Pelajaran Bagi Wanala UNAIR Dalam Mengenal Dunia Nokturnal Pulau Bawean

Di tengah heningnya Blok Teneden Suaka Margasatwa Pulau Bawean, sembilan mahasiswa WANALA Universitas Airlangga tidak hanya belajar mengenali herpetofauna, tetapi juga memahami etika, keselamatan, dan filosofi penelitian di kawasan konservasi
Bawean - Hutan memiliki dua wajah. Pada siang hari, cahaya matahari menembus tajuk pepohonan, memperlihatkan aktivitas burung, kupu-kupu, dan berbagai satwa diurnal yang mencari makan. Namun ketika senja perlahan menghilang, lanskap yang sama berubah menjadi panggung kehidupan bagi satwa-satwa nokturnal.
Suara jangkrik dan katak menggantikan nyanyian burung. Sementara reptil, amfibi, hingga mamalia malam mulai keluar dari persembunyiannya.
Perubahan ritme alam inilah yang menjadi pengalaman baru bagi sembilan mahasiswa yang tergabung dalam Mahasiswa Pecinta Alam (Wanala) Universitas Airlangga pada 22 Juli 2026 malam. Bersama petugas Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Timur, mereka menyusuri Blok Teneden, Suaka Margasatwa Pulau Bawean, untuk mengikuti pengamatan satwa malam sebagai bagian dari rangkaian pendidikan lapangan Karsa Lestari Bawean.
Bagi sebagian besar peserta, malam itu merupakan pengalaman pertama melakukan survei satwa nokturnal di habitat alaminya. Berbekal lampu kepala dan peralatan pengamatan, mereka berjalan perlahan mengikuti arahan petugas kawasan.
Setiap langkah dilakukan dengan penuh kehati-hatian. Cahaya lampu diarahkan secukupnya ke jalur setapak, serasah daun, batang pohon, hingga tepian aliran air yang menjadi habitat berbagai jenis reptil dan amfibi.
Di kawasan konservasi, malam bukanlah waktu yang sunyi. Justru pada saat itulah ada kehidupan lain yang mulai bergerak.
Belum lama perjalanan dimulai, sebuah peristiwa tak terduga menghentikan langkah rombongan. Di tengah pencahayaan yang terbatas, salah seorang petugas BBKSDA Jawa Timur nyaris menginjak seekor Ular Weling (Bungarus candidus) yang sedang melintas tenang di atas serasah daun dan bebatuan. Kejelian petugas membaca kondisi jalur membuat langkah itu spontan terhenti hanya beberapa saat sebelum kaki menyentuh tubuh ular.
Suasana seketika berubah hening.
Bagi sembilan mahasiswa, momen tersebut menjadi pengalaman yang mencengangkan. Sebagian besar baru pertama kali melihat ular weling secara langsung di habitat alaminya, terlebih dalam situasi yang begitu dekat. Rasa terkejut bercampur kagum memenuhi raut wajah mereka. Namun kepanikan tidak pernah terjadi.
Dengan tenang, petugas segera meminta seluruh peserta menghentikan langkah, menjaga jarak aman, dan tetap diam agar satwa tersebut dapat melanjutkan pergerakannya secara alami tanpa merasa terganggu. Peristiwa yang berlangsung hanya beberapa detik itu kemudian berubah menjadi pelajaran yang tidak akan pernah terlupakan.
Petugas menjelaskan bahwa pengamatan herpetofauna di malam hari tidak hanya membutuhkan kemampuan mengenali jenis satwa, tetapi juga kewaspadaan penuh terhadap setiap pijakan. Di habitat alami, manusia bukanlah pusat kehidupan. Justru manusialah yang sedang memasuki ruang hidup satwa liar sehingga setiap langkah harus dilakukan dengan penuh kesadaran dan rasa hormat terhadap seluruh makhluk yang ada di dalamnya.
Ular Weling kemudian dijelaskan sebagai salah satu reptil nokturnal yang berperan penting menjaga keseimbangan ekosistem melalui fungsinya sebagai predator alami. Karena itu, setiap perjumpaan dengan satwa liar harus disikapi dengan tenang, tanpa upaya menangkap, mengusir, ataupun mengganggu perilaku alaminya.
Bagi para mahasiswa, inilah pelajaran yang sesungguhnya. Mereka menyadari bahwa penelitian di kawasan konservasi tidak dimulai ketika berhasil menemukan satwa, melainkan ketika mampu menjaga keselamatan diri, menghormati habitat, dan memahami bahwa setiap makhluk hidup memiliki ruang yang sama untuk menjalankan perannya di alam.
Penulis : Fajar Dwi Nur Aji - PEH Ahli Muda
Editor : Agus Irwanto
Komentar (0)
Tinggalkan Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!



