Naluri Liar Tak Pernah Benar-Benar Pergi Meski Lima Tahun Dipelihara

Madiun - Siang itu, suasana di sebuah rumah di Desa Kincang Wetan, Kecamatan Jiwan, Kabupaten Madiun, tampak berbeda. Seekor Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis) akhirnya dimasukkan ke dalam kandang angkut oleh Tim Matawali Balai Besar KSDA Jawa Timur.
Tak ada pengejaran dramatis ataupun penyelamatan yang menegangkan. Yang ada justru sebuah keputusan yang tidak mudah, pemilik memilih menyerahkan satwa yang telah dipeliharanya selama hampir lima tahun.
putusan itu lahir setelah monyet tersebut beberapa kali menunjukkan perilaku agresif hingga melukai pemiliknya. Satwa yang sejak kecil tumbuh di lingkungan manusia perlahan memperlihatkan satu kenyataan yang kerap dilupakan, naluri liar yang tidak benar-benar hilang.
Informasi mengenai keberadaan satwa diterima Tim Matawali Resort Konservasi Wilayah (RKW) 04 Madiun dari seorang warga Desa Kincang Wetan, 7 Juli 2026. Menindaklanjuti laporan tersebut, petugas segera mendatangi lokasi dan melakukan evakuasi secara aman. Seluruh proses berlangsung kondusif berkat kerja sama pemilik yang secara sukarela menyerahkan satwa kepada negara untuk mendapatkan penanganan yang lebih sesuai.
Usai dievakuasi, Monyet Ekor Panjang dibawa menuju kandang transit Bidang KSDA Wilayah I Madiun. Di lokasi tersebut satwa akan menjalani observasi kesehatan dan perilaku sebagai dasar penanganan selanjutnya.
Bagi petugas, evakuasi bukanlah akhir pekerjaan. Di rumah yang sama, mereka menyampaikan penjelasan kepada pemilik mengenai karakter biologis Monyet Ekor Panjang serta risiko memelihara satwa liar. Edukasi serupa kemudian dilanjutkan melalui koordinasi dengan Pemerintah Desa Kincang Wetan agar informasi tersebut dapat diteruskan kepada masyarakat.
Bagi sebagian orang, Monyet Ekor Panjang mungkin tampak mudah beradaptasi dengan manusia. Sejak usia muda, satwa ini dapat mengenali pengasuhnya, menerima makanan dari tangan manusia, bahkan menunjukkan perilaku yang dianggap jinak.
Namun, kedekatan itu tidak mengubah identitas biologisnya sebagai satwa liar. Ketika memasuki fase dewasa, naluri mempertahankan wilayah, dominasi, dan respons terhadap ancaman akan berkembang secara alami. Pada fase inilah konflik dengan manusia sering kali muncul.
Fenomena tersebut menjadi salah satu alasan mengapa pemeliharaan satwa liar tidak pernah dianjurkan. Selain berisiko membahayakan keselamatan manusia, praktik tersebut juga mengurangi kesejahteraan satwa karena memisahkannya dari lingkungan yang membentuk perilaku alaminya.
Peristiwa di Jiwan menjadi pengingat bahwa kasih sayang saja tidak cukup untuk menjadikan satwa liar sebagai hewan peliharaan. Alam telah membentuk mereka dengan kebutuhan ekologis, perilaku sosial, dan naluri yang tidak dapat dihapus oleh waktu maupun kedekatan dengan manusia.
Penyerahan sukarela bukan hanya mengurangi potensi konflik, namun juga menjadi langkah nyata dalam mendukung pelestarian keanekaragaman hayati Indonesia.
Penulis : Fajar Dwi Nur Aji - PEH Ahli Muda
Editor : Agus Irwanto
Sumber : Bidang KSDA Wilayah I Madiun
Komentar (1)
Tinggalkan Komentar
Boy Goerge
semangat orang baik



