Dari Ladang ke Harapan, Saat Warga Menyerahkan Dua Penjaga Hutan yang Nyaris Hilang di Magetan
Magetan – Di antara hamparan sawah dan ladang yang berbatasan dengan hutan, kisah kecil tentang harapan bagi keanekaragaman hayati kembali terjadi. Pada Kamis, 9 April 2026, dua satwa liar, seekor Merak Hijau (Pavo muticus) dan seekor Kangkareng Perut-Putih (Anthracoceros albirostris) diserahkan secara sukarela oleh masyarakat kepada petugas Balai Besar KSDA Jawa Timur.
Penyerahan ini berawal dari laporan Fajar Anang Triyanto, Bhabinkamtibmas Desa Durenan dan Desa Getas Anyar, Kecamatan Sidorejo, Kabupaten Magetan. Ia menerima informasi dari warga yang menemukan kedua satwa tersebut saat beraktivitas di ladang, wilayah yang berbatasan langsung dengan habitat alami satwa liar.
Langkah warga untuk tidak memelihara, memperjualbelikan, atau memanfaatkan satwa tersebut menjadi penanda penting tumbuhnya kesadaran kolektif dalam menjaga keseimbangan ekosistem.
Tim Matawali dari Bidang KSDA Wilayah I bersama Resort Konservasi Wilayah 04 Madiun segera menindaklanjuti laporan tersebut. Kedua satwa kemudian dievakuasi untuk penanganan lebih lanjut. Saat ini kedua satwa telah ditempatkan sementara di kandang transit kantor Bidang KSDA Wilayah I Madiun, guna observasi kondisi kesehatan dan kesiapan untuk tahap berikutnya.
Merak Hijau merupakan salah satu spesies yang dilindungi di Indonesia, dikenal dengan bulu yang memantulkan cahaya seperti permata hidup di lantai hutan. Sementara itu, Kangkareng Perut-Putih, dengan paruh besarnya yang khas, memainkan peran penting sebagai penyebar biji di dalam ekosistem hutan tropis. Kehadiran keduanya bukan sekadar estetika alam, melainkan bagian dari jaring kehidupan yang menjaga regenerasi hutan.
Peristiwa ini menjadi refleksi bahwa interaksi manusia dan satwa liar tidak selalu berujung konflik. Dalam banyak kasus, pilihan sederhana, seperti menyerahkan satwa yang ditemukan, dapat menjadi keputusan besar bagi kelangsungan spesies.
Balai Besar KSDA Jawa Timur sangat mengapresiasi langkah cepat dan kesadaran masyarakat serta peran aktif aparat kewilayahan. Upaya kolaboratif seperti ini menjadi fondasi penting dalam menjaga keberlanjutan sumber daya alam hayati dan ekosistemnya.
Di tengah tekanan terhadap habitat dan meningkatnya perjumpaan manusia dengan satwa liar, kisah dari Magetan ini mengingatkan bahwa harapan masih tumbuh, di ladang, di desa, dan di tangan mereka yang memilih untuk menjaga, bukan memiliki.
Penulis : Fajar Dwi Nur Aji – PEH Ahli Muda
Editor : Agus Irwanto
Sumber : Bidang KSDA Wilayah I Madiun