Petrokimia Gresik Dukung Teknologi Untuk Pelepasliaran Elang Jawa di Kawah Ijen
Sidoarjo – Harapan bagi kembalinya Elang Jawa ke langit liar mulai disiapkan. Balai Besar KSDA Jawa Timur menerima dukungan teknologi wildlife tracking dari PT. Petrokimia Gresik sebagai bagian dari rangkaian persiapan pelepasliaran spesies endemik tersebut di kawasan Kawah Ijen, Banyuwangi (22/04/2026).
Di sebuah ruang pertemuan yang tenang, proses serah terima itu berlangsung tanpa gemuruh. Namun maknanya jauh melampaui seremoni. Sebuah perangkat kecil, teknologi pelacak satwa berbasis satelit, menjadi simbol kesiapan menuju tahap penting dalam konservasi, untuk memastikan kehidupan setelah pelepasliaran.
Perangkat yang diserahkan merupakan GPS tracking, yang dirancang khusus untuk pemantauan satwa liar. Dengan kemampuan menggabungkan sistem navigasi global dan pengiriman data secara real-time, alat ini memungkinkan tim BBKSDA Jawa Timur membaca jejak perjalanan elang jawa setelah kembali ke alam, ke mana ia terbang, seberapa luas wilayah jelajahnya, hingga bagaimana ia beradaptasi di habitat baru.
Teknologi ini akan dipasang pada dua individu Elang Jawa yang saat ini masih menjalani tahap akhir rehabilitasi di kandang transit Unit Penyelamatan Satwa Balai Besar KSDA Jawa Timur. Setelah melalui proses medis dan pembentukan perilaku alami, keduanya diproyeksikan akan dilepasliarkan di bentang alam Kawah Ijen dalam waktu mendatang.
Kepala Balai Besar KSDA Jawa Timur, Nur Patria Kurniawan, menegaskan bahwa konservasi modern menuntut pendekatan yang tidak hanya berfokus pada pelepasliaran, tetapi juga pada keberlanjutan pasca pelepasan.
“Setiap pelepasliaran harus diikuti dengan pemantauan yang baik. Melalui dukungan teknologi ini, kita dapat memastikan bahwa proses adaptasi satwa di alam berjalan optimal dan dapat dipelajari secara ilmiah. Ini menjadi bagian penting dalam penguatan konservasi berbasis data,” ujarnya.
Beliau juga menekankan bahwa keberhasilan konservasi saat ini sangat ditentukan oleh kolaborasi.
“Kami menyambut baik dukungan dari berbagai pihak. Konservasi tidak bisa berjalan sendiri. Dibutuhkan keterlibatan multipihak untuk memastikan upaya pelestarian ini benar-benar berkelanjutan.”
Dari sisi mitra, PT Petrokimia Gresik melihat keterlibatan ini sebagai bagian dari tanggung jawab bersama dalam menjaga lingkungan.
“Kami mengucapkan terima kasih atas kesempatan yang diberikan kepada kami untuk dapat berkontribusi dalam kegiatan konservasi ini. Dukungan ini menjadi bagian dari komitmen kami untuk ikut menjaga kelestarian keanekaragaman hayati, khususnya spesies endemik yang memiliki nilai penting bagi ekosistem dan bangsa,” ungkap M. Agus Priyanto, Staff Muda Sistem dan Teknologi Lingkungan, Departemen Lingkungan Hidup, PT. Petrokimia Gresik
Elang Jawa: Lebih dari Sekadar Simbol
Elang Jawa (Nisaetus Bartelsi) bukan sekadar burung pemangsa. Ia adalah bagian dari identitas ekologis Pulau Jawa dan Bali. Dengan jambul khas yang menjulang dan postur yang gagah, elang ini kerap diasosiasikan dengan sosok Garuda, lambang negara Indonesia, yang mencerminkan kekuatan dan kebebasan.
Namun di alam, perannya jauh lebih mendasar. Sebagai predator puncak, Elang Jawa menjaga keseimbangan rantai makanan di hutan pegunungan tropis. Keberadaannya menjadi indikator penting bahwa suatu ekosistem masih sehat dan berfungsi dengan baik.
Sayangnya, tekanan terhadap habitat terus meningkat. Fragmentasi hutan, alih fungsi lahan, serta ancaman perburuan dan perdagangan ilegal membuat populasi Elang Jawa terus menghadapi risiko. Saat ini, spesies ini berstatus Terancam Punah (Endangered) dan menjadi prioritas dalam upaya konservasi nasional .
Menyiapkan Kawah Ijen sebagai Rumah
Kawah Ijen dipilih sebagai lokasi pelepasliaran bukan tanpa pertimbangan. Lanskap pegunungan dengan ketinggian lebih dari 1.600 meter, ketersediaan mangsa alami, serta konektivitas dengan kawasan hutan lain menjadikan wilayah ini sebagai habitat potensial bagi Elang Jawa.
Namun sebelum hari pelepasliaran tiba, masih ada tahapan penting yang harus dilalui. Mulai dari proses habituasi di kandang adaptasi, pemasangan perangkat GPS, hingga evaluasi akhir kesiapan satwa. Semua dilakukan untuk memastikan bahwa saat pintu kandang dibuka, Elang Jawa benar-benar siap kembali menjadi bagian dari alam liar.
Hari ini, yang disiapkan bukanlah pelepasliaran, melainkan fondasi bagi keberhasilannya. Sebuah perangkat kecil telah diserahkan. Namun dari sanalah, perjalanan besar akan dimulai. Perjalanan dua Elang Jawa menuju langit yang lebih luas, dan perjalanan bersama menuju masa depan konservasi yang lebih kolaboratif.
Karena menjaga sang Garuda tetap terbang bukan hanya tentang hari ini, tetapi tentang bagaimana kita menyiapkan setiap langkah menuju hari itu.
Penulis : Fajar Dwi Nur Aji – PEH Ahli Muda
Editor : Agus Irwanto