Ketika Media Menjadi Jembatan Warga dan Konservasi, Gelombang Radio Selamatkan Satwa

Kediri - Seekor Trenggiling Jawa (Manis javanica) melangkah pelan menembus vegetasi Cagar Alam Besowo Gadungan. Beberapa detik kemudian tubuhnya menghilang di balik semak belukar.
Pelepasliaran itu berlangsung singkat. Namun perjalanan satwa tersebut untuk kembali ke habitatnya bermula dari sebuah keputusan sederhana ketika seorang warga memilih melapor, bukan memelihara.
Di balik kisah itu, terdapat peran lain yang sering luput dari perhatian. Bukan kendaraan patroli, bukan pula peralatan lapangan. Melainkan sebuah saluran komunikasi yang selama puluhan tahun hidup bersama masyarakat: radio.
Rangkaian penyelamatan itu bermula pada malam hari ketika Arif Ibnu Hasan, warga Dusun Mlati, Kecamatan Mojo, Kabupaten Kediri, menemukan seekor Trenggiling melintasi jalan di kawasan perkebunan tebu. Satwa dilindungi tersebut berada dalam kondisi rentan. Jika dibiarkan, ia berisiko terlindas kendaraan atau jatuh ke tangan pihak yang memanfaatkan satwa liar untuk kepentingan perdagangan ilegal.
Arif segera mengamankan satwa tersebut dari badan jalan. Namun langkah berikutnya menjadi penentu. Ia tidak membawa pulang Trenggiling itu untuk dipelihara ataupun diperjualbelikan. Ia memilih menyampaikan informasi melalui Radio Andika Kediri agar laporan tersebut dapat diteruskan kepada instansi yang berwenang.
Informasi itu segera diterima dan diteruskan kepada Tim MATAWALI Resort Konservasi Wilayah 01 Kediri, Seksi Konservasi Wilayah I Kediri, Balai Besar KSDA Jawa Timur. Petugas kemudian melakukan koordinasi dengan pelapor, memberikan edukasi mengenai prosedur penanganan satwa liar dilindungi, serta menindaklanjuti laporan dengan penjemputan satwa.
Trenggiling diserahkan oleh pelapor kepada petugas. Pemeriksaan awal menunjukkan satwa berada dalam kondisi sehat, aktif, dan tidak mengalami luka yang menghambat kemampuannya untuk kembali hidup di alam.
Setelah melalui proses observasi dan penilaian kondisi, pada 7 Juli 2026 petugas melepasliarkan Trenggiling tersebut di kawasan Cagar Alam Besowo Gadungan, habitat yang dinilai sesuai untuk mendukung kelangsungan hidupnya di alam liar.
Pelepasliaran bukanlah akhir dari sebuah pekerjaan. Tahap itu justru menjadi tujuan dari serangkaian proses yang diawali oleh laporan masyarakat, dilanjutkan dengan respons cepat petugas, hingga pengembalian satwa ke habitat alaminya.
Peristiwa di Kediri memperlihatkan bahwa keberhasilan konservasi sering kali bergantung pada kecepatan informasi berpindah dari tangan masyarakat kepada otoritas yang berwenang. Dalam mata rantai tersebut, media memiliki fungsi strategis sebagai penghubung.
Radio Andika Kediri menjalankan peran itu dengan meneruskan laporan masyarakat kepada Balai Besar KSDA Jawa Timur. Bagi warga, radio merupakan media yang mudah dijangkau dan telah lama menjadi ruang berbagi informasi mengenai berbagai peristiwa di sekitar mereka. Dalam kasus ini, fungsi tersebut berkembang menjadi jembatan komunikasi yang memungkinkan tindakan penyelamatan dilakukan secara cepat.
Kolaborasi semacam ini menunjukkan bahwa perlindungan satwa liar bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah. Masyarakat yang memilih melapor, media yang menyebarluaskan informasi secara cepat dan bertanggung jawab, serta petugas yang menindaklanjuti setiap laporan merupakan bagian dari satu sistem yang saling menguatkan.
Kesadaran masyarakat menjadi fondasi utama. Tanpa keputusan pelapor untuk menyerahkan satwa kepada negara, peluang Trenggiling kembali ke habitat alaminya mungkin tidak pernah terwujud. Sebaliknya, tanpa adanya saluran komunikasi yang mampu menghubungkan masyarakat dengan petugas, informasi berharga itu bisa saja terlambat diterima.
Apresiasi disampaikan kepada masyarakat yang telah menunjukkan kepedulian terhadap kelestarian satwa liar, sekaligus kepada Radio Andika Kediri yang selama ini menjadi salah satu mitra komunikasi dalam penyebarluasan informasi konservasi. Sinergi tersebut menjadi modal penting dalam memperkuat upaya perlindungan tumbuhan dan satwa liar di Jawa Timur.
Trenggiling jawa merupakan salah satu mamalia yang dilindungi dan menghadapi ancaman serius akibat hilangnya habitat serta perburuan untuk perdagangan ilegal. Setiap individu yang berhasil diselamatkan dan dikembalikan ke alam memiliki arti penting bagi keberlangsungan populasinya.
Di tengah tantangan konservasi yang semakin kompleks, kisah dari Kediri mengingatkan bahwa penyelamatan satwa tidak selalu diawali oleh operasi besar di tengah hutan. Kadang, semuanya bermula dari satu laporan warga, diteruskan melalui gelombang radio, lalu direspons oleh petugas yang bergerak cepat. Dari rangkaian sederhana itulah seekor satwa mendapat kesempatan kedua untuk kembali menjadi bagian dari alam.
Penulis : Fajar Dwi Nur Aji - PEH Ahli Muda
Editor : Agus Irwanto
Sumber : Bidang KSDA Wilayah I Madiun
Komentar (0)
Tinggalkan Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!



