Dua Wajah dan Jalan Tengah: Konservasi Keanekaragaman Hayati di Pulau Bawean

Gresik - Pulau Bawean menyimpan paradoks yang menjadi tantangan banyak kawasan konservasi di Indonesia. Di satu sisi, hutan-hutannya masih menjadi rumah bagi berbagai spesies endemik yang hanya dapat dijumpai di pulau kecil di Laut Jawa ini. Di sisi lain, kawasan yang sama tidak sepenuhnya terbebas dari berbagai tekanan yang berpotensi mengurangi kualitas habitat.
Potret itulah yang terekam selama pelaksanaan Smart Patrol Resort Konservasi Wilayah (RKW) 09 Gresik–Bawean, Balai Besar KSDA Jawa Timur, pada periode 20–26 Juli 2026. Patroli yang dilaksanakan bersama Masyarakat Mitra Polhut (MMP) Bawean Lestari tersebut menjangkau delapan grid utama dengan luas pemantauan sekitar 36,25 hektar.
Selain menyusuri jalur patroli utama, tim juga melakukan pengulangan pada sejumlah titik yang sebelumnya diketahui memiliki tingkat kerawanan lebih tinggi. Menggunakan pendekatan Spatial Monitoring and Reporting Tool (SMART), setiap temuan flora, fauna, fitur kawasan, maupun potensi gangguan dicatat secara sistematis sebagai dasar pengelolaan kawasan konservasi berbasis data lapangan.
Hasil patroli memperlihatkan bahwa Suaka Margasatwa Pulau Bawean masih memiliki fungsi ekologis yang sangat penting. Tim mencatat keberadaan Rusa Bawean (Axis kuhlii), Babi Kutil Bawean (Sus blouchi), Elang Ular Bawean (Spilornis cheela baweanus), Sikep Madu Asia (Pernis ptilorhynchus), hingga Kalong (Pteropus vampyrus). Berbagai jenis burung, reptil, kupu-kupu, dan mamalia lain masih memanfaatkan kawasan sebagai habitat alaminya. Keberadaan satwa-satwa tersebut menunjukkan bahwa rantai ekologi di dalam kawasan masih berlangsung dengan baik.
Tidak hanya satwa liar, kekayaan flora juga menjadi penanda masih terjaganya kualitas habitat. Pohon-pohon hutan seperti Pangopa, Gondang, Bintangur, Da'u, Kokap, hingga Kayu Bulu masih mendominasi beberapa blok patroli. Pada batang-batang pohon tua, tim juga menjumpai Anggrek Bulan (Phalaenopsis amabilis), Anggrek Ekor Tupai (Rhynchostylis retusa), dan Vanda sp., yang hanya mampu tumbuh pada kondisi tegakan hutan dengan kelembapan dan tutupan tajuk yang masih baik. Bahkan, keberadaan aliran sungai di salah satu grid memperkuat fungsi kawasan sebagai penyedia air sekaligus koridor alami bagi pergerakan satwa liar.
Namun, hutan selalu menyimpan dua wajah. Di balik kekayaan keanekaragaman hayati tersebut, Smart Patrol juga mendokumentasikan sejumlah tekanan terhadap kawasan.
Beberapa titik, tim menemukan hutan kehilangan vegetasi penyusunnya. Pada lokasi lain, tim juga menemukan kebakaran vegetasi. Berbekal peralatan sederhana, petugas segera melakukan pemadaman manual dan pendinginan sehingga api tidak meluas ke kawasan hutan di sekitarnya.
Selain dua temuan tersebut, tim juga mencatat hilangnya Pal Batas Suaka Margasatwa serta keberadaan dua pipa di dalam kawasan yang fungsi dan pemanfaatannya masih memerlukan klarifikasi. Temuan-temuan ini menjadi bagian penting dari evaluasi pengelolaan kawasan agar perlindungan dapat dilakukan secara lebih adaptif dan berbasis bukti lapangan.
Bagi Balai Besar KSDA Jawa Timur, seluruh temuan tersebut tidak dipandang semata-mata sebagai catatan gangguan, melainkan sebagai dasar untuk memperkuat strategi pengelolaan kawasan. Selama pelaksanaan Smart Patrol, tim juga melakukan koordinasi dengan pemerintah desa, sosialisasi perlindungan kawasan, edukasi mengenai pencegahan kebakaran hutan dan lahan.
Serta mengajak masyarakat untuk berpartisipasi aktif melaporkan apabila menemukan aktivitas yang berpotensi mengganggu kawasan konservasi. Pendekatan ini mencerminkan bahwa konservasi tidak hanya bertumpu pada pengawasan dan penegakan hukum, tetapi juga pada komunikasi, kemitraan, dan tumbuhnya kesadaran bersama.
Kepala Balai Besar KSDA Jawa Timur, Ir. Nur Patria Kurniawan, S.Hut., M.Sc., menegaskan bahwa Smart Patrol merupakan instrumen penting dalam menjaga keberlanjutan kawasan konservasi melalui pengambilan keputusan yang didasarkan pada fakta lapangan.
"Suaka Margasatwa Pulau Bawean merupakan benteng terakhir bagi berbagai spesies endemik yang hanya dapat dijumpai di pulau ini. Karena itu, setiap informasi yang diperoleh melalui Smart Patrol memiliki arti strategis dalam menjaga keseimbangan ekosistem sekaligus menjadi dasar pengambilan keputusan pengelolaan kawasan yang lebih adaptif," ujarnya.
Menurut Nur Patria, keberhasilan konservasi tidak hanya ditentukan oleh kemampuan mendeteksi gangguan, tetapi juga oleh kemampuan membangun kolaborasi dengan masyarakat sebagai mitra utama dalam menjaga kawasan.
"Konservasi sesungguhnya adalah membangun kepercayaan. Ketika masyarakat, pemerintah, dan pengelola kawasan memiliki tujuan yang sama untuk menjaga alam, maka perlindungan keanekaragaman hayati akan menjadi jauh lebih kuat. Jalan tengah yang kita tempuh adalah mengedepankan ilmu pengetahuan, komunikasi konservasi, kemitraan, dan penegakan hukum secara profesional sesuai ketentuan yang berlaku. Dengan cara itulah kita memastikan Pulau Bawean tetap menjadi rumah yang aman bagi keanekaragaman hayatinya sekaligus memberikan manfaat bagi generasi sekarang dan yang akan datang," tegasnya.
Smart Patrol kali ini kembali menegaskan bahwa konservasi bukan sekadar menjaga tegakan hutan atau menyelamatkan satwa liar. Konservasi adalah upaya menjaga hubungan yang seimbang antara manusia dan alam melalui ilmu pengetahuan, kehadiran petugas di lapangan, partisipasi masyarakat, dan pengelolaan yang adaptif.
Di Pulau Bawean, dua wajah itu masih terlihat jelas, tentang kehidupan yang terus bertahan dan berbagai tekanan yang masih mengintai. Jalan tengahnya bukan memilih salah satu, melainkan memastikan keduanya dijawab melalui kolaborasi, data ilmiah, dan komitmen bersama untuk menjaga warisan keanekaragaman hayati Indonesia.
Penulis : Fajar Dwi Nur Aji - PEH Ahli Muda
Editor : Agus Irwanto
Sumber : Bidang KSDA Wilayah II Gresik
Komentar (0)
Tinggalkan Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!



