10.000 Mangrove Untuk Pesisir Bawean

Agus Irwanto
10.000 Mangrove Untuk Pesisir Bawean

Bawean - Sebuah bibit mangrove mungkin tampak kecil di tangan manusia. Namun ketika 10.000 bibit ditanam bersama, yang sedang dibangun bukan sekadar hamparan vegetasi baru, melainkan benteng alami yang akan menjaga pesisir, menopang kehidupan laut, sekaligus menjadi warisan bagi generasi mendatang.

Semangat itulah yang mewarnai kegiatan Penanaman 10.000 Bibit Mangrove dalam rangka memperingati Hari Mangrove Sedunia yang diselenggarakan di Pendopo Pokmaswas Hijau Daun, Desa Daun, Kecamatan Sangkapura, Pulau Bawean, 1 Juli 2026. Meskipun peringatan Hari Mangrove Sedunia secara internasional diperingati setiap tanggal 26 Juli, kegiatan ini dilaksanakan lebih awal sebagai bentuk penyesuaian jadwal kolaborasi berbagai pihak, tanpa mengurangi makna dan semangat pelestarian yang diusung.

Kegiatan ini menjadi wujud nyata sinergi antara pemerintah, dunia usaha, masyarakat, akademisi, dan generasi muda dalam menjaga keberlanjutan ekosistem pesisir Pulau Bawean. Hadir dalam kegiatan tersebut PT PLN Nusantara Power Unit Pelaksana Gresik, PLN ULP Bawean, Forkopimcam Sangkapura, Dinas Pariwisata, Dinas Perikanan, IPPP Bawean, Pemerintah Desa Daun, dan Balai Besar KSDA Jawa Timur melalui Resort Konservasi Wilayah 09 Gresik–Bawean. Juga, Pokmaswas Hijau Daun, Kelompok Tani Hutan Putra Daun, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Universitas Gadjah Mada dan Universitas Brawijaya, siswa MINU 03 Daun, tokoh masyarakat, serta insan media.

Rangkaian acara diawali dengan pembukaan, dilanjutkan dengan sambutan dari panitia pelaksana yang menjelaskan pentingnya rehabilitasi mangrove sebagai bagian dari upaya menjaga keseimbangan ekosistem pesisir. Dalam kesempatan tersebut juga disampaikan bahwa pelaksanaan kegiatan dimajukan dari jadwal peringatan internasional agar dapat menyesuaikan berbagai agenda kolaboratif yang telah direncanakan.

Camat Sangkapura dalam sambutannya menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam kegiatan ini. Ia menekankan bahwa keberhasilan rehabilitasi mangrove tidak diukur dari banyaknya bibit yang ditanam pada hari pertama, melainkan dari kemampuan seluruh pihak untuk merawatnya hingga tumbuh menjadi hutan mangrove yang sehat dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

Komitmen tersebut diperkuat oleh Manager PT PLN Nusantara Power Unit Pelaksana Gresik yang menegaskan bahwa pelestarian lingkungan merupakan bagian dari tanggung jawab bersama. Dukungan terhadap penanaman mangrove menjadi salah satu bentuk kontribusi perusahaan dalam menjaga keberlanjutan sumber daya alam dan meningkatkan ketahanan ekosistem pesisir

Momentum kolaborasi itu ditandai dengan penyerahan simbolis 10.000 bibit mangrove dari PT PLN Nusantara Power Unit Pelaksana Gresik kepada Camat Sangkapura. Penyerahan tersebut menjadi simbol bahwa upaya menjaga lingkungan hanya dapat berhasil apabila dibangun melalui kemitraan yang saling menguatkan.

Usai pembacaan doa bersama, seluruh peserta bergerak menuju lokasi penanaman. Sepatu dan kaki yang mulai tenggelam dalam lumpur menjadi bagian dari cerita hari itu. Di hadapan bentangan laut Bawean, satu demi satu bibit mangrove ditanam dengan harapan yang sama: agar akar-akarnya kelak mengikat sedimen, meredam gelombang, menahan abrasi, menyerap karbon dari atmosfer, serta menjadi rumah bagi kepiting, ikan, udang, burung air, dan berbagai kehidupan lain yang bergantung pada ekosistem pesisir.

Mangrove merupakan salah satu ekosistem paling produktif di dunia. Di wilayah kepulauan seperti Bawean, keberadaannya memiliki arti yang jauh lebih besar daripada sekadar deretan pohon di tepi pantai. Hutan mangrove menjadi benteng alami yang melindungi garis pantai dari hempasan ombak, menjaga kualitas perairan, menyediakan daerah asuhan bagi berbagai biota laut, sekaligus berkontribusi dalam mitigasi perubahan iklim melalui kemampuannya menyimpan karbon dalam jumlah besar.

Pelestarian ekosistem pesisir merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari upaya menjaga keanekaragaman hayati secara menyeluruh. Kawasan pesisir, hutan mangrove, padang lamun, dan terumbu karang saling terhubung membentuk satu sistem kehidupan yang menopang keberadaan berbagai jenis flora dan fauna serta mendukung kesejahteraan masyarakat pesisir.

Karena itu, penanaman mangrove bukanlah garis akhir dari sebuah kegiatan seremonial, melainkan langkah awal dari proses panjang yang membutuhkan pemeliharaan, pengawasan, dan keterlibatan seluruh elemen masyarakat. Bibit yang ditanam hari ini baru akan menunjukkan manfaatnya beberapa tahun mendatang, ketika batangnya menguat, tajuknya menaungi pesisir, dan akarnya menjadi pelindung alami pulau.

Semangat kolaborasi tersebut akan terus berlanjut. Pada Kamis (2/7), rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan Seremonial Pemasangan 20 Rak Struktur Transplantasi Terumbu Karang di Perairan Noko Gili, Desa Sidogedungbatu, Kecamatan Sangkapura. Jika mangrove menjaga kehidupan dari daratan, maka terumbu karang menopang kehidupan dari bawah permukaan laut. Keduanya adalah bagian dari satu ikhtiar yang sama: memastikan pesisir Bawean tetap hidup, tangguh, dan lestari.

Sebab pada akhirnya, menjaga pesisir bukan hanya tentang menanam pohon atau memulihkan karang. Ini adalah tentang merawat ruang hidup, tempat alam dan manusia saling bergantung. Di Pulau Bawean, 10.000 bibit mangrove yang ditanam hari ini adalah pesan sederhana bahwa masa depan selalu dimulai dari kesediaan untuk menanam harapan.

10.000 bibit mangrove yang ditanam hari ini adalah pesan sederhana bahwa masa depan selalu dimulai dari kesediaan untuk menanam harapan.


Penulis : Fajar Dwi Nur Aji - PEH Ahli Muda 

Editor : Agus Irwanto

Sumber : Bidang KSDA Wilayah II Gresik


18 views
0 komentar
0 shares
Rating:

Komentar (0)

Tinggalkan Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!

Artikel Terkait