Berita

BBKSDA Jatim Bedah Dunia Konservasi di Hadapan Calon Dokter Hewan

Banyuwangi – Di tengah meningkatnya tekanan terhadap keanekaragaman hayati, ruang-ruang kuliah menjadi titik awal penting untuk membangun kesadaran baru. Senin, 27 April 2026, Balai Besar KSDA Jawa Timur membawa realitas konservasi ke hadapan mahasiswa Program Profesi Dokter Hewan (PPDH) Fakultas Ilmu Kesehatan, Kedokteran, dan Ilmu Alam (FKKIA) Banyuwangi.

Sebanyak 13 mahasiswa mengikuti kuliah tamu yang tidak hanya menyampaikan teori, tetapi juga membongkar praktik nyata di lapangan. Tiga narasumber dari BBKSDA Jawa Timur hadir dengan sudut pandang yang saling melengkapi.

Pengendali Ekosistem Hutan, drh. Zakia Sheila Faradila, mengulas keterkaitan kesehatan satwa liar dengan ancaman penyakit zoonosis. Penyuluh kehutanan Ainy Amelya Utami menekankan pentingnya komunikasi dan edukasi publik dalam mendukung upaya konservasi. Sementara itu, Pengendali Ekosistem Hutan Mohamad Sukron Makmun memaparkan dinamika pengelolaan satwa liar, termasuk tantangan teknis dan sosial yang kerap dihadapi di lapangan.

Materi yang disampaikan mencerminkan kompleksitas dunia konservasi. Dari aspek legislasi dan mekanisme penyitaan satwa dilindungi, mahasiswa diperkenalkan pada kerangka hukum yang menjadi dasar penindakan terhadap perdagangan ilegal.

Pada sesi penangkaran dan pelepasliaran satwa liar, dibahas proses panjang yang tidak hanya menuntut keahlian teknis, tetapi juga ketepatan dalam menilai kesiapan satwa untuk kembali ke habitatnya. Sementara itu, topik zoonosis menggarisbawahi hubungan erat antara kesehatan satwa, manusia, dan lingkungan dalam satu kesatuan ekosistem.

Suasana kelas berlangsung dinamis. Mahasiswa tidak hanya menjadi pendengar, tetapi juga aktif mengajukan pertanyaan dan terlibat dalam diskusi. Ketertarikan mereka terlihat dari ragam isu yang diangkat, mulai dari prosedur penyelamatan satwa hingga tantangan etika dalam penanganan konflik manusia dan satwa liar.

Untuk menguji pemahaman sekaligus meningkatkan partisipasi, kegiatan ditutup dengan kuis daring yang menguji ketepatan dan kecepatan berpikir. Peserta dengan jawaban paling akurat dan respons tercepat mendapatkan apresiasi dari narasumber, menegaskan pentingnya kesiapan dalam menghadapi situasi nyata di lapangan yang sering kali menuntut keputusan cepat dan tepat.

Kegiatan ini menjadi pengingat bahwa konservasi tidak dapat berjalan sendiri. Diperlukan kolaborasi lintas disiplin, termasuk peran strategis dokter hewan sebagai garda depan dalam menjaga kesehatan satwa liar dan mencegah penyebaran penyakit. Melalui pendekatan edukatif seperti ini, BBKSDA Jawa Timur tidak hanya mentransfer pengetahuan, tetapi juga menanamkan tanggung jawab moral kepada generasi muda.

Dari ruang kuliah di Banyuwangi, satu pesan mengemuka: masa depan satwa liar tidak hanya ditentukan oleh kebijakan dan institusi, tetapi juga oleh kesiapan individu-individu yang memahami kompleksitas dan bersedia terlibat langsung dalam upaya pelestarian.

Penulis : Fajar Dwi Nur Aji – PEH Ahli Muda
Editor : Agus Irwanto
Sumber : Bidang KSDA Wilayah III Jember