setiap aspek, mulai dari pengaturan kunjungan wisata, mitigasi dampak lingkungan, hingga pelibatan masyarakat, menjadi bagian dari sistem yang saling terhubung.
Diskusi yang berlangsung di lapangan mencerminkan dinamika pemikiran yang berkembang. Pertanyaan-pertanyaan muncul seiring dengan pengamatan langsung terhadap kondisi kawasan. Bagaimana menjaga daya dukung lingkungan di tengah meningkatnya jumlah wisatawan?
Bagaimana memastikan bahwa pemanfaatan ekonomi tidak mengorbankan kelestarian ekosistem? Dan bagaimana peran generasi muda dalam menjawab tantangan tersebut?
Di tengah pertanyaan-pertanyaan itu, Kawah Ijen tetap “berbicara” melalui lanskapnya.
Asap belerang yang mengepul dari dasar kawah menjadi penanda proses alam yang terus berlangsung tanpa henti. Air kawah yang tampak tenang menyimpan tingkat keasaman ekstrem, menjadikannya salah satu lingkungan paling unik sekaligus paling rentan. Keindahan yang tersaji bukanlah keindahan yang statis, melainkan hasil dari proses panjang yang terus bergerak dan berubah.
Pengalaman berada langsung di kawasan ini menghadirkan perspektif yang berbeda. Apa yang sebelumnya dipahami sebagai objek wisata mulai bergeser menjadi sistem yang harus dijaga. Kesadaran ini tidak datang secara instan, melainkan tumbuh dari interaksi langsung dengan lingkungan dan pemahaman atas kompleksitas yang ada di dalamnya.
Kegiatan ini tidak hanya berfungsi sebagai sarana transfer pengetahuan, tetapi juga sebagai ruang refleksi. Di tengah aroma belerang dan lanskap yang ekstrem, muncul pemahaman bahwa setiap aktivitas manusia di kawasan konservasi membawa konsekuensi ekologis. Setiap langkah, setiap keputusan, memiliki dampak yang tidak selalu terlihat secara langsung.
Perubahan cara pandang inilah yang menjadi inti dari pembelajaran.
Sebagai calon pelaku industri pariwisata, para mahasiswa dihadapkan pada realitas bahwa keberlanjutan bukan sekadar konsep tambahan, melainkan fondasi utama dalam pengelolaan destinasi. Pariwisata yang tidak memperhatikan aspek konservasi berpotensi merusak sumber daya yang justru menjadi daya tarik utamanya.
Menjelang akhir kegiatan, suasana perlahan berubah. Kabut mulai terangkat, memperlihatkan lanskap kawah dengan lebih jelas. Warna biru kehijauan air kawah memantulkan cahaya, menciptakan kontras dengan dinding batuan yang keras dan tandus. Keindahan yang memikat itu sekaligus menjadi pengingat akan batas-batas yang harus dihormati.
Sebagai bentuk apresiasi, dilakukan penyerahan sertifikat kepada pihak TWA. Kawah Ijen sebagai narasumber dalam kegiatan LENTERA 2026. Kegiatan juga diwarnai dengan penyerahan cinderamata serta buku bertema ekowisata Ekowisata Ber-Sepeda dan Serba-Serbi Ekowisata sebagai bagian dari penguatan kolaborasi dan pertukaran pengetahuan.
Namun, nilai utama dari kegiatan ini tidak terletak pada seremoni. Ia terletak pada pemahaman yang terbentuk.
Ketika para mahasiswa mulai meninggalkan kawasan, percakapan yang terdengar bukan lagi sekadar tentang keindahan, tetapi tentang makna. Tentang tanggung jawab. Tentang bagaimana manusia seharusnya menempatkan diri dalam relasinya dengan alam.
Di tempat seperti TWA. Kawah Ijen, alam tidak pernah benar-benar diam. Ia terus bergerak, berproses, dan menghadirkan pelajaran bagi siapa pun yang bersedia untuk memperhatikan. Dari sana, konservasi menemukan bentuknya yang paling nyata.
Bukan hanya sebagai upaya perlindungan, tetapi sebagai cara pandang, sebuah kesadaran bahwa manusia bukanlah pusat dari segalanya, melainkan bagian dari sistem yang lebih besar. Sistem yang harus dijaga, dipahami, dan dihormati. Dan dari Kawah Ijen, pelajaran itu dibawa pulang.
Tidak dalam bentuk catatan semata, tetapi sebagai pengalaman yang membentuk cara melihat dunia. Sebuah pengingat bahwa di balik setiap keindahan alam, selalu ada tanggung jawab yang menyertainya.
Karena pada akhirnya, konservasi bukan hanya tentang menjaga alam tetap lestari. Ia adalah tentang bagaimana manusia belajar untuk hidup selaras dengannya.
Penulis : Fajar Dwi Nur Aji – PEH Ahli Muda
Editor : Agus Irwanto
Sumber : Bidang KSDA Wilayah III Jember