Di Batas Senja, Setetes Nira Dan Harapan Yang Tumbuh Di Suaka Margasatwa Pulau Bawean

Agus Irwanto
Di Batas Senja, Setetes Nira Dan Harapan Yang Tumbuh Di Suaka Margasatwa Pulau Bawean

Gresik - Langit perlahan berubah jingga ketika Tim Resort Konservasi Wilayah (RKW) 09 Gresik–Bawean - Balai Besar KSDA Jawa Timur menapaki jalan pulang dari Blok Gunung Besar, Suaka Margasatwa Pulau Bawean (21/07/2026). Seharian mereka menyusuri kawasan untuk melakukan kegiatan evaluasi hasil pemulihan ekosistem, memastikan setiap bibit yang ditanam mampu bertahan dan tumbuh di habitat alaminya.

Hasil evaluasi membawa kabar yang menggembirakan. Sekitar 70–80 persen tanaman hasil pemulihan ekosistem menunjukkan tingkat keberhasilan tumbuh yang baik. Capaian tersebut menjadi indikator awal bahwa upaya mengembalikan tutupan vegetasi mulai menunjukkan hasil positif. Pohon-pohon muda yang perlahan membentuk kanopi baru kelak akan menjadi penyedia pakan, tempat berlindung, sekaligus ruang berkembang biak bagi beragam satwa liar yang menjadi penghuni Pulau Bawean.

Namun, sore itu perjalanan pulang menghadirkan pelajaran yang tidak pernah tercatat dalam lembar monitoring vegetasi.

Di tepian kawasan, tim berpapasan dengan para penyadap nira aren yang berjalan pulang dari kawasan penyangga. Potongan bambu berisi nira segar dipikul di bahu, sementara langkah mereka perlahan menuruni lereng mengikuti cahaya matahari yang mulai tenggelam. 

Pemandangan sederhana tersebut menghadirkan sebuah pesan bahwa kawasan konservasi tidak pernah berdiri sendiri. Di sekelilingnya hidup masyarakat yang telah lama menggantungkan sebagian penghidupannya pada hasil hutan bukan kayu yang dipanen secara arif dan lestari.

Momentum itu dimanfaatkan Ferdinan Sebastian, Penyuluh Kehutanan RKW 09 Gresik–Bawean, untuk berdialog dengan para penyadap. Percakapan berlangsung hangat, membahas pentingnya menjaga kelestarian pohon aren, fungsi kawasan konservasi sebagai penyangga kehidupan, serta hubungan yang tidak terpisahkan antara keberlanjutan hutan dengan keberlanjutan sumber penghidupan masyarakat.

Dialog seperti ini sering kali memiliki nilai yang sama pentingnya dengan kegiatan penanaman. Keberhasilan menjaga kawasan bukan hanya ditentukan oleh tumbuhnya pohon-pohon baru, tetapi juga oleh tumbuhnya kesadaran bersama bahwa hutan yang lestari akan terus menghadirkan manfaat ekologis, sosial, dan ekonomi bagi generasi sekarang maupun yang akan datang.

Kegiatan tersebut juga menjadi ruang belajar lapangan bagi mahasiswa Departemen Biologi, Fakultas Sains dan Analitika Data (FSAD), Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya yang sedang melaksanakan kerja praktik. Bersama tim yang terdiri atas Pengendali Ekosistem Hutan, Penyuluh Kehutanan, anggota KPH Bawean Lestari, serta bersama mahasiswa, perjalanan lapangan tidak hanya difokuskan pada evaluasi keberhasilan pemulihan ekosistem, tetapi juga menjadi media pembelajaran mengenai hubungan erat antara kawasan konservasi dengan masyarakat penyangga.

Di sepanjang jalur pengamatan, mahasiswa dikenalkan pada berbagai jenis tumbuhan asli yang digunakan dalam kegiatan pemulihan ekosistem beserta fungsi ekologisnya. Mereka mempelajari bagaimana setiap spesies tumbuhan berkontribusi membentuk struktur hutan, menyediakan sumber pakan, tempat berlindung, lokasi bersarang, hingga menciptakan habitat yang mendukung kembalinya berbagai jenis mamalia, burung, reptil, serangga penyerbuk, dan satwa liar lainnya. 

Dari pembelajaran lapangan tersebut, mahasiswa memahami bahwa keberhasilan restorasi ekosistem tidak semata-mata diukur dari tingginya persentase tanaman yang hidup, tetapi juga dari pulihnya jejaring kehidupan yang bergantung pada vegetasi tersebut.

Lebih dari itu, mereka diajak memahami bahwa konservasi sesungguhnya adalah upaya menjaga keterhubungan. Hubungan antara pohon dengan satwa liar, antara hutan dengan sumber air, antara kawasan konservasi dengan masyarakat penyangga, hingga antara ilmu pengetahuan dengan pengalaman lapangan. Keseluruhan hubungan tersebut membentuk satu ekosistem yang utuh, yang hanya dapat bertahan apabila seluruh komponennya tetap terjaga.

Senja akhirnya menutup hari. Cahaya matahari perlahan menghilang di balik perbukitan Pulau Bawean, sementara para penyadap nira melanjutkan perjalanan pulang dengan hasil sadapan di pundaknya. 

Di saat yang sama, tim membawa pulang sesuatu yang tak kalah berharga, sebuah keyakinan bahwa keberhasilan konservasi tidak hanya lahir dari ribuan bibit yang ditanam, tetapi juga dari setiap ruang dialog yang dibangun, setiap pengetahuan yang diwariskan, dan setiap kesadaran yang tumbuh di tengah masyarakat.

Di batas senja, setetes nira menjadi lebih dari sekadar hasil hutan bukan kayu. Ia menjelma menjadi simbol harmoni antara manusia dan alam, sebuah pengingat bahwa ketika hutan tetap lestari, kehidupan akan terus mengalir, sebagaimana nira yang menetes perlahan dari batang aren, membawa harapan bagi alam dan bagi manusia yang hidup bersamanya.

Penulis : Fajar Dwi Nur Aji - PEH Ahli Muda 
Editor : Agus Irwanto

33 views
1 komentar
0 shares
Rating:

Komentar (1)

Tinggalkan Komentar

Friday Boy

Keren

Artikel Terkait