42 Rusa Bawean Dipindahkan dari Taman Flora Surabaya ke Kebun Binatang Surabaya

Agus Irwanto
42 Rusa Bawean Dipindahkan dari Taman Flora Surabaya ke Kebun Binatang Surabaya

Surabaya - Sebanyak 42 ekor Rusa Bawean dipindahkan dari Taman Flora Surabaya ke Kebun Binatang Surabaya pada Senin, 22 Juni 2026. Balai Besar KSDA Jawa Timur melalui Seksi KSDA Wilayah III Surabaya memimpin evakuasi ini bersama Dinas Lingkungan Hidup Kota Surabaya dan pengelola kebun binatang surabaya.

Seluruh satwa yang terdiri dari 8 jantan dan 34 betina, berhasil dipindahkan tanpa kehilangan. Proses berlangsung menggunakan empat kendaraan angkut, menandai berakhirnya masa penitipan satwa di ruang terbatas taman kota.

Namun, keputusan memindahkan satwa ini ke lembaga konservasi ex-situ, alih-alih langsung melepasliarkannya ke habitat alami di Pulau Bawean, bukan tanpa alasan.

Sebagian besar rusa tersebut telah lama hidup dalam lingkungan yang bersinggungan erat dengan manusia. Adaptasi terhadap ruang buatan, pola pakan yang berubah, serta potensi penurunan insting liar menjadi pertimbangan utama. Dalam kondisi seperti itu, pelepasliaran justru berisiko tinggi, baik bagi individu satwa maupun bagi populasi liar yang sudah ada.

Lebih dari itu, persoalan genetika menjadi perhatian yang tidak bisa diabaikan.

Hingga kini, belum tersedia data komprehensif yang mampu memastikan tingkat kemurnian genetik individu-individu rusa tersebut. Dalam praktik konservasi, pelepasliaran tanpa dasar ilmiah yang kuat berpotensi memicu pencampuran genetik yang tidak terkontrol. Jika individu dengan kualitas genetik rendah atau telah mengalami inbreeding dilepas ke alam, dampaknya bisa merusak struktur genetik populasi asli yang selama ini bertahan di habitat alaminya.

Di sinilah peran lembaga konservasi ex-situ menjadi krusial.

Kebun Binatang Surabaya diposisikan sebagai ruang antara, bukan tujuan akhir, melainkan tahap pengelolaan. Di tempat ini, satwa dapat menjalani serangkaian proses: identifikasi individu, pemantauan kesehatan, pengaturan reproduksi, hingga kajian genetika. Penandaan dengan ear tag terhadap sebagian besar individu dalam proses evakuasi menjadi langkah awal untuk memastikan setiap rusa memiliki identitas yang jelas dalam sistem pengelolaan.

Pelepasliaran, dalam konteks konservasi modern, bukan sekadar memindahkan satwa ke alam. Ia adalah proses panjang yang menuntut kesiapan ekologis, perilaku, dan genetika. Tanpa itu, niat baik justru dapat berbalik menjadi ancaman baru.

Karena itu, pemindahan ke Kebun Binatang Surabaya dapat dibaca sebagai pilihan konservasi yang berhati-hati. Sebuah jeda yang diperlukan sebelum keputusan lebih besar diambil.

Di tengah tekanan terhadap habitat alami yang kian menyempit, setiap langkah pengelolaan satwa menjadi penentu. Bukan hanya tentang menyelamatkan individu, tetapi menjaga agar masa depan spesies tetap utuh, tanpa mengorbankan keseimbangan yang sudah ada di alam.


Penulis : Fajar Dwi Nur Aji - PEH Ahli Muda 

Editor : Agus Irwanto

Sumber : Bidang KSDA Wilayah II Gresik

8 views
0 komentar
0 shares
Rating:

Komentar (0)

Tinggalkan Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!

Artikel Terkait