Berita

Usia Bukan Ukuran Untuk Peduli, Kisah Bocah 11 Tahun Dan Seekor Elang Terlilit

Sidoarjo – Siang itu, Minggu, 5 April 2026, Maheswara Kamajaya tak sedang mencari apa pun selain layang-layang yang tersangkut. Bocah 11 tahun, siswa kelas IV SD Watugolong 1 itu berlari menyusuri pematang sawah di Desa Watugolong, Kecamatan Krian. Namun langkahnya terhenti ketika melihat sesuatu yang tak biasa di bawah pohon, seekor elang tergeletak, kakinya terlilit tali, tubuhnya tampak lemah.

Tanpa banyak pertimbangan, Maheswara memilih mendekat. Rasa takut kalah oleh rasa kasihan. Ia lalu mengangkat burung itu dan membawanya pulang ke rumahnya di Perumahan Pesona Permata Ungu.

Di garasi rumahnya yang sederhana, elang tersebut diletakkan. Sang ayah, M. Suyudi, mencoba membantu sebisanya. Air minum disediakan. Berbagai jenis pakan dicoba, ikan air tawar, ikan laut, hingga daging ayam. Namun burung itu tetap diam, tak mau makan. Hari pertama dilalui dengan cemas.

Harapan datang dari arah yang tak diduga. Seorang tetangga yang menebang pohon kelapa menemukan sarang burung dengan anakan di dalamnya. Anakan itu kemudian diberikan kepada keluarga Maheswara. Saat itulah, untuk pertama kalinya, elang tersebut mau makan, sebuah momentum yang membuat mereka sedikit lega.

Selama beberapa hari, elang itu menjadi perhatian kecil di lingkungan mereka. Ada yang datang melihat, ada pula yang tertarik untuk memelihara. Namun keluarga Maheswara menolak. Mereka tak ingin satwa itu berpindah tangan tanpa kepastian.

Kebingungan pun muncul, harus dibawa ke mana? Suyudi kemudian berinisiatif mencari bantuan. Ia menghubungi Call Center Pemerintah Kabupaten Sidoarjo, berharap ada pihak yang bisa menangani.

Empat hari setelah penemuan, pada 9 April 2026, jawaban itu datang. Tim Balai Besar KSDA Jawa Timur tiba di rumah mereka. Elang tersebut kemudian diserahkan secara sukarela untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut. Petugas mengidentifikasi burung itu sebagai Elang Tikus (Elanus caeruleus), salah satu raptor yang berperan penting di ekosistem persawahan.

Bagi Maheswara, peristiwa itu mungkin hanya sepenggal pengalaman masa kecil, tentang layang-layang yang putus dan seekor burung yang ia tolong. Namun di balik itu, ada pelajaran sederhana yang jarang diajarkan di ruang kelas, bahwa kepedulian bisa muncul kapan saja, bahkan dari tangan kecil seorang anak.

Di tengah berbagai cerita tentang ancaman terhadap satwa liar, kisah ini hadir dengan nada berbeda. Tidak heroik, tidak pula dramatis. Hanya tentang seorang anak yang memilih peduli dan sebuah keluarga yang memutuskan melakukan hal yang benar.

Penulis : Adnan Aribowo dan Fajar Dwi Nur Aji
Editor : Agus Irwanto
Sumber : Bidang KSDA Wilayah II Gresik