Berita

Trenggiling Muncul Berulang, Apa yang Terjadi pada Lanskapnya?

Mojokerto – Dari Trowulan ke Soko, kemunculan satwa kritis ini bukan lagi peristiwa tunggal. Ada pola yang mulai terbaca dan peringatan yang tak boleh diabaikan. Malam di Mojokerto kembali menghadirkan kejutan. Seekor satwa bersisik, berjalan lambat di pinggir jalan, disangka tikus berukuran besar. Bukan pertama kali.

Dalam beberapa waktu terakhir, pola serupa muncul di titik berbeda Trowulan lalu Soko. Lokasinya berpindah, tetapi ceritanya sama, ditemukan warga, aktif malam hari, berada di ruang yang seharusnya bukan miliknya.

Kembali tim Matawali Balai Besar KSDA Jawa Timur mengevakuasi seekor Trenggiling Jawa (Manis Javanica) dari Desa Mojoranu, Kecamatan Sooko, Selasa, 21 April 2026. Satwa ditemukan warga sehari sebelumnya dan dilaporkan melalui layanan pengaduan. Tim Matawali RKW 08 Mojokerto, Lamongan melakukan verifikasi lapangan, pemeriksaan awal, dan evakuasi ke Unit Penyelamatan Satwa (UPS).

Temuan ini menambah daftar kemunculan trenggiling di Mojokerto. Sebelumnya, laporan serupa juga muncul di wilayah Trowulan. Polanya konsisten: satwa berada di dekat permukiman, terdeteksi tanpa sengaja, dan berpotensi masuk dalam rantai perdagangan ilegal jika tidak segera ditangani.

Trenggiling Jawa merupakan satwa dilindungi dengan status Critically Endangered (Kritis) menurut IUCN dan masuk Appendix I CITES, kategori tertinggi dalam perlindungan perdagangan internasional.

Dalam kasus di Soko, dinamika sosial sempat muncul. Informasi penemuan menyebar di media sosial, diikuti tawaran pembelian. Namun warga memilih tidak menjual dan melaporkan ke otoritas. Respons cepat petugas mencegah potensi kehilangan satu individu spesies yang populasinya terus menurun di alam.

Wilayah Soko hingga Trowulan bukan kawasan konservasi inti. Namun secara ekologis, kawasan ini berada dalam bentang lanskap yang terhubung dengan fragmen habitat alami, mulai dari hutan produksi, semak belukar, hingga koridor yang tersisa di sekitar kawasan seperti Taman Hutan Raya Raden Soerjo.

Trenggiling adalah satwa nokturnal yang sensitif terhadap gangguan. Ia bergantung pada ketersediaan pakan (semut dan rayap) serta tutupan vegetasi untuk berlindung. Ketika satwa ini mulai muncul berulang di ruang terbuka dan permukiman, ada dua kemungkinan yang menguat, apakah habitat alaminya tertekan atau menyempit, atau jalur jelajahnya terfragmentasi dan terputus. Keduanya mengarah pada satu kesimpulan awal: bentang alam tidak lagi utuh.

Satu trenggiling diselamatkan. Laporan selesai. Dokumentasi dibuat. Namun jika kemunculan ini terus berulang di lokasi berbeda dalam satu lanskap yang sama, maka ini bukan lagi sekadar “kejadian penyelamatan satwa liar”. Ini adalah alarm ekologi.

Alarm bahwa batas antara habitat liar dan ruang manusia semakin kabur. Alarm bahwa spesies yang seharusnya tersembunyi di hutan kini muncul di pinggir jalan. Dan alarm bahwa tekanan terhadap keanekaragaman hayati tidak selalu terlihat, hingga satwa itu sendiri yang muncul sebagai tanda.

Keputusan warga di Mojokerto, tidak menjual, tetapi melapor, menjadi titik terang di tengah situasi ini. Namun kesadaran saja tidak cukup jika lanskap terus berubah tanpa kendali. Pertanyaannya kini bergeser, bukan lagi mengapa trenggiling ditemukan, tetapi apa yang sedang kita lakukan terhadap rumahnya?

Penulis : Fajar Dwi Nur Aji – PEH Ahli Muda
Editor : Agus Irwanto
Sumber : Bidang KSDA Wilayah II Gresik