Karsa Lestari Bawean Menyusuri Jejak Satwa, Menjaga Warisan Nusantara

Pendidikan lapangan yang memadukan riset keanekaragaman hayati, penelitian sosial, kajian sumber air, dan pengabdian kepada masyarakat menjadi ruang belajar bagi generasi muda untuk memahami bahwa konservasi tidak hanya tentang satwa liar, tetapi juga tentang manusia dan masa depan ekosistem
Gresik - Jejak-jejak itu nyaris tak terlihat. Di sela daun-daun yang gugur, pada tanah lembap ditepian sumber air, atau di antara semak yang rapat, tersimpan cerita tentang kehidupan yang selama ini berlangsung tanpa banyak diketahui manusia.
Bekas pijakan rusa, kubangan babi kutil, suara burung yang bersahutan dari tajuk hutan, hingga aliran mata air yang terus menghidupi pulau kecil di utara Jawa, menjadi potongan-potongan informasi yang hanya dapat dipahami melalui kesabaran, ketelitian, dan rasa ingin tahu.
Bagi sebagian orang, memasuki Suaka Margasatwa Pulau Bawean mungkin dipandang sebagai sebuah ekspedisi. Namun bagi enam belas Mahasiswa Pecinta Alam (Wanala) Universitas Airlangga, yang dimulai dari tanggal 18 dan direncanakan selesai pada 23 Juli 2026 itu memiliki makna yang jauh lebih dalam.
Mereka datang bukan untuk menaklukkan alam, melainkan untuk belajar darinya melalui program Karsa Lestari Bawean (Kolaborasi Aksi Riset dan Edukasi Satwa Lestari Bawean). Kegiatan ini tentunya dilaksanakan setelah memperoleh Surat Izin Masuk Kawasan Konservasi (Simaksi) dari Balai Besar KSDA Jawa Timur.
Program tersebut merupakan pendidikan lapangan yang mengintegrasikan penelitian, pendidikan konservasi, dan pengabdian kepada masyarakat. Fokus kegiatannya meliputi penelitian keanekaragaman hayati, pengamatan kondisi sumber daya air, serta kajian sosial masyarakat sebagai bagian dari upaya memahami hubungan antara manusia dan ekosistem.
Hutan sebagai Ruang Belajar
Pulau Bawean merupakan rumah terakhir bagi sejumlah satwa endemik Indonesia. Di pulau seluas sekitar 196 kilometer persegi ini hidup Rusa Bawean (Axis kuhlii) yang berstatus Terancam Punah (Endangered) menurut IUCN, serta Babi Kutil Bawean yang menjadi bagian penting dari kekayaan hayati Indonesia.
Kawasan Suaka Margasatwa Pulau Bawean bukan sekadar bentang hutan tropis. Ia merupakan laboratorium alam yang menyimpan proses-proses ekologis yang terus berlangsung, mulai dari regenerasi vegetasi, dinamika satwa liar, hingga keberlangsungan sumber-sumber air yang menopang kehidupan masyarakat.
Di kawasan inilah para peserta menjalani pembelajaran lanjutan Divisi Penelitian Lingkungan Hidup dan Alam Bebas (PLHAB). Mereka mempraktikkan berbagai metode penelitian lapangan seperti line transect, identifikasi tanda keberadaan satwa (sign count), pengamatan burung, analisis kualitas air, inventarisasi vegetasi, hingga pembuatan plaster cast jejak satwa liar.
Lebih dari Sekadar Ekspedisi
Di sela kegiatan, saat diskusi bersama petugas Resort Konservasi Wilayah (RKW) 09 Gresik–Bawean, Muhammad Nur Fikri Maulana H. menjelaskan bahwa istilah "ekspedisi" sebenarnya tidak sepenuhnya menggambarkan tujuan kegiatan tersebut.
"Pada dasarnya kegiatan ini bukan kami maknai sebagai ekspedisi. Ini adalah pendidikan intermediate atau pembelajaran lanjutan Divisi Penelitian Lingkungan Hidup dan Alam Bebas. Kami menggabungkan penelitian dengan pengabdian kepada masyarakat. Penelitiannya tidak hanya mengenai keanekaragaman hayati, tetapi juga menyentuh aspek sosial masyarakat serta kondisi sumber daya air. Harapannya, peserta tidak hanya belajar mengumpulkan data, tetapi juga memahami hubungan antara manusia, ekosistem, dan satwa liar," ujarnya
Pernyataan tersebut menggambarkan filosofi Karsa Lestari Bawean. Alam tidak dipandang hanya sebagai objek penelitian, tetapi sebagai ruang belajar yang mengajarkan bahwa konservasi hanya akan berhasil apabila ilmu pengetahuan, masyarakat, dan pengelolaan kawasan berjalan beriringan.
Meneliti Alam, Menguatkan Kepedulian
Selama berada di Pulau Bawean, peserta tidak hanya melakukan pengamatan di dalam kawasan konservasi. Mereka juga melaksanakan kegiatan edukasi di SDIT Al Huda Bawean tentang bahaya mikroplastik serta praktek cara melihat mikroplastik dengan alat bantu di akhir acara.
Berbagai materi disampaikan secara komunikatif dengan memanfaatkan media audiovisual, permainan edukatif, dan diskusi interaktif agar nilai-nilai konservasi lebih mudah dipahami oleh generasi muda. Pendekatan ini menunjukkan bahwa keberhasilan konservasi tidak hanya ditentukan oleh banyaknya data ilmiah yang berhasil dikumpulkan, tetapi juga oleh tumbuhnya kesadaran masyarakat untuk ikut menjaga habitat satwa liar.
Yang membedakan Karsa Lestari Bawean dengan banyak kegiatan lapangan lainnya justru terjadi setelah seluruh aktivitas selesai. Setiap hari peserta berkumpul untuk melakukan evaluasi terbuka. Tidak ada keberhasilan yang terlalu dibanggakan, dan tidak ada kekurangan yang ditutupi. Semua pengalaman menjadi bahan pembelajaran bersama.
Dari forum evaluasi tersebut muncul berbagai catatan yang sangat jujur. Sebagian peserta mengakui masih kesulitan menggunakan binokular ketika objek bergerak cepat di tajuk pohon. Ada yang belum maksimal mengatur kamera dan binokular, sehingga menyadari pentingnya penggunaan tripod dan adaptor binokular ke telepon genggam untuk meningkatkan kualitas dokumentasi ilmiah.
Sebagian lainnya mengaku masih mudah kehilangan fokus akibat kelelahan fisik. Ketika perjumpaan satwa menurun, semangat pengamatan ikut menurun. Ada pula yang terlalu sibuk mengoperasikan GPS sehingga kesempatan melakukan pengamatan langsung menjadi berkurang.
Kemampuan membaca tanda-tanda keberadaan satwa juga menjadi perhatian penting. Beberapa peserta menyadari masih kurang peka mengenali jejak satwa, bahkan terdapat kekeliruan dalam mengidentifikasi feses satwa yang semula dikira berasal dari rusa, namun ternyata berasal dari primata. Pengalaman tersebut menjadi pengingat bahwa ketelitian merupakan kompetensi yang harus terus diasah dalam penelitian ekologi.
Evaluasi juga menyentuh aspek etika dan manajemen lapangan, mulai dari komunikasi antar anggota tim, kesiapan perlengkapan, penggunaan logistik secara bijaksana, hingga pembagian peran saat kegiatan seperti pembuatan plaster cast maupun pengamatan burung.
Tidak sedikit pula peserta mengakui bahwa rasa lelah membuat mereka kehilangan konsentrasi, bahkan sesekali tertidur ketika waktu istirahat terbatas. Namun seluruh catatan tersebut tidak dipandang sebagai kegagalan, melainkan sebagai bagian dari proses pembentukan karakter seorang pegiat konservasi.
Budaya evaluasi seperti inilah yang menjadi kekuatan pendidikan lapangan. Setiap kekurangan diterima sebagai peluang untuk memperbaiki diri pada kegiatan berikutnya.
Mempersiapkan Generasi Konservasi
Dalam dunia konservasi, keberhasilan tidak hanya diukur dari jumlah satwa yang berhasil dijumpai atau banyaknya data yang berhasil dikumpulkan. Keberhasilan juga diukur dari lahirnya manusia-manusia yang mampu bekerja secara ilmiah, menjunjung etika penelitian, menghormati kawasan konservasi, serta memiliki kepedulian terhadap masyarakat yang hidup berdampingan dengan alam.
Melalui Karsa Lestari Bawean, peserta belajar bahwa konservasi adalah perpaduan antara ilmu pengetahuan, disiplin, kerja sama, dan kerendahan hati untuk terus belajar.
Pengalaman berada di hutan mengajarkan bahwa setiap suara burung memiliki makna, setiap jejak satwa menyimpan informasi, setiap mata air memiliki peran ekologis, dan setiap masyarakat lokal menyimpan pengetahuan yang tidak selalu tertulis dalam buku.
Di saat yang sama, evaluasi yang dilakukan setiap hari membentuk budaya belajar yang menjadi bekal penting bagi para mahasiswa untuk merancang kegiatan yang lebih baik, lebih ilmiah, dan lebih berdampak pada masa mendatang.
Menjaga Warisan Nusantara
Suaka Margasatwa Pulau Bawean akan terus menjadi rumah bagi satwa-satwa endemik yang bergantung pada kelestarian hutan. Namun masa depan kawasan ini juga bergantung pada hadirnya generasi yang memahami bahwa konservasi bukan sekadar pekerjaan, melainkan tanggung jawab bersama.
Karsa Lestari Bawean menunjukkan bahwa pendidikan lapangan mampu menjadi jembatan antara ilmu pengetahuan dan aksi nyata. Ketika penelitian dipadukan dengan pengabdian kepada masyarakat, konservasi tidak lagi berhenti sebagai kegiatan akademik, tetapi tumbuh menjadi gerakan yang melibatkan manusia, alam, dan masa depan dalam satu ikatan yang utuh.
Pada akhirnya, jejak yang paling berharga bukanlah jejak rusa di lantai hutan atau jejak babi kutil di tanah yang lembap. Jejak yang sesungguhnya adalah tumbuhnya kesadaran bahwa menjaga keanekaragaman hayati membutuhkan lebih dari sekadar keberanian menjelajah.
Ia membutuhkan kerendahan hati untuk terus belajar, keberanian mengakui kekurangan, serta komitmen untuk memperbaiki diri setiap kali kembali dari hutan. Karena bagi konservasi, setiap langkah di alam adalah pelajaran, dan setiap evaluasi adalah awal dari ikhtiar menjaga warisan Nusantara.
Penulis : Fajar Dwi Nur Aji - PEH Ahli Muda
Editor : Agus Irwanto
Komentar (1)
Tinggalkan Komentar
Boy Goerge
wah anak buah e Hepi iki



