Sikep Madu Asia Mengiringi Survei Pakan Alami Lutung Jawa

Agus Irwanto
Sikep Madu Asia Mengiringi Survei Pakan Alami Lutung Jawa

Pasuruan - Langit pagi yang membentang cerah di atas Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Baung, seolah menyambut langkah tim Balai Besar KSDA Jawa Timur bersama peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), 2 Juli 2026. Sejak matahari mulai menyinari lereng-lereng berhutan, tim menyusuri jalur-jalur alami kawasan konservasi untuk melaksanakan kegiatan "Membangun Basis Data Pakan Alami Lutung Jawa (Trachypithecus auratus) melalui Observasi dan Analisis e-DNA Feses sebagai Dasar Reformulasi Pakan Pendukung Program Rehabilitasi Javan Langur Center". 

Survei tersebut merupakan bagian dari upaya ilmiah untuk memahami preferensi pakan alami Lutung Jawa melalui pendekatan observasi lapangan yang dipadukan dengan analisis environmental DNA (e-DNA) dari sampel feses. Informasi tersebut diharapkan menjadi dasar penyusunan formulasi pakan yang lebih mendekati kondisi alami sehingga dapat meningkatkan keberhasilan rehabilitasi dan pelepasliaran Lutung Jawa di masa mendatang.

Di tengah kesibukan melakukan pengamatan vegetasi dan perilaku satwa, tim menjumpai dua individu Lutung Jawa yang tengah beraktivitas di tajuk pohon. Seekor induk terlihat menggendong anaknya dengan erat, melompat perlahan dari satu cabang ke cabang lainnya sambil sesekali berhenti memilih pucuk daun muda sebagai sumber pakan. Pemandangan tersebut menjadi potret nyata hubungan yang begitu erat antara satwa liar dengan hutan yang menopang kehidupannya.

Namun, perhatian beralih ketika dua siluet besar muncul dari arah timur. Tanpa suara, dua ekor Sikep Madu Asia (Pernis ptilorhynchus) melayang tinggi memanfaatkan arus udara hangat yang mulai terbentuk di atas lereng Gunung Baung. Sayapnya terbentang lebar, nyaris tanpa kepakan, membentuk lingkaran-lingkaran halus di langit biru sebelum perlahan menghilang di balik punggungan hutan.

Perjumpaan singkat tersebut menyimpan makna ekologis yang jauh lebih besar daripada sekadar melihat seekor burung pemangsa.

Sikep Madu Asia merupakan salah satu raptor migran yang setiap tahun melakukan perjalanan ribuan kilometer mengikuti perubahan musim. Populasi yang berkembang biak di Jepang, Semenanjung Korea, Tiongkok bagian timur hingga Siberia selatan, akan bergerak ke kawasan Asia Tenggara ketika musim gugur dan musim dingin tiba. Indonesia, termasuk Pulau Jawa, menjadi salah satu wilayah persinggahan sekaligus tempat menghabiskan musim non-berbiak sebelum mereka kembali ke utara pada awal musim semi.

Perjalanan panjang tersebut bukanlah penerbangan tanpa arah. Sikep Madu Asia memanfaatkan bentang alam pegunungan dan kawasan berhutan yang mampu menghasilkan arus udara termal. 

Arus udara hangat inilah yang memungkinkan burung pemangsa tersebut melayang dalam waktu lama dengan energi yang sangat efisien. Lereng Gunung Baung yang masih berhutan menyediakan kondisi mikroklimat yang mendukung terbentuknya fenomena tersebut, sehingga kawasan ini berpotensi menjadi salah satu koridor alami yang digunakan raptor migran saat melintasi Pulau Jawa.

Keberadaan Sikep Madu Asia juga mencerminkan kualitas ekosistem yang masih terjaga. Berbeda dengan elang pada umumnya yang memangsa mamalia kecil atau reptil, spesies ini memiliki kebiasaan makan yang unik. Sesuai namanya, makanan utama Sikep Madu Asia adalah larva lebah, tawon, dan berbagai serangga sosial lainnya. 

Paruh yang kokoh, cakar yang kuat, serta sisik tebal di sekitar wajah merupakan adaptasi khusus untuk membongkar sarang lebah tanpa mudah terluka akibat sengatan. Peran ekologisnya membantu menjaga keseimbangan populasi serangga di dalam hutan.

Pengamatan terhadap satwa migran seperti Sikep Madu Asia menjadi informasi yang sangat berharga bagi pengelolaan kawasan konservasi. Kehadirannya menunjukkan bahwa TWA Gunung Baung tidak hanya berfungsi sebagai habitat bagi satwa liar penghuni tetap seperti Lutung Jawa, tetapi juga menjadi bagian dari jejaring ekologis internasional yang menghubungkan berbagai negara melalui jalur migrasi burung pemangsa.

Fenomena tersebut memperlihatkan bahwa sebuah kawasan konservasi memiliki nilai yang melampaui batas administratif. Hutan yang terjaga di lereng Gunung Baung tidak hanya memberi kehidupan bagi flora dan fauna lokal, tetapi juga menjadi bagian dari mata rantai perjalanan satwa yang menempuh ribuan kilometer melintasi benua.

Di sisi lain, penelitian mengenai pakan alami Lutung Jawa yang sedang dilaksanakan semakin menegaskan pentingnya pendekatan ilmiah dalam pengelolaan konservasi. Memahami jenis tumbuhan yang dikonsumsi, kandungan nutrisinya, hingga mikroorganisme yang teridentifikasi melalui analisis e-DNA akan memberikan dasar ilmiah yang kuat dalam menyusun strategi rehabilitasi satwa yang lebih adaptif terhadap kondisi alam.

Pagi itu, langit Gunung Baung menghadirkan dua kisah yang saling melengkapi. Di bawah rimbunnya tajuk hutan, seekor induk Lutung Jawa menggendong generasi penerusnya sambil mencari sumber pakan alami. 

Di atas kanopi, dua individu Sikep Madu Asia melanjutkan perjalanan panjangnya melintasi bentang Asia. Keduanya menjadi pengingat bahwa setiap kawasan konservasi adalah ruang kehidupan yang menghubungkan berbagai spesies, berbagai ekosistem, bahkan berbagai negara.

Melalui kegiatan penelitian kolaboratif antara Balai Besar KSDA Jawa Timur dan BRIN, diharapkan semakin banyak informasi ilmiah yang dapat menjadi dasar pengelolaan kawasan konservasi secara adaptif. Sebab, menjaga hutan tidak hanya berarti melindungi pohon dan satwa yang tampak hari ini, tetapi juga memastikan bahwa pengembara langit seperti Sikep Madu Asia akan selalu menemukan langit yang aman untuk dilintasi, dan Lutung Jawa akan terus menemukan hutan yang layak untuk diwariskan kepada generasi berikutnya.


Penulis : Fajar Dwi Nur Aji - PEH Ahli Muda

Editor : Agus Irwanto


19 views
0 komentar
0 shares
Rating:

Komentar (0)

Tinggalkan Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!

Artikel Terkait